Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label analisa. Tampilkan semua postingan

aku bermimpi tentang kita semalam
bersama kita di taman ria
melepas kepergian balon udara jingga tak bertuan
dengan gembira kita tiupkan gelembung-gelembung udara untuk mengantar kepergiannya
namun, apa maksud kepergian balon udara jingga itu kita tak tahu
aku juga tak tahu kenapa kita segembira itu melepas kepergiannya
mungkinkah ia membawa serta kepedihan masing-masing dari kita?
aku tak tahu
tapi aku tahu aku ingat satu hal
kau mengenakan gaun mini berwarna senada dengan sang balon udara
apakah itu artinya sang balon udara belum sepenuhnya membawa kepedihan hatimu?
050908


Puisi ini adalah sebuah fenomenon yang cukup menarik karena menstimulus sebuah pertanyaan dalam diri saya, “benarkah seoranng manusia bisa membaca pikiran orang lain?”.

Puisi ini dikirimkan oleh seorang teman saya (mulai sekarang kita sebut sebagai “P”) kepada temannya yang lain (kita sebut “N”). Isinya cukup jelas, tentang mimpi P pada malam sebelumnya. Di mimpi tersebut, P dan N sedang di taman ria. Mereka merasa gembira saat melepas sebuah balon jingga. Tapi, N ternyata mengenakan gaun berwarna sama dengan balon tersebut.

Setelah P terbangun, dia mencoba untuk mencari tahu arti dari mimpi tersebut. P ingat bahwa akhir-akhir ini, mereka berdua (P dan N) sedang mengalami masa-masa sulit. Tetapi, perlahan P kembali pulih. Begitu juga yang terlihat pada N. Maka, P menyimpulkan bahwa balon udara berwarna jingga tersebut adalah simbol dari masa sulit mereka yang telah meninggalkan mereka. Tetapi, dalam mimpi tersebut, N memakai baju yang serupa dengan balon udara yang menjadi lambang masa sulit mereka. P berpikir, mungkin hal ini juga menandakan sesuatu. Mungkin, dibalik yang terlihat, N masih merasakan kesedihan dari masa sulit yang dia alami dulu. Mungkin N masih belum pulih sepenuhnya sejak meninggalkan masa sulit tersebut.

Kemudian, P pun menulis puisi di atas. Dia lalu mengirimkannya pada N beserta pemikirannya mengenai arti dari mimpi tersebut. Tanpa pernah diceritakan secara langsung oleh N mengenai kesedihan N yang belum pulih, rupanya tebakan P benar. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa P telah membaca pikiran N. Perlu dicatat di sini bahwa P bukanlah seorang mahasiswa psikologi, yang artinya, dia tidak pernah mendapatkan latihan khusus mengenai empati.

Selama beberapa bulan setelah kejadian ini, saya terus memantau mimpi-mimpi yang dimiliki oleh P. Walau dengan teknik observasi dan wawancara informal, saya menemukan bahwa mimpi-mimpi P terkadang cukup tepat dalam menebak kondisi internal orang lain, walau pun banyak juga yang merupakan gambaran dari pandangannya terhadap suatu masalah.
Proses Membaca Pikiran
Apakah yang disebut dengan kemampuan membaca pikiran? Daniel Siegel, seorang psikiater dari UCLA, menganggap kemampuan membaca pikiran sebagai kemampuan untuk mempersepsi isi pikiran orang lain dengan mengartikan petunjuk-petunjuk yang diberikan (baik secara sadar atau pun tidak sadar) oleh orang tersebut. Siegel memberi nama kemampuan ini mindsight, atau kemampuan otak untuk membuat peta dari kondisi mental orang lain. William Ickes dari University of Texas memberikan konsep lain, yaitu Empathic Accuracy, yaitu kemampuan untuk secara tepat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kemampuan membaca pikiran orang lain ini sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita ingat kalau kita kadang menebak mood orang lain sebelum kita meminta sesuatu darinya, ini adalah contoh dari kemampuan membaca pikiran. Tapi, memang tidak mudah untuk membaca pikiran orang lain. Tingkat keakuratan seseorang untuk membaca pikiran orang yang baru pertama kali dia temui adalah 20 persen. Tingkat keakuratan membaca pikrian antar teman baik atau suami-istri adalah 35 persen. Hampir tak ada orang yang memiliki tingkat keakuratan membaca pikiran di atas 60 persen. Tetapi, kemampuan ini adalah kemampuan yang cukup penting dalam kehidupan sosial, dan merupakan kemampuan yang dapat dilatih.

