Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan


Perilaku seksual tidak hanya dilakukan oleh remaja. Namun demikian, sepertinya berita tentang perilaku seksual remaja seolah tidak pernah habis dimuat diberbagai media. Tulisan ini mencoba menjelaskan faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab munculnya perilaku seksual tersebut. Baca selengkapnya di Ruang Psikologi.

Pacaran memiliki banyak fungsi, namun diantara sekian banyak fungsi tersebut pacaran lebih erat kaitannya dengan eksperimentasi seksual. Ingin tahu lebih dalam? Klik di sini untuk baca lebih lanjut.



Pertanyaan bagi pasangan suami-istri: pernahkah Anda mengalami orgasme? Kemungkinan para istri di Indonesia menjawab “belum pernah” masih cukup besar. Hal ini karena masih ada suami yang tidak mempedulikan hak istri dalam merasakan orgasme, atau ketidakmampuan suami untuk membawa istri mereka merasakan orgasme. Cari tahu cara mengatasinya di artikel ini.

Minggu kemarin, terjadi tiga kasus bunuh diri di Surabaya. Kemarin, dua orang mengakhiri hidupnya di dua mall di Jakarta. Menanggapi hal ini, www.ruangpsikologi.com menurunkan artikel yang menjelaskan tentang bunuh diri dan penyebabnya.

Diharapkan dengan informasi ini, kasus bunuh diri dapat dicegah, baik dari kesadaran diri si individu maupun dengan bantuan keluarga dan orang-orang disekitarnya.

untuk membaca artikel lengkap, klik di Ruangpsikologi.com


Kini setelah kami sering menulis pada psigoblog, kami membuat majalah online kami sendiri yang berisikan segala macam tentang dunia psikologi, dengan artikel yang ditulis oleh para penulis psigoblog, dengan konten yang lebih serius dan jauh lebih berisi. Dalam ruangpsikologi kami bertujuan untuk menjembatani antara teori-teori psikologi dengan kehidupan masyarakat, sehingga ilmu psikologi dapat diterapkan dengan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ruangpsikologi juga tidak hanya sekedar webzine, melainkan ‘portal’ bagi masyarakat awam untuk tahu dan terlibat untuk mengetahui ilmu psikologi dan juga sebaliknya. Fitur Teras adalah halaman utama yang menyediakan artikel-artikel faktual yang dibahas dari perspektif ilmu psikologi. Artikel-artikel yang dicantumkan bersifat informatif dari teori psikologi yang ada dan analisis dari fenomena sosial.

Pada Fitur Perpustakaan, disediakan beberapa link dan situs yang dapat menjadi referensi untuk tugas kuliah maupun aplikasi ilmu psikologi dalam dunia pekerjaan, dari area psikologi klinis sampai psikologi industri. Kemudian ada profil penulis Ruang Psikologi zine pada fitur Redaksi. Saran, kritik, serta feedback mengenai ruangpsikologi zine dapat ditulis langsung di halaman redaksi.

Penulis tetap dari ruangpsikologi teradapat 8 orang yaitu : Khrisnaresa Adhitya, Ramadion Syam, Melita Tarisa, Nia Janiar, Tazki Edelia, Nova Ariyanto, Laura Lois dan Amarilldo Rizkia. Selain dari mereka terdapat juga penulis tamu yang merupakan para pelaku dalam bidang psikologi.

Tema artikel yang berubah pada setiap bulannya menjadikan ilmu psikologi tidak lagi dilihat hanya sebagai sebuah ilmu yang dipelajari oleh mereka yang berkacamata tebal, namun pada kenyataannya psikologi menjadi suatu pengetahuan umum yang akan membuat hidup menjadi lebih hidup.

Ok, meluncur saja langsung ke RuangPsikologi.com.

Jaya Selalu Psikologi Indonesia!!

www.ruangpsikologi. com goes online!

Perjuangan panjang selama satu tahun bersama Psigoblog (Psikologi Goes Blogging) akhirnya berakhir. Namun, ini bukan akhir yang buruk, sebab hari ini dengan semangat dan berani kami luncurkan format baru dari Psigobglog, www.ruangpsikologi. com !

Dengan format webzine, www.ruangpsikologi. com membahas isu-isu sehari-hari sampai berita terkini dari sudut pandang psikologi dalam bahasa yang mudah dan populer. Mengedukasi masyarakat, baik awam maupun yang telah akrab dengan dunia psikologi, menjadi tujuan kami para mahasiswa, pemrakarsa webzine ini.

Menyambut Pemilu Presiden yang tinggal dalam hitungan hari lagi, kami sajikan kontribusi kami untuk masyarakat lewat artikel-artikel bertemakan kepemimpinan yang tersedia di Teras www.ruangpsikologi. com , yaitu:

· “Meramu Pemimpin Ideal” oleh Tazkia Edelia, yang membahas dua tipe pemimpin serta tipe manakah yang paling tepat untuk sebuah bangsa.

· “Karakteristik Penting Bagi Calon Presiden” oleh Ramadion, yang membahas karakteristik- karakteristik pemimpin yang dimiliki oleh para presiden Amerika Serikat yang menang pada pemilihan umum.

· “Voting Behaviour oleh Johannes Hans Aoer, penulis tamu kali ini, yang secara ringkas dan apik menyajikan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilih dalam memberikan suaranya pada pemilu.

· Dan masih banyak lagi.

Semoga kontribusi dari kami kali ini dapat membantu dalam mensukseskan Pemilu Presiden 2009!

Nah, maka itu klik www.ruangpsikologi. com sekarang dan selamat menikmati sajian selengkapnya dari kami !


Philip Zimbardo, dalam penelitiannya tentang mengapa orang baik dapat berubah menjadi jahat dan sebaliknya, menemukan bahwa ada dua faktor utama yang mendasari hal tersebut, yakni:

1. Disposisi (dapat dikatakan sebagai kepribadian bawaan seseorang)
2. Situasi (situasi tertentu dapat membuat orang menjadi jahat atau baik)
3. Sistem (Politik, ekonomi, dll yang menciptakan suatu situasi yang dialami orang-orang)
Dari ketiga hal tersebut, peneliti psikologi terdahulu masih yakin bahwa seseorang memiliki sifat jahat dikarenakan mereka memang memiliki 'bibit' jahat sedari lahir. Namun Zimbardo menemukan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menemukan bahwa faktor lingkunganlah yang lebih besar dalam membuat seseorang menjadi jahat. Pada tahun 1970an, ia melakukan eksperimen yang berisiko besar mengenai hal tersebut, yaitu "Stanford Prison Experiment".

Dalam eksperimen ini, ia meminta bantuan sukarelawan untuk rela bermain peran sebagai sipir penjara dan narapidananya untuk 2 minggu penuh. Penelitian ini melibatkan orang-orang yang sama sekali tidak punya sejarah masuk penjara atau melakukan tindak kriminal apapun, dapat dikatakan bahwa mereka semua orang baik-baik. Dari awal penelitian, mereka betul-betul diskenariokan sebagai narapidana, mulai dari dijemput di rumah masing-masing dengan mobil polisi dan borgol dari polisi, hingga aturan-aturan di penjara simulasi yang terletak di ruang bawah tanah Universitas Stanford. Hari-hari pertama penelitian berlangsung sesuai perkiraan, namun pada beberapa hari setelah itu, ada kejadian-kejadian di luar dugaan. Para sipir mulai bertindak di luar instruksi dengan alasan 'mendidik' para napi yang tidak disiplin, diikuti dengan reaksi melawan dari napi. Bahkan ada salah satu napi yang sampai tantrum dan akhirnya harus dikeluarkan dari penelitian karena khawatir akan mendapati efek negatif dari eksperimen tersebut. Karena kekacauan yang terus menerus terjadi, penelitian tersebut diakhiri hanya dalam waktu seminggu.

Dari penelitian tersebut, Zimbardo menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan adalah faktor yang sangat kuat dan dominan dalam mengubah seseorang dari baik menjadi jahat ataupun sebaliknya (penemuan yang menentang teori lama bahwa disposisi (kepribadian) seseorang merupakan hal yang dominan dalam merubah tingkah laku seseorang. Dan dari penelitiannya, Zimbardo menawarkan solusi, yaitu Heroism atau 'kepahlawanan' untuk melawan bobroknya sistem dan situasi yang dihasilkan demi kebaikan umat manusia.