Bagaimana proses P membaca pikiran N? Ada dua pendekatan yang terjadi. Yang pertama adalah melalui bantuan indera. Yang kedua, dengan kemampuan manusia untuk menangkap emosi dari manusia yang ada di dekatnya. Kedua pendekatan tersebut bersifat saling melengkapi. Pada pendekatan pertama, P mendapatkan informasi mengenai kondisi internal N melalui hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera P. Misalnya, P mungkin menangkap maksud dari perkataan-perkataan N yang bersifat tersirat mengenai keadaan dirinya (bahkan yang N sendiri tak sadar bahwa itu adalah sebuah curahan isi hati). P mungkin juga menangkap adanya tanda-tanda kesedihan dari bahasa tubuh atau getaran dan nada suara yang dikeluarkan N. P juga mungkin saja menangkap adanya kesedihan dari ekspresi wajah N (khususnya mata yang sangat ekspresif karena dikelilingi oleh banyak otot yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi emosi).

Pada pendekatan kedua, P mengetahui kondisi N karena P menyamakan frekuensi emosinya dengan N. Manusia memang memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Saat kita mengikuti perkataan, ekspresi, gerak tubuh, dan sikap fisik orang lain, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan, dengan berada di dekat orang lain saja, kita dapat “menangkap” perasaan orang lain dan menyalinnya menjadi perasaan kita sendiri dengan mengubah kondisi fisiologis tubuh kita agar serupa dengan orang tersebut. P mungkin menangkap sinyal emosi sedih yang dikeluarkan oleh N.

Jika diperhatikan, usaha dari menjelaskan fenomenon membaca pikiran yang dialami oleh P didominasi oleh kemungkinan-kemungkinan. Hal ini disebabkan karena P sendiri tidak menyadari bahwa dia telah membaca pikiran N. Informasi-informasi dari indera dan emosi N yang tertangkap bersifat terlalu halus sehingga hanya dapat ditangkap oleh alam bawah sadar P. Sesuai dengan fungsinya, mimpi –- yang menjadi alat penghubung antara alam sadar dan alam bawah sadar— digunakan oleh alam bawah sadar P untuk memberitahukan alam sadar P mengenai apa yang diketahuinya. Akhirnya, alam sadar P pun tahu kalau P telah menangkap kesedihan N.
Kesimpulan
Mungkin konsep “Membaca Pikiran” yang terjadi pada fenomenon P ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh anda (yaitu, kemampuan psychic atau kemampuan superhero di dalam komik Marvel atau DC). Tetapi, sampai saat ini, memang belum ada suatu alat yang dapat mengukur secara tepat apakah seseorang dapat melirik ke dalam pikiran orang lain, sehingga apakah kemampuan itu ada atau tidak di dunia ini masih belum dapat dibuktikan. Dalam kasus P, yang terjadi hanyalah P secara tepat menangkap sinyal-sinyal hasil sampingan dari pikiran otak, dimana kemudian P dapat secara tepat merekonstruksi ulang proses berpikir orang tersebut. Kesimpulan terjauhnya adalah, P memang memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadap apa yang dipikirkan orang lain, dengan mengartikan (secara tidak sadar) sinyal-sinyal yang dipancarkan orang tersebut. (Dion)


Di masa depan, kemampuan analitis saja sudah tidak cukup bagi seseorang untuk sukses. Seorang pengusaha, atau sebuah perusahaan, juga harus memiliki kemampuan sintesis.

Pengertian kemampuan analitis adalah kemampuan memecah-mecah sebuah masalah atau kebutuhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian mencarikan jawaban kepada masalah-masalah tersebut. Contoh, untuk menjual sebuah produk, pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab adalah yang berkaitan dengan segmen pasar, harga yang sesuai dengan daya beli pasar, keunggulan yang dimiliki dari produk dan lain-lain. Sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dari berbagai elemen yang sebelumnya tidak dianggap berkaitan. Contoh, menyatukan pengetahuan seorang pengacara tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan juri atau hakim dan kemampuan photoshop seorang ahli visual untuk menciptakan barang bukti foto yang menonjolkan (bukan merubah) faktor-faktor yang mempengaruhi tadi.