Kepahlawanan yang dimaksud bukanlah pahlawan dalam artian Superman atau hal-hal yang mencengangkan lainnya. Yang dimaksud dengan kepahlawanan adalah kepahlawanan dalam artian berani menentang sistem yang buruk dan fokus pada pemecahan situasi yang buruk menjadi baik dengan menjadi sedikit 'devian' atau berbeda dari orang lain. Zimbardo mencontohkan bahwa dalam kasus penjara Abu Ghraib, ada seseorang yang berani mengungkap perlakuan para sipir yang tidak manusia di sana kepada media, yaitu Joe Darby. Ia berani menanggung ancaman-ancaman teror hanya untuk melakukan 'apa yang seharusnya ia lakukan'. Dan itulah yang disebut dengan kepahlawanan oleh Zimbardo yang ia tuangkan dalam bukunya, "The Lucifer Effect".


Philip Zimbardo dalam Ted.com menjelaskan tentang penelitiannya

Bila berkaca pada keadaan negeri kita, dimana banyak pelanggar lalu lintas dan pelanggar hak-hak asasi manusia di depan mata kita, seharusnya kita malu dan kembali berpikir untuk melakukan tindak kepahlawanan. Seperti slogan yang selalu dikatakan oleh teman saya, "Everyone could be a hero, no matter what".

untuk lebih lengkap, dapat kunjungi website resmi Lucifer Effect. (Khrisnaresa)

Secara teoritis, dalam terminologi psikologi kesehatan, stres adalah kondisi di mana individu mempersepsikan adanya kesenjangan antara tuntutan fisiologis maupun psikologis dari lingkungan dengan sumber daya yang dimiliki individu untuk memenuhi kebutuhan tuntutan tersebut.

Tertekan menghadapi tiga buah ujian dalam hari satu yang sama karena merasa belum menguasai bahan;

mengeluh karena harus melakukan rangkaian gerak senam lantai sementara rasanya koordinasi gerak motorik diri tidak mendukung;

tidak percaya diri saat harus memimpin sebuah organisasi; dan

merasa tidak cukup menarik untuk mendapatkan hati gebetan

adalah beberapa contoh implikasi pemahaman stres tersebut. Mudahnya, kita dikatakan sedang stres saat ada stressor (challenging events; tuntutan lingkungan) yang kita nilai tidak cukup terpenuhi oleh kemampuan kita (resources; sumber daya).

Nah, saat stres, apa sih yang kemudian kita lakukan? Mencari pelipur lara, lari dari kenyataan, atau secara heroik menyelesaikan masalah yang menjadi penyebabnya? Pilihan apapun yang Anda ambil, (lagi-lagi) secara teoritis dikenal sebagai coping. Karena stres melibatkan adanya persepsi kesenjangan, maka coping dapat dirumuskan sebagai upaya untuk mengatasi persepsi kesenjangan tersebut. Sebagai sebuah upaya, coping tidak selalu mengarah pada penyelesaian masalah (stressor-nyah). Anda bisa saja "berserah pada Tuhan" dalam menghadapi ujian karena itu membantu Anda merasa lebih mampu menghadapinya. Walaupun itu tidak membuat Anda dalam sekejap menguasai bahan, bukankah ada pepatah "do your best and let God do the rest"?

Dalam coping, Anda dapat melakukannya problem-focused (P), yang menitikberatkan pada upaya pemecahan masalah, dan atau emotion-focused (E), yang menekankan pada regulasi emosi. Berikut adalah beberapa bentuk strategi coping yang dirangkum Folkman dan Lazarus sepanjang penelitian mereka :

1. Planful problem-solving (P), di mana Anda melakukan analisa terhadap situasi untuk mendapatkan solusi dan didukung oleh pengambilan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah. Tahu bahwa Anda akan menghadapi tiga ujian sekaligus di hari Senin, Anda kemudian menimbang-nimbang waktu yang Anda punyai untuk belajar; tingkat kesulitan sekaligus banyaknya bahan tiap ujian untuk dapat menentukan bahan mana yang akan Anda pelajari lebih dulu; proporsi waktu belajar; dan cara belajar apa yang efektif.

2. Confrontive coping (P). Dalam melaksanakan strategi ini, Anda berani untuk melakukan respon yang asertif untuk merubah situasi. Anda melancarkan keberatan pada dosen atau pihak fakultas tentang dilaksanakannya tiga ujian sekaligus dalam satu hari, misalnya.

3. Seeking social-support (P/E). Strategi ini dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah maupun untuk regulasi emosi. Cemas menghadapi keharusan melakukan repertoire senam lantai yang sulit, Anda bisa meminta bantuan seorang teman untuk melatih Anda (P) atau berkeluh kesah pada sahabat (E).

4. Distancing (E) terjadi saat Anda, umumnya secara kognitif, "menjauhi" permasalahan yang Anda hadapi. Entah Anda berusaha tidak memikirkan repertoire senam lantai yang belum dikuasai atau Anda membangun pemahaman, "Ah, itu kan cuma untuk nilai olahraga ajah. Gurunya juga nilai usaha kita, yah, gak pusing lah."

5. Escape-Avoidance (E). Dalam pelaksanaannya, Anda "melarikan diri" dari masalah yang Anda hadapi. Anda dapat melakukannya dengan tenggelam dalam pikiran bahwa masalah tersebut dapat terselesaikan dengan sendirinya atau Anda menyerah latihan senam lantai karena sudah pasrah.

6. Self-control (E) adalah hal-hal yang mencakup pengendalian diri untuk memodulasi emosi. Anda mungkin murah hati memberikan toleransi pada kekurangan anggota organisasi yang Anda pimpin atau bahkan berusaha menutup-nutupi kecemasan Anda memimpin organisasi tersebut.

7. Accepting Responsibility (E). Ketika Anda menyadari posisi dalam permasalahan sekaligus berupaya memperbaiki keadaan. Saat organisasi yang Anda pimpin tidak berhasil mencapai target yang diharapkan (memenangkan suatu kompetisi, misalnya), Anda mungkin saja melihatnya sebagai akibat dari ketidakmampuan Anda melakukan pembagian kerja yang baik. Untuk itu, Anda menerima kekurangan tersebut dan melakukan perbaikan pembagian kerja.

8. Positive reappraisal (E) adalah saat Anda mencoba mendapatkan pemahaman positif dari sebuah masalah. Walaupun Anda patah hati karena merasa tidak cukup menarik sehingga si gebetan tidak memperhatikan Anda, hal tersebut Anda lihat sebagai pengalaman berharga yang mengajarkan sesuatu.

Secara umum, tidak dapat ditentukan strategi manakah yang paling baik untuk mengatasi stres. Bahkan, kita cenderung untuk mengkombinasikan strategi di atas. Sangat mungkin Anda meninggalkan masalah tersebut sejenak untuk menjernihkan pikiran sebelum berkutat menyelesaikannya. Ada begitu banyak varian masalah yang menyebabkan stres yang berbeda-beda dan, tentunya kita pun dapat memilih strategi yang tepat untuk mengatasinya.

Dengan memahami stres sekaligus strategi coping, saya harap hidup Anda menjadi lebih "mudah". Idealnya, kunci-kunci mengatasi stres telah diketahui. Nah, dapatkah Anda mencocokkan kunci-kunci tersebut?

(Melita Tarisa)


Seperti biasa, sabtu dan minggu sore adalah waktu kesenangan saya karena ada acara Nanny 911 dan Super Nanny di Metro TV. Saya suka acara itu karena acara itu memberikan pada saya asupan dari gambaran penerapan psikologi di kehidupan nyata. Tapi, ada satu hal menarik yang baru diperhatikan oleh otak saya yang lambat mencerna informasi pada saat saya nonton acara-acara itu minggu ini: konsep acara yang sedemikian rupa dari acara-acara itu menyebabkan peran antagonis dan protagonis di kedua reality show itu menjadi terbalik.

Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.

Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.

Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.

Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.

Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:
Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.
Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.
Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.

Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.


Halo semua, apa kabar? Saya harap semua dalam kondisi kesehatan yang fit di akhir tahun 2008 ini. Setiap pergantian tahun tentu selalu ada refleksi mengenai apa yang telah terjadi pada hari-hari di tahun terakhir ini. Semua kesalahan, kebahagiaan, kegagalan, kemenangan, ataupun kesempatan, semuanya bergejolak memenuhi tempat di sudut otak penganalisa saya. Setelah mengevaluasi apa yang telah terjadi, yah seperti kebanyakan orang lainnya, saya pun kemudian mencoba untuk membuat resolusi 2009, apa yang akan saya lakukan, dan target-target hidup di tahun mendatang. Lalu saya teringat salah seorang teman yang men-tag saya pada notes-nya di Facebook.

Sekitar minggu lalu, teman saya ini mengutarakan kekhawatiran akan kelulusan yang ada di depan matanya. Melalui tulisannya, ia terlihat ragu apakah ia mampu menghadapi tuntutan bagi seorang S.psi. Oleh karena itu dalam notes-nya yang cukup panjang itu ia menjabarkan list kemampuan yang harus dimiliki Sarjana Psikologi. Saya memang tidak memiliki semua kemampuan yang dituliskan disana, tapi toh saya juga tidak menyukai pekerjaan konvensional dibalik meja. Pemikiran tersebut membawa saya pada pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Sebelum menjawab pertanyaan diatas terlebih dahulu harus memperhatikan beberapa hal penting. Pertama adalah memilih pekerjaan yang cocok untuk diri sendiri. McDonald dan Das (2008) memberikan empat tingkatan dalam pemilihan karir:

  • 1. Self-awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keahlian, kemampuan, kesukaan, nilai, keinginan, lingkungan pekerjaan yang disuka, dan pertimbangan gaya hidup. Misalnya seseorang yang tidak menyukai lingkungan pekerjaan kompetitif akan mempertimbangkan hal tersebut untuk mengambil pekerjaan yang lebih personal dan bebas. Contoh pertanyaan yang menyangkut self-awareness:

· Do I like dealing with members of the public?

· Do I like working alone or in an open-plan office as a part of a team?

· Do I want to work in a busy dynamic workplace, or a less pressured, more sedate environment?

· Do I want to earn a lot of money?

· Do I need autonomy and independence in how I work?

· Do I like a variety of tasks or do I want to be a specialist?

· Do I want to eventually become a manager with lots of responsibilities, or am I happy being a member of a team?

  • 2. Opportunity awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai industri atau organisasi spesifik yang membuatnya tertarik, dan melihat kemungkinan jika ia bisa bekerja ditempat tersebut. Misalnya saya menjadi seorang pelatih lumba-lumba, yah masih mungkinlah secara lumba-lumba dilatih dengan prinsip belajar punishment-reinforcement. ;p
  • 3. Evaluation and decision making: mengevaluasi pilihan karir yang dipilih, membuat daftar pro dan kontra, serta memutuskan tujuan. Misalnya menjadi pelatih lumba-lumba, pro-nya: pekerjaan menyenangkan, tidak terlalu kompetitif, bebas dan personal, lots of fun. Kontra-nya: bau, kemungkinan kecelakaan tinggi karena licin, penghasilan segitu-gitu aja. Nah dari daftar tersebut ditentukanlah kira-kira karir apa yang paling baik buat diri Anda.
  • 4. Taking action: mengidentifikasi langkah-langkah apa saja yang menjadi kebutuhan untuk dapat meraih tujuan karir tersebut, bahkan kalau perlu mengembangkan strategi aktif agar dapat meraihnya. Misalnya: menjadi pelatih lumba-lumba dari sekarang mulai mempelajari reinforcement pada binatang, cari koneksi di Taman Safari atau Gelanggang Samudra, mulai coba-coba dengan melatih anjing, dst.

Mudah-mudahan melalui langkah diatas kita bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita, yang ‘gue banget gitu loch’. ;p Amin.

Sumber:

McDonald, M., Das, M. (2008). What to do with your psychology degree. E-book: McGraw-Hill Education

http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg

Lora




Jika ada yang memperhatikan posting sebelumnya dengan judul yang sama, maka saya hanya memberikan hal pertama yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Nah, pada posting ini saya mencoba memberikan hal penting kedua dari pertanyaan tersebut, yaitu mengetahui seperti apakah sumber daya yang dicari oleh perusahaan. Menurut penelitian Harvey, Moon dan Geall, 139 manajer di Inggris (yah sayangnya di Inggris, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran sedikit untuk kita di Indonesia) mengidentifikasi beberapa keahlian kunci yang mereka cari dari lulusan, antara lain (dalam McDonald & Das, 2008):

1. Intellect – including a range of attributes such as analysis, critique, synthesis and an ability to think things through in order to solve problems

2. Knowledge – understanding the basic principles of a subject discipline, general knowledge, knowledge of the organisation and commercial awareness, although in many organisations knowledge of something is much less important than the ability to acquire knowledge

3. Attitude to learning – a willingness and ability to learn and to continue learning, to appreciate that learning is an ongoing process

4. Flexibility and adaptability – be able to respond to change, to pre-empt change and ultimately lead change

5. Self-regulatory skills – self-discipline, time-keeping, ability to deal with stress, prioritisation, planning, and an ability to ‘juggle’ several things at once

6. Self-motivation – ranging from being a self-starter to seeing things through to a successful conclusion, and including characteristics such as resilience, tenacity, perseverance and determination

7. Self-assurance – including self-confidence, self-awareness, self-belief, self- sufficiency, self-direction and self-promotion

8. Communication – written and verbal, formally and informally, with a wide range of people both internal and external to the organisation

9. Interpersonal skills – the ability to relate to and feel comfortable with people at all levels in the organisation, as well as a range of external stake- holders, to be able to make and maintain relationships as circumstances change

10. Team work – often in more than just one team, and to be able to readjust roles from one project situation to another in an ever-shifting work situation.

Nah setelah mengetahui hal-hal penting akhirnya pertanyaan: “Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?” bisa segera dijawab! Jawabannya:

“BUAAANNYAAAAAAKKK……!”

Hahaha, kebetulan psikologi adalah ilmu yang berhubungan dengan manusia, dan setiap pekerjaan di dunia ini pasti memiliki unsur manusia didalamnya, maka seorang sarjana psikologi memiliki keberuntungan untuk memilih beragam pilihan karir. Bersyukurlah.

Pada penghujung tulisan ini saya ingin menawarkan e-book yang akan dengan senang hati saya share kepada Anda. Judulnya What to do with your psychology degree, didalamnya ada puluhan pilihan karir untuk gelar psikologi lengkap dengan job description, lingkungan pekerjaan, hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dari karir tersebut, keahlian yang dibutuhkan, bahkan ada average salary-nya (hoho tapi dalam poundsterling :P). Cukup membantu bagi para sarjana psikologi yang masih bingung dengan masa depannya ;). Bisa minta sendiri atau melalui e-mail di profile saya. Salam.

Lora


*taken from Flickr by Hellophotokitty
There cannot be true democracy unless women are given the opportunity to take responsibility for their own lives.”(Hillary Clinton)

Kebebasan menentukan pilihan adalah prinsip utama dalam bangun ideal emansipasi perempuan milik saya pribadi. Secara spesifik, prinsip tersebut saya maksudkan begini : perempuan, sebagaimana halnya pria, selayaknya mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Baiknya, perempuan tidak hanya menjadi bentuk “degradasi laki-laki” yang dianggap tidak mampu membuat keputusan untuk menentukan pilihannya, entah karena dinilai terlalu emosional atau tidak rasional. Cermati saja petikan kalimat berikut ini.

[A few years from now, your sole responsibility will be taking care of your husband and children. You may all be here for an easy A, but the grade that matters the most is the grade he gives you.]