Kemampuan analitis adalah kemampuan yang dimiliki oleh otak kiri, sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan yang dikuasai otak kanan. Oleh karena itu, di masa depan, orang dengan keunggulan di otak kiri saja sudah tidak terpakai. Yang diperlukan oleh pekerjaan-pekerjaan di masa depan adalah orang dengan keunggulan di otak kiri yang juga mendapat dukungan kuat oleh otak kanan. Ada enam kemampuan otak kanan yang harus dimiliki oleh para pekerja di masa depan (dibahas di bagian dua), yaitu kemampuan membuat desain, kemampuan membuat cerita, kemampuan menciptakan simphoni, kemampuan berempati, kemampuan bermain dan kemampuan menciptakan makna.

Ada tiga hal yang mendukung argumen bahwa di masa depan kemampuan otak kiri saja sudah tidak cukup, yaitu, Asia, Abundance dan Automation.

Asia. Dengan adanya teknologi internet, makin banyak pekerjaan eksekutif di negara maju yang dikirim keluar ke negara berkembang. Contoh, pekerjaan sebagai seorang akuntan. Saat ini, di India sudah banyak akuntan yang memiliki kemampuan setara dengan akuntan di Amerika. Oleh karena itu, banyak perusahaan akuntan yang mengirim permintaan pembuatan laporan keuangan mereka pada tenaga outsource di India. Lalu, pekerja di India cukup meng-e-mail balik pekerjaannya. Gaji para akuntan India ini lebih dari 10 kali lebih murah dari akuntan di Amerika. Oleh karena itu, orang dengan kemampuan analitis di masa depan yang sukses adalah orang yang bukan hanya mengerti sebuah keahlian (misal, akuntansi) tapi orang yang dapat membuat pekerjaan baru dari keahliannya (misal, menjadi pimpinan perusahaan akuntansi yang menggunakan jasa akuntan dari Asia).

Abundance. Saat ini, industri sudah berkembang pesat. Supply lebih banyak dari demand. Sehingga, harga barang menjadi sangat murah karena semua produk harus bersaing jika mau selamat. Lebih jauh lagi, harga produk-produk buatan desainer kini menjadi makin murah. Pembeli kini sudah mulai bergeser dari sekedar mencari fungsi barang, tapi juga mencari barang yang dapat memberikan makna bagi hidup, atau yang sesuai dengan gaya hidupnya. Oleh karena itu, kemampuan untuk membuat barang yang dapat memenuhi kebutuhan akan fungsi (kemampuan otak kiri) saja sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah, selain dapat berfungsi dengan baik, barang yang dapat memberikan dampak emosi atau mempunyai makna bagi si pembeli. Contoh, handphone. Saat ini handphone sudah tidak bersaing di kemampuan fungsional, tapi di kemampuan handphone tersebut mewakili gaya hidup pemiliknya.

Automation. Makin banyak teknologi yang merebut profesi manusia. Software SPSS sudah membuat profesi ahli stastik tidak semisterius dulu. Bahkan, kini kemampuan analisa penyakit dokter di Amerika sudah mulai diambil alih oleh komputer, tentu saja dengan tingkat ketepatan lebih tinggi dari seorang manusia yang masih memiliki emosi. Oleh karena itu, profesional di masa depan bukan hanya orang yang dapat menganalisa, tapi juga dapat menyentuh sisi manusia dari orang yang membutuhkan analisanya. Contoh, karena kemampuan analisa dokter makin digantikan oleh komputer, dokter di masa depan adalah dokter yang dapat menjelaskan hasil analisa komputer dengan kata-kata awam dan penuh empati kepada pasien-pasiennya.

Kemampuan baru ini akan dikuasai jika seseorang memiliki enam kualitas otak kanan yang sudah disebut diatas (design, story, empathy, simphony, play, dan meaning). Seseorang yang memiliki enam kualitas ini akan menjadi seseorang yang high concept (mampu mensintesis) dan high touch (mampu memberikan dampak emosi pada pekerjaannya), dua persyaratan dari pekerja sukses di masa depan yang tak hanya memiliki kemampuan otak kiri, tapi juga kemampuan otak kanan.

p.s.: Bagian dua dari buku ini adalah penjelasan dan argumen lebih lanjut dari enam kualitas di atas, serta berbagai teknik untuk melatih kemampuan tersebut. (Dion)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)