Sementara pria dimanjakan oleh ragam pilihan hidup, hingga awal abad 18, peran utama yang ditegaskan oleh masyarakat kepada perempuan adalah sebagai istri dari seorang pria. Jane Austen (1775-1817) mengangkat permasalahan ini lewat tokoh-tokoh perempuan dalam novelnya. Elizabeth Bennet dalam Pride and Prejudice, Emma Watson dalam Emma, serta Elinor dan Marianne Dashwood dalam Sense and Sensibility memberikan gambaraan permasalahan yang utama, kalau bukan satu-satunya, perempuan saat itu : menemukan laki-laki yang tepat untuk membangun pernikahan yang ideal, di mana bobot ketepatan dan ideal digantungkan pada status kebangsawanan dan finansial. Menurut saya, Austen dengan jeli menyelipkan mimpinya akan kebebasan perempuan dengan mempromosikan cinta sebagai nilai dasar sebuah pernikahan, alih-alih status kebangsawanan dan finansial, dalam tulisannya. Harapnya, perempuan menyadari bahwa menikah adalah sebuah pilihan. Lebih indah dengan hadirnya cinta, lebih bahagia bila itu adalah sebuah pilihan bebas.
Bukankah memang soal kebebasan menentukan pilihan ini yang berulang kali diteriakkan oleh perempuan-perempuan revolusioner kepada dunia? Perjuangan perempuan Amerika di pertengahan abad 18 untuk memperoleh hak suara dalam politik di dunianya menunjukkan keinginan perempuan untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya pula. RA Kartini, disela menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, menyadari bahwa perempuan juga mempunyai hak, kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menyadari hal tersebut, ia mengambil kesempatan pendidikan yang dipunyainya dan menciptakan kesempatan yang sama bagi perempuan lainnya : memperjuangkan hak perempuan untuk mendapat pendidikan. Dengan menyadari bahwa kebebasan adalah modal yang dipunyainya, perempuan dapat melihat lebih luas lagi mengenai kesempatan yang tersedia untuknya. Ia dapat menyelami peluang-peluang yang ada, yang tak jarang ia ciptakan sendiri. Bukan semata karena ia harus bebas dari stigma sosial yang ada, melainkan karena itulah tugasnya sebagai manusia!
Sekarang ini, menjadi seorang istri dan ibu memang sudah tidak lagi menjadi pilihan yang wajib diambil oleh setiap perempuan. Perempuan dengan gagahnya telah meruntuhkan sebagian besar tembok kaca yang menghalangi mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia. Konsekuensinya, perempuan dan dunia harus siap untuk menghargai ragam bentuk pilihan yang digenggam oleh perempuan. Tanpa melecehkan, tanpa merendahkan.

[“Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?” “Yes, I’m afraid that you will.” “Not as much as I’ll regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.” “I didn’t say that. I-“ “Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul to her central hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I can do anything I wanted. This is what I want.”]

Saya menantikan hari di mana emansipasi perempuan sungguh terwujud, seperti yang dimimpikan perempuan-perempuan masa lalu yang terkungkung praktik patriarkhi, seperti yang selalu diperjuangkan perempuan-perempuan di pelbagai belahan dunia. Untuk itu, sambil menunggu hari itu tiba, saya akan senantiasa menggunakan kebebasan saya untuk menentukan pilihan hidup saya sendiri. (Gandhi pernah berpesan, ‘Jadilah perubahan yang ingin kau lihat pada dunia’)
Bagaimana dengan Anda? :’)

(Melita Tarisa)

Una Passione da sempre by Polveredifata

Premis utama dalam melakukan analisa tulisan tangan adalah mengenali tulisan sebagai hasil dari pikiran sadar dan bawah sadar manusia yang menggambarkan karakter dasar seseorang. Freud dan Jung, pilar-pilar utama psikodinamika –aliran psikologi yang mengajukan pemahaman akan kesadaran dan ketidaksadaran manusia, menyebutkan bahwa, secara tidak langsung, pikiran bawah sadar kita akan diproyeksikan ke dalam berbagai hal. Tulisan tangan yang merupakan hasil koordinasi gerak motorik halus dan pikiran merupakan salah satu bentuk proyeksi yang menarik untuk dicermati. Bisa dibilang, dengan pemahaman tersebut, analisa terhadap tulisan tangan dapat menghasilkan pemahaman yang memadai akan karakter dasar seseorang.

Selain itu, analisa tulisan tangan dikatakan mampu meramalkan vitalitas seseorang saat menulis, kondisi emosional, dan kecepatan berpikirnya. Menurut penuturan McNichol dalam sebuah artikel di Psychology Today, ada sebuah kasus di mana seorang ahli grafoanalisa dapat menganalisa penyakit jantung yang diderita kliennya berdasarkan kecenderungan si klien untuk menuliskan huruf ’H’ secara terputus. Ahli grafoanalisa tersebut beranggapan bahwa, secara tidak sadar, huruf h (untuk h = heart = jantung) menimbulkan kecemasan tersendiri bagi si klien. Dengan kata lain, fungsi analisa tulisan tangan lebih luas dari ”sekedar” melihat gambaran karakter dasar seseorang.

Dalam melakukan analisa tulisan tangan, dibutuhkan sampel ideal atas tulisan tangan kita. Biasanya, seorang ahli grafoanalisa ataupun ahli analisa tulisan tangan akan meminta sampel tulisan tangan kita di atas sehelai kertas kosong tidak bergaris. Ia kemudian akan meminta kita untuk menulis sekitar 100 kata (target minimal tulisan 10 baris). Beberapa ahli memilih bolpoin sebagai alat tulis baku dalam mendapatkan sampel, tapi ada juga yang mengunggulkan penggunaan pensil. Tulisan kita kemudian akan diamati dengan cermat untuk mengenali karakter dasar, emosi, dan perasaan kita di samping mengamati bagaimana kita menghayati hubungan interpersonal.

Misalnya, pengaturan margin tulisan yang kita lakukan dilihat sebagai bentuk proyeksi dari orientasi pandangan kita akan masa lalu dan masa yang akan datang. Tulisan yang cenderung merapat ke sisi kiri kertas merupakan ciri orang yang larut dalam masa lalu, sementara dekatnya tulisan kita ke sisi kanan kertas adalah penanda kesiapan kita menghadapi masa depan. Selain itu, tinggi rendahnya harga diri kita tergambarkan dalam bentuk, ukuran, dan penempatan huruf kapital dalam tulisan. Kemiringan tulisan pun merupakan salah satu aspek tulisan yang mendapat perhatian guna melihat pola hubungan sosial dengan orang lain (hubungan interpersonal). Apabila tulisan kita cenderung miring ke kanan (derajat kemiringan lebih dari 2˚ bila diukur dengan busur derajat), itu merupakan gambaran bahwa keinginan kita untuk dekat dengan orang lain cukup tinggi. Sebaliknya, bila tulisan kita cenderung miring ke kiri, kita termasuk orang yang secara konsisten menjaga jarak dengan orang lain.

Fungsi analisa tulisan tangan untuk mengenali karakter dasar seseorang inilah yang biasanya dikaitkan dengan psikologi. Aplikasi analisa tulisan tangan dalam psikologi memang dapat ditemukan. Ada psikolog yang menggunakan teknik analisa tulisan tangan untuk mengenali kepribadian dasar kliennya. Namun, perlu dipahami bahwa analisa tulisan tangan sendiri datang dari grafologi, yang mencermati aspek khusus tingkah laku manusia dalam bentuk coretan tangan. Posisi grafologi sendiri tidak berada dalam psikologi. Ia lebih dikenal sebagai parapsikologi. Secara umum, parapsikologi dapat diartikan ”seperti psikologi, tapi sebenarnya bukan.” Karenanya, jangan kecewa jika suatu saat Anda bertemu dengan mahasiswa atau sarjana psikologi (bahkan psikolog sekalipun) dan mereka tidak dapat memenuhi keingintahuan Anda tentang makna dibalik tulisan tangan Anda.

Bagaimana bila Anda sendiri yang mencoba untuk menyelami makna tulisan tangan Anda? (Melita Tarisa)

Catatan :

Setahu saya, di Jakarta, ada sebuah program khusus (semacam kursus) yang ditawarkan bagi Anda yang tertarik untuk mengambil sertifikasi sebagai ahli analisa tulisan tangan. Anda bisa menghubungi Aastikya Clinic (contact person : Karmen Kantaatmadja) via sms/telp. (081511661558) atau email (kkantaatmadja@yahoo.com).

.




Inside and Outside

They need each other

No black without white

No sister without brother

We have no tomorrow

Without today

Speech is not possible

Without something to say

There are no wise ones

Without the fools

The nature of life

Is expressed in the dual

-Simpkins (Tao in Ten, 2002)

Yin-Yang. Feminim-maskulin. Bumi-langit. Baik-buruk. Hitam-putih. Takdir dari hidup, diekspresikan dengan pasangan. Seperti logo yin-yang, hitam putih yang berdempet, didalam hitam terhadap lingkaran kecil putih, didalam putih terdapat lingkaran kecil hitam. Keduanya memiliki esensi berbeda, namun keduanya berbagi esensi yang sama.

Begitu juga dalam keutuhan seorang manusia. Terdapat ketidaksadaran dan kesadaran. Seorang wanita memiliki ketidaksadaran pria (yang dinamakan animus), dan seorang pria memiliki ketidaksadaran wanita (yang dinamakan anima). Setiap orang yang memiliki kekurangan, pasti memiliki kelebihan lain. Setiap topeng pasti memiliki wajah asli (yang mungkin saja bertolak belakang).

Kesadaran akan adanya ketidaksadaran akan membawa kita kepada ’hidup’. Seperti pepatah mengatakan, ’kita tidak akan menghargai tawa, jika tidak ada tangis’, begitu pula diri manusia, tidaklah lengkap tanpa kesadaran akan adanya ’sisi lain’ yaitu ketidaksadaran manusia.

Ketidaksadaran ini bisa dibawa ke kesadaran dengan beberapa cara, misalnya menganalisa mimpi dan mencari arti melalui mitos.

Oleh: Lora


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Sejauh manakah psikologi mempelajari tingkah laku manusia? Sejauh-jauhnya selama topik yang dibicarakan berhubungan dengan manusia! Bukan saja yang kelihatan, melainkan juga yang tidak kelihatan, yang sering dikenal dengan ’ketidaksadaran’. Ketidaksadaran lebih banyak dibicarakan dalam aliran psikoanalisis.

Freud menganalogikan ketidaksadaran sebagai sebuah gunung es. Puncak gunung es yang dapat kita lihat (kesadaran manusia) sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan gunung es yang tidak terlihat dibawah permukaan air (ketidaksadaran manusia). Ingatlah peristiwa Titanic yang menabrak gunung es, sebetulnya kapal tersebut telah berhasil mengelak dari gunung es yang terlihat, namun bagian bawah kapal ternyata menabrak bongkahan es besar yang tidak terlihat dibawah permukaan air. Begitulah alam ketidaksadaran manusia, unseen, unconscious but big yet powerful.

Now the question will be à how powerful is our unconsciousness? Well, at least it is powerful enough to make you do things you actually do not want to do (refer to Insting Kematian Manusia), powerful enough to manipulate our mind of hating self to hating others (refer to The Shadow), powerful enough to hide our True SELF from us.

Ketidaksadaran adalah kekuatan yang besar dalam diri kita. Kebanyakan didalamnya adalah hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang kita benci, hal-hal tidak menyenangkan yang direpresi, dilupakan. Namun dilain pihak ketidaksadaran juga menyimpan suatu harta karun yang jika ditemukan dapat mengantarkan manusia kepada ’pencerahan’ hidup ketika seorang manusia semakin mendekati Self (dengan kapital S) dan dapat menyeimbangkan conscious-unconscious. Untuk itu, seorang manusia harus mengenali dirinya terlebih dahulu.

Menurut Jung, manusia memiliki collective unconsciousness yaitu sebuah ketidaksadaran kolektif, sebuah ingatan masa lalu yang terbawa sejak kita lahir. Ingatan-ingatan itu berisi primordial image (gambaran2 jadul) yang dinamakan archetype. Sebelum melanjutkan tulisan ini, kita harus mengerti konsep archetype terlebih dahulu. Archetype adalah tema-tema yang ada didalam kehidupan manusia. Tema ini mungkin bisa disejajarkan dengan ide Plato mengenai dunia ide. Archetype bisa berupa The Hero, Mother, The Wise Old Man, Anima, ataupun The Shadow.

Jung menyadari ketidaksadarannya berisi archetype ketika pada suatu hari ia sedang mengalami kegundahan didalam hati, ia merenung dan didalam renungannya ada seorang bijak yang memberikan nasihat kepada dirinya, ia menamakan orang tersebut Filemon. Ia merasa Filemon bukanlah dirinya, walaupun jelas sekali bahwa Filemon memberikan nasihat melalui dirinya didalam kesadaran maupun ketidaksadarannya. Kemudian Jung menyadari bahwa orang-tua-yang-bijak ini adalah ingatan kolektif dirinya (ketidaksadaran archetype) mengenai sebuah tema The Wise Old Man. Mungkin kita juga menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dulu ketika saya mengalami stress yang cukup mendalam, mencoba mencurahkan isi hati pada seorang pecandu berpendidikan rendah, and what a surprise, she could gave me the best answer I could ever thought that time! Dalam peristiwa ini, teman saya itu mengeluarkan tema Wise Old Man dari ketidaksadarannya. Sampai-sampai ia berkata, ’ga nyangka juga bisa keluar dari mulut orang yang suka ineks haha.’

We all have those qualities! Suatu kualitas keseimbangan. Seandainya saja kita mencoba untuk lebih aware akan keberadaannya, kita bisa menemukan harta dalam diri. Persona vs Shadow (’kebaikan’ vs ’keburukan’). Anima vs Animus (feminin vs maskulin).

Ternyata keseimbangan ini juga ditemukan didalam literatur dan cerita-cerita masa lalu. Misalnya saja konsep utama dalam Tao yang menggambarkan keseimbangan, Yin Yang. Atau cerita Mahabarata yang mengisahkan pertempuran kebaikan dan kejahatan yang tak pernah berakhir. Begitu pula lah manusia. Mencoba mengerti ketidaksadarannya sebagai salah satu cara menyeimbangkan hidup. Mengenal dan mengerti adanya ‘the opposite’ dari setiap sisi, menjadikan seseorang lebih menghargai kehidupannya. ^^ Sederhananya, ’kita tidak akan pernah menghargai hadirnya seseorang dalam hidup ini jika kita belum pernah merasakan perpisahan’. Kita tidak akan mengenal diri secara utuh jika kita tidak mengenali ketidaksadaran kita.

“We all have the qualities of balance. Awareness of both sides can deliver us to what is called The True Self. Sharpen your consciousness and travel to the unlimited world of YourSelf, OurSelf – for we share the same heritance!”

Oleh: Lora dari berbagai sumber




Mari bermain permainan “membongkar kepribadian teman anda”. Cara memainkan permainan ini adalah dengan melihat lingkungan hidup teman anda. Coba tengok kamar tidur atau meja kerja teman anda, dan silakan membuat kesimpulan mengenai kepribadiannya. Jangan takut salah, karena psikolog Samuel Gosling menemukan bahwa ternyata manusia mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menebak kepribadian orang lain berdasarkan hal-hal yang berada di sekitar orang tersebut. Yang anda butuhkan adalah sedikit latihan (cocokkan tebakan anda dengan kepribadian sebenarnya teman anda, dengan mengkonfirmasi padanya atau pada rekan sejawatnya), dan anda bisa menjadi Sherlock Holmes bagi diri anda sendiri.

Ada dua set dari kumpulan pertanda yang dapat anda jadikan sebagai bahan anda untuk menyimpulkan kepribadian orang. Set yang pertama adalah “identity claims” atau hal-hal yang secara sadar digunakan seseorang sebagai simbol yang menggambarkan dirinya. Sebagai contoh, jika anda suka orang yang pintar, perhatikan taraf kesulitan dari buku-buku koleksi yang ada di kamarnya. Jika anda mencari orang yang lembut, perhatikan jika ada pernak-pernik lucu di meja kerjanya. Jika anda ingin berdekatan dengan orang yang suka bergaul, perhatikan apakah dia menempelkan foto-foto dirinya yang sedang bermain bersama teman-temannya di folder foto facebook-nya atau lihat apakah ada banyak barang-barang pribadi yang dia letakkan di tempat umum (misal, di dalam loker sekolah).

Seperangkat bukti kedua adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah “behavioral residues”, yaitu tanda-tanda kepribadian seseorang yang ditinggalkan secara tak sadar. Kotak CD yang berserakan bisa mengungkapkan selera musik orang tersebut (serta tingkat kerapian si empunya CD). Pemilihan warna-warna yang mendominasi tempat hidup seseorang juga dapat menjadi alat untuk membongkar kepribadian. Selain dari tingkat kecerahan warna (makin cerah, makin ceria), banyaknya variasi warna yang digunakan juga memberi arti tersendiri (jika penampilan seseorang didominasi oleh misalnya, warna pink, kita bisa menebak bahwa dia sedikit bersifat obsesif).

Selain tebakan yang bersifat umum di atas, ada juga tebakan yang lebih didasarkan pada sifat orang tersebut. Concientiousness (kemandirian dalam mengambil keputusan) dapat dilihat dari kondisi ruangan yang bersih dan terorganisir. Openness (kemampuan untuk beradaptasi dengan pengalaman, cara pandang, dan kebiasaan baru) dapat dideteksi melalui pernak-pernik yang unik atau banyaknya buku-buku yang ada di dekat orang tersebut.

Masih membicarakan mengenai menebak sifat seseorang, sifat disiplin dan dapat diandalkan bisa dilihat dari hadirnya ruangan (atau meja kerja) yang bersih dan rapi. Anda juga dapat menebak stabilitas emosi seseorang dari tingkat ke-feminin-an lingkungan teman anda.

Bagaimana? Cukup mudah, bukan? Tata letak, banyaknya barang pribadi, sampai genre dari CD yang ditemukan di meja kerja, kamar, dan profile myspace teman anda memberikan petunjuk mengenai kepribadian teman anda. Silakan anda saling menebak kepribadian dengan teman anda! Kegiatan itu akan menjadi sebuah kegiatan yang cukup menyenangkan dan menambah keakraban. Atau, jika besok-besok ada seseorang yang mengajak anda kencan, anda bisa mengecek dulu kecocokan kepribadiannya dengan kepribadian anda sebelum melangkah lebih jauh. Judge a book by it’s cover! But judge it carefully. (Dion)

“The basic thing is that everyone wants happiness, no one wants suffering. And happiness mainly comes from our own attitude, rather than from external factors.”
Dalai Lama XIII


Hidup berisi ketidakpastian. Namun ada dua hal didalam dunia ini yang pasti, yaitu waktu yang akan terus bergulir dan ketidakpastian itu sendiri. Setiap detik di dunia ini, ribuan bayi lahir, dilain pihak yang tua meninggalkan kenangannya. Manusia bisa memiliki hidup yang sempurna, pendidikan, kesenangan dan cinta, namun manusia pada belahan sosial berbeda merasakan kemiskinan, kelaparan, kesedihan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi esok. Usia manusia tidak pasti, ada yang kalah dalam penyakit, kecelakaan namun ada juga yang berhasil menjalaninya sampai sepuluh dekade lewat. Kesemuanya menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah tujuan hidup manusia?

Banyak pemikir percaya bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia. Kebahagiaan adalah suatu hal yang dipercayai bisa membuat hidup menjadi lebih hidup. Losta masta! Membuat hidup lebih berarti. Tetapi apakah itu kebahagiaan?

Memang kebahagiaan merupakan suatu hal yang abstrak untuk dinalar. Beberapa filosof seperti Hobbes dan Kant juga meragukan penjelasan eksplanatif atas konsep kebahagiaan. Kant mengatakan bahwa manusia tidak bisa membentuk sebuah konsep pasti sebagai kesimpulan dari kepuasan atas perasaan yang disebut kebahagiaan. Bahkan sebagian pemikir lainnya menganggap kebahagiaan adalah konsep sulit yang tidak mungkin diraih oleh umat manusia selama ia hidup.

Aristoteles mengambil salah satu dialog Solon yang mengatakan ‘No one happy until he is death’. Tidak ada manusia yang bisa bahagia, suatu konsep dasar yang diinginkan semua orang, namun konsep tersebut hanyalah keadaan ideal. Sebuah utopia. Nietszche menambah daftar filosof yang pesimistis pada kebahagiaan. Namun seberapa abstrak kebahagiaan beserta konsepnya itu, kebahagiaan tetaplah hal yang sangat diinginkan dan dituntut oleh manusia. Freud dalam bukunya Civilization and Its Discontent menegaskan bahwa lebih jauh lagi manusia berjuang untuk memperolehnya.


‘Apakah Anda bahagia?’

“Ya, saya bahagia.. Tapi akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Tapi kemarin anak saya sakit. Tapi saya belum belajar untuk ujian besok” Apakah Anda bahagia tanpa ‘tapi’? Tidak mungkin seseorang itu bahagia sekaligus tidak bahagia pada suatu waktu tertentu. Sebuah paradox. Pastilah ia bahagia. Atau ia tidak bahagia.

Setiap orang menginginkan kebahagiaan, tidak ada yang menginginkan penderitaan. Sebuah kebahagiaan yang menetap didalam kehidupan dan keseharian dan bukan sekedar pernyataan sesaat. Kemudian pertanyaan yang tertinggal adalah ‘Mungkinkah kebahagiaan itu nyata?’ ‘reachable’? Kemudian bagaimana memperolehnya??

Mungkin jawabannya adalah uang. Beberapa orang menganggap bahwa kebahagiaan sangat berhubungan dengan materi. Semakin banyak harta yang saya miliki, maka semakin bahagia saya. Uang bisa memberikan kesenangan, uang bisa mendatangkan teman, dan yang paling penting adalah uang bisa membeli cinta. Uang adalah kebahagiaan! Benarkah demikian? Mungkin pernyataan ini ada benarnya, dan mungkin beberapa orang akan setuju jika diberikan pernyataan ini, namun apakah uang pasti bisa menyokong hidup bahagia? Dapatkah uang membeli kebahagiaan? Mantan presiden Amerika Serikat, F.D. Roosevelt mengatakan bahwa kebahagiaan bukanlah melulu materi, melainkan kreatifitas dan pencapaian.

Pernyataan Roosevelt puluhan tahun yang lalu ternyata mendekati teori flow dari positive psychology di abad ke duapuluh. Kebahagiaan itu bukan selalu materi, melainkan ketika tercapainya kepuasan diri akan suatu pencapaian diri sejati melalui kreatifitas. Flow dapat dirasakan semua orang dari kegiatannya, apapun itu. Misalnya ketika pianis mengikatkan dirinya pada musik dan memasuki alam tarian pada tuts piano, atau peneliti yang begitu larut dengan rasa ingin tahu mengalahkan detik-detik waktu untuk tetap menyibukkan diri mencari jawaban. Ketika kegiatan apapun menghisap pelakunya masuk, dan membuatnya merasakan perasaan puncak, itulah kebahagiaan! Tidak perlu materi yang banyak untuk mencapai kebahagiaan. Semua orang, apapun kegiatannya!

Jika bukan uang, maka kebahagiaan merupakan hasil dari kemujuran. Kata ‘happy’ dalam bahasa Inggris merupakan turunan dari bahasa Finlandia ‘happ’, yang berarti keberuntungan. Banyak orang merasa bahwa keberuntungan itulah yang membawa kebahagiaan. Hal eksternal, situasi yang baik, orang lain yang berada pada waktu dan tempat yang tepat, kemudian kebahagiaan menjadi ‘hal yang terberi’, nasib yang tidak bisa kita kontrol. Kemudian manusia menunggu kejadian yang akan menjadi akil balik kebahagiaan hidupnya. Apakah nasib betul-betul mempengaruhi kebahagiaan manusia? apakah manusia tidak bisa memperoleh kebahagiaan dengan kekuatannya sendiri?

Tenzin Gyatso, peraih nobel perdamaian, pemimpin spiritual Buddhis yang lebih dikenal dengan nama Dalai Lama, mengatakan bahwa kebahagiaan lebih merupakan hasil dari sikap (attitude) dibandingkan faktor eksternal. Hal ini mengingatkan penulis pada pernyataan Shakespeare, ‘there is nothing good or bad, but thinking make it so’. Tidak ada muatan baik atau buruk, senang atau sedih pada kejadian tertentu. Namun sikap manusialah yang memberikan muatan-muatan penilaian itu. Ketika seseorang mempercayai bahwa faktor eksternal adalah penentu kebahagiaannya, maka ia telah melalaikan suatu kenyataan penting dan mendasar bahwa diri sendirilah yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua pemikiran, perasaan dan tindakan yang dilakukan, bukan orang lain ataupun hal lain.

Berbicara mengenai orang lain, beberapa orang pun berpikir bahwa kebahagiaan itu datang ketika memiliki pasangan. Jadi jika Anda tidak memiliki pasangan, entah itu pacar maupun suami/istri, maka Anda tidak akan bisa mencapai kebahagiaan. Pendapat ini sangat berbahaya, karena jika seseorang terbiasa menganggap bahwa orang lain menyebabkan kebahagiaan pada hidupnya, maka ia juga akan cenderung menyalahkan orang lain ketika terjadi hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Jika demikian, lagi-lagi kita melupakan tanggung jawab diri yang dimiliki untuk menentukan arah hidup kita. Dan bahwa setiap manusia memiliki pilihan untuk menjadi bahagia ataupun sebaliknya.

Buku Relationship for Dummies mengingatkan bahwa kebahagiaan adalah pernyataan subjektif dari keadaan diri, bukan karena orang lain tertentu, kejadian tertentu, barang tertentu, situasi tertentu, melainkan setiap orang bisa bahagia, apapun yang terjadi padanya. Anda, apakah jomblo, menikah, janda, cerai, Anda tetap bisa bahagia, status tidaklah mempengaruhi kebahagiaan! Diri Andalah yang mempengaruhi kebahagiaan Anda!

Banyak hal yang dipercayai sebagai mitos bahagia, namun ternyata kepercayaan-kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahkan terkadang menyesatkan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk meraih kebahagiaannya. Kemudian muncul pertanyaan terakhir yang wajib dipertanyakan pada hati masing-masing pembaca, ‘Bahagiakah Aku?’

(Oleh: Lora)


Foto: Vygotsky (dari tiger.towson.edu), Carl Rogers (dari merlincounseling.com), Howard Gardner ( dari edge.org)



Kita hidup di jaman yang memberikan penghuninya kesempatan terbaik untuk mendengarkan dirinya. Sekarang manusia bisa mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Mulai dari makanan apa yang dia sedang menarik seleranya, lengkap dengan bagaimana cara makanan tersebut dimasak. Pekerjaan apa yang dia inginkan. Sampai, bagaimana cara bagi dirinya untuk mendidik dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Manusia di jaman ini benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengatur hidup dan meraih impiannya. Manusia di jaman ini mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk menjadi bahagia karena dapat menjadi dirinya sendiri.

Kondisi yang membebaskan ini tidak serta merta dimiliki oleh manusia, tapi juga didukung oleh perkembangan teknologi serta –yang lebih penting— perkembangan cara berpikir manusia. Maka, tentu saja pembicaraan mengenai pentingnya mendengarkan diri sendiri harus dimulai dari pembahasan sejarah mengenai bagaimana usaha manusia hingga sampai pada titik di mana mereka menyadari pentingnya mendengarkan diri sendiri. Pembahasan mengenai hal ini penting agar, selain kita mengetahui pentingnya mendengarkan diri sendiri, kita juga menyadari bahwa kondisi yang membuat kita bebas mendengarkan diri sendiri tidak datang begitu saja, tapi telah melalui perjuangan dan pemikiran yang panjang.

Kira-kira, masa di dunia berdasarkan kebebasan manusia untuk mendengarkan diri sendiri dapat dibagi kedalam tiga kategori jaman, yaitu, (1) jaman dimana manusia harus mencocokkan diri dengan dunia sekitarnya, (2) jaman dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri dan mendengarkan diri sendiri, dan (3) jaman dimana manusia mulai menjadi diri sendiri. Ketiga kategori ini adalah hasil observasi pribadi penulis, dan mungkin saja di kemudian hari akan terbukti salah.

JAMAN PERTAMA
Jaman pertama dimulai sejak pertama kali manusia memiliki pekerjaan sampai pada pertengahan abad ke-20 (yang saya maksud abad ke-20 adalah sejak 1900 dan berakhir di tahun 1999). Tentu saya tidak akan membahasnya semenjak masa hanya ada dua pekerjaan di dunia: berburu dan membesarkan anak. Saya hanya akan membahas akhir jaman pertama ini. Dengan memperlakukan peneliti psikologi sebagai seorang sejarawan, menurut saya peneliti yang paling mewakili jaman ini adalah Lev S. Vygotsky (1896-1934).

Vygotsky menemukan bahwa budaya amat mempengaruhi kesuksesan belajar anak. Anak yang sukses adalah anak yang dapat mengikuti keinginan budayanya. Maksudnya, anak yang sukses adalah anak yang dapat bekerja atau menciptakan sesuatu yang dapat diterima oleh budayanya. Anak harus mengikuti tuntutan budayanya. Misal, anak yang hidup di pantai akan sukses jika dia dapat menjadi seorang nelayan atau menciptakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaan sebagai nelayan.

Pada jaman Vygotsky ini, seseorang akan lebih sukses jika mengikuti tuntutan masyarakatnya daripada menjadi diri sendiri. Orang itu beruntung jika tuntutan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Jika tidak, pilihannya adalah menyerah pada tuntutan lingkungan, atau memberontak dan harus berani hidup dalam kategori “tidak sukses”. Jaman ini ditandai dengan adanya kategori pekerjaan yang “sukses” (misal, pengacara, dokter atau insinyur) dan “tidak sukses” (misal, seniman).

JAMAN KEDUA
Tapi kemudian jaman bergerak dan memasuki era baru. Era dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri. Jaman ini diwakili oleh Carl Rogers (1902-1987) dan berkembang di akhir abad ke-20 (1950-an ke atas). Pada jaman ini, Rogers –melalui pengalaman praktek bertahun-tahun— menemukan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan psikologi adalah orang yang menemukan ketidakcocokan antara dirinya (organismic experience) dan gambaran dirinya yang dia dapat dari harapan orang lain (bagian dari self-concept).

Gangguan kesehatan psikologis ini hadir karena tuntutan yang diberikan kepada dia (conditions of worth) membentuk gambaran diri (self-concept) yang berbeda dari siapa dirinya sebenarnya. Dan saat dirinya harus menjalani hidup yang berbeda dari keinginannya, dia tidak merasa bahagia. Tapi, mau tidak mau dia harus menuruti tuntutan lingkungannya (misal, perintah orang tua bahwa untuk jadi sukses, dia harus menjadi dokter dan meninggalkan keinginannya menjadi pelukis) karena dengan menuruti harapan lingkungan, baru dia merasa dihargai oleh lingkungannya.

Jaman ini ditandai dengan manusia yang mulai menerima dirinya sendiri, walau masih dalam bentuk hobi (misal, orang yang merasa memiliki darah seni akan meluangkan waktu dengan melukis atau karaoke). Orang yang bahagia di jaman ini adalah orang yang dapat mendengarkan dirinya sendiri.

JAMAN KETIGA
Jaman ketiga ini berkembang pada awal abad ke-21. Mungkin mereka yang dapat mewakili jaman ini adalah Martin Selligman (peneliti yang membahas mengenai kebahagian diri) dan Howard Gardner (peneliti Multiple Intelligence).

Selligman memaparkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki jika manusia menerima dirinya apa adanya. Konsep ini melahirkan pendekatan Psikologi Positif, yaitu melakukan perubahan pada manusia dengan cara berfokus pada peningkatan kekuatan orang tersebut, daripada memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Hal ini dilakukan karena ditemukannya kenyataan bahwa memperbaiki kekurangan hanya akan memberikan hasil seadanya, sedangkan meningkatkan kekuatan (bakat) seseorang akan melejitkan potensi orang tersebut, padahal kedua usaha tersebut dilakukan dengan tenaga yang sama (saat ini, sudah mulai ada perusahaan di Indonesia yang menerapkan pendekatan ini pada karyawannya).

Pendekatan Psikologi Positif ditopang oleh penemuan Gardner bahwa selain kecerdasan intelektual (kecerdasan yang dikategorikan intelektual adalah logis-matematis), masih ada kecerdasan lain (linguistik, spasial, interpersonal, dll). Dan jika seseorang merasa kuat di kecerdasan yang bukan intelektual, maka –mengikuti prinsip Psikologi Positif— lebih baik orang tersebut berkonsentrasi pada bakatnya daripada memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Jaman ini ditandai dengan makin dihargainya profesi yang tadinya dianggap sebagai profesi yang “tidak sukses” yang disebutkan di atas, serta mulai adanya orang-orang yang berpindah profesi untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan (Carl Rogers sendiri adalah orang yang melepaskan harapan orang tuanya agar dia menjadi seorang petani demi impiannya untuk menjadi praktisi dan peneliti psikologi).

Sebagai penutup, jaman ini adalah jaman dimana menjadi diri sendiri sudah tidak dianggap sebuah pemberontakan, tapi dianggap sebagai sebuah kekuatan. Untuk menyadarinya, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun (lihat saja pergeseran dari “jaman satu” ke “jaman dua” yang memakan waktu lima puluh tahun). Oleh karena itu, kita harus merayakan kemajuan cara berpikir manusia –yang merupakan pertanda terus berlanjutnya evolusi pemikiran— dengan menanyakan pada diri kita “mau jadi apa kita?” dan membiarkan anak kita berkembang sesuai dengan potensinya.


Di masa depan, kemampuan analitis saja sudah tidak cukup bagi seseorang untuk sukses. Seorang pengusaha, atau sebuah perusahaan, juga harus memiliki kemampuan sintesis.

Pengertian kemampuan analitis adalah kemampuan memecah-mecah sebuah masalah atau kebutuhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian mencarikan jawaban kepada masalah-masalah tersebut. Contoh, untuk menjual sebuah produk, pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab adalah yang berkaitan dengan segmen pasar, harga yang sesuai dengan daya beli pasar, keunggulan yang dimiliki dari produk dan lain-lain. Sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dari berbagai elemen yang sebelumnya tidak dianggap berkaitan. Contoh, menyatukan pengetahuan seorang pengacara tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan juri atau hakim dan kemampuan photoshop seorang ahli visual untuk menciptakan barang bukti foto yang menonjolkan (bukan merubah) faktor-faktor yang mempengaruhi tadi.

Kemampuan analitis adalah kemampuan yang dimiliki oleh otak kiri, sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan yang dikuasai otak kanan. Oleh karena itu, di masa depan, orang dengan keunggulan di otak kiri saja sudah tidak terpakai. Yang diperlukan oleh pekerjaan-pekerjaan di masa depan adalah orang dengan keunggulan di otak kiri yang juga mendapat dukungan kuat oleh otak kanan. Ada enam kemampuan otak kanan yang harus dimiliki oleh para pekerja di masa depan (dibahas di bagian dua), yaitu kemampuan membuat desain, kemampuan membuat cerita, kemampuan menciptakan simphoni, kemampuan berempati, kemampuan bermain dan kemampuan menciptakan makna.

Ada tiga hal yang mendukung argumen bahwa di masa depan kemampuan otak kiri saja sudah tidak cukup, yaitu, Asia, Abundance dan Automation.

Asia. Dengan adanya teknologi internet, makin banyak pekerjaan eksekutif di negara maju yang dikirim keluar ke negara berkembang. Contoh, pekerjaan sebagai seorang akuntan. Saat ini, di India sudah banyak akuntan yang memiliki kemampuan setara dengan akuntan di Amerika. Oleh karena itu, banyak perusahaan akuntan yang mengirim permintaan pembuatan laporan keuangan mereka pada tenaga outsource di India. Lalu, pekerja di India cukup meng-e-mail balik pekerjaannya. Gaji para akuntan India ini lebih dari 10 kali lebih murah dari akuntan di Amerika. Oleh karena itu, orang dengan kemampuan analitis di masa depan yang sukses adalah orang yang bukan hanya mengerti sebuah keahlian (misal, akuntansi) tapi orang yang dapat membuat pekerjaan baru dari keahliannya (misal, menjadi pimpinan perusahaan akuntansi yang menggunakan jasa akuntan dari Asia).

Abundance. Saat ini, industri sudah berkembang pesat. Supply lebih banyak dari demand. Sehingga, harga barang menjadi sangat murah karena semua produk harus bersaing jika mau selamat. Lebih jauh lagi, harga produk-produk buatan desainer kini menjadi makin murah. Pembeli kini sudah mulai bergeser dari sekedar mencari fungsi barang, tapi juga mencari barang yang dapat memberikan makna bagi hidup, atau yang sesuai dengan gaya hidupnya. Oleh karena itu, kemampuan untuk membuat barang yang dapat memenuhi kebutuhan akan fungsi (kemampuan otak kiri) saja sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah, selain dapat berfungsi dengan baik, barang yang dapat memberikan dampak emosi atau mempunyai makna bagi si pembeli. Contoh, handphone. Saat ini handphone sudah tidak bersaing di kemampuan fungsional, tapi di kemampuan handphone tersebut mewakili gaya hidup pemiliknya.

Automation. Makin banyak teknologi yang merebut profesi manusia. Software SPSS sudah membuat profesi ahli stastik tidak semisterius dulu. Bahkan, kini kemampuan analisa penyakit dokter di Amerika sudah mulai diambil alih oleh komputer, tentu saja dengan tingkat ketepatan lebih tinggi dari seorang manusia yang masih memiliki emosi. Oleh karena itu, profesional di masa depan bukan hanya orang yang dapat menganalisa, tapi juga dapat menyentuh sisi manusia dari orang yang membutuhkan analisanya. Contoh, karena kemampuan analisa dokter makin digantikan oleh komputer, dokter di masa depan adalah dokter yang dapat menjelaskan hasil analisa komputer dengan kata-kata awam dan penuh empati kepada pasien-pasiennya.

Kemampuan baru ini akan dikuasai jika seseorang memiliki enam kualitas otak kanan yang sudah disebut diatas (design, story, empathy, simphony, play, dan meaning). Seseorang yang memiliki enam kualitas ini akan menjadi seseorang yang high concept (mampu mensintesis) dan high touch (mampu memberikan dampak emosi pada pekerjaannya), dua persyaratan dari pekerja sukses di masa depan yang tak hanya memiliki kemampuan otak kiri, tapi juga kemampuan otak kanan.

p.s.: Bagian dua dari buku ini adalah penjelasan dan argumen lebih lanjut dari enam kualitas di atas, serta berbagai teknik untuk melatih kemampuan tersebut. (Dion)

Secara natural, ternyata manusia bukanlah mahluk yang setia. Tentunya definisi setia yang saya gunakan di sini adalah definisi setia yang sangat ketat, yaitu, benar-benar menutup diri kepada hubungan cinta (romantic relationship), atau hal-hal yang mungkin akan berkembang menjadi hubungan cinta, di luar hubungan yang telah dimiliki. Kenapa saya katakan manusia tidak setia? Karena secara natural, manusia cenderung memperhatikan lingkungannya untuk mencari orang-orang yang potensial untuk menjadi pasangan cintanya, walau pun pada saat itu dia sudah memiliki pasangan.

Nando Pelusi, seorang psikolog klinis, menemukan bahwa manusia seringkali menciptakan ‘asuransi cinta’ bagi dirinya. Yaitu, mendekati atau sekedar memikirkan orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pasangan dirinya, sebagai cadangan jika hubungan yang telah dimiliki manusia itu saat ini kandas. Bahkan, ditemukan bahwa ternyata banyak pemakai jasa layanan pencari pasangan di internet (online dating) sebenarnya sudah berada dalam ikatan pernikahan.

Alasan dari perilaku ini diperkirakan adalah warisan dari evolusi. Manusia, demi memastikan agar dirinya dapat berreproduksi, akan membawa dirinya sejauh mungkin dari kemungkinan tidak memiliki pasangan. Artinya, memiliki ikatan cinta dengan seseorang rupanya tidak cukup untuk membuat seorang manusia merasa aman. Dia tetap merasa harus memiliki ‘jaring pengaman’ andaikata dia terlepas dari hubungan ini.

Hanya saja, memikirkan orang lain (yang mungkin dapat menjadi pasangan anda) saat anda sudah memiliki pasangan, tidak berarti seseorang tidak dapat berkomitmen pada hubungan yang sedang dijalani. Tapi, kedua pasangan harus benar-benar memfokuskan dirinya pada hubungan yang sedang dijalani. Mereka harus secara aktif mencintai pasangannya, dan dapat menerima si pasangan apa adanya. Kalau tidak? Kita mengenal yang namanya selingkuh dan ketidaksetiaan, bukan? Apalagi, kalau mendapat sokongan dari budaya, perilaku poligamilah yang akan terjadi.

Sebagai penutup, Arriaga dan Agnew, peneliti psikologi sosial, mengatakan bahwa salah satu syarat sebuah hubungan dapat dipertahankan saat pasangan itu bertengkar adalah, bahwa orang lain yang berpotensi menjadi pasangan baru tidak “available”. (Dion)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)