Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan


Saat saya menonton film Kung-fu Panda, terbersitlah sebuah pemikiran: “film ini tidak saintifik.”


Tidak, saya tidak menyerang kemampuan Po yang bisa melompat tiga meter demi mencuri kue almond milik Monkey. Bahkan, hal semacam ini mungkin saja terjadi jika seseorang memiliki motivasi yang tepat (saya punya teman yang pernah melompati pagar setinggi lebih dari dua meter karena dikejar anjing). Saya tidak menyerang kejadian dimana Po tidak mati karena terjatuh dari tangga istana yang jumlahnya amat banyak. Saya pernah memiliki badan yang sangat gendut, dan percayalah, lemak adalah penahan benturan yang sangat baik. Saya tidak menyerang adegan-adegan saat Po dengan lincah memperlihatkan kemampuan Kung-fu-nya dengan lincah karena saya pernah menonton adegan-adegan kung-fu yang diperlihatkan Sammo Hung.


Yang tak dapat saya percaya adalah… Po memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi.

Ini penjelasan saya. Po adalah tokoh yang banyak makan, dia harusnya memiliki kepercayaan diri yang rendah. Studi dari American Academy of Dermatology menunjukkan bahwa gula dan tepung terigu (yang banyak dimakan Po dalam bentuk mie dan dumplings) meningkatkan kadar insulin dalam tubuh. Insulin lalu membuat tubuh memproduksi berbagai macam hormon, salah satunya adalah hormon di wajah yang memproduksi minyak dan sel-sel yang berfungsi untuk membuat wajah tetap lembut dan sehat.


Jika kadar insulin dalam tubuh berlebihan, hormon di wajah tersebut juga diproduksi secara berlebihan, sehingga minyak dan sel pada wajah yang diproduksi juga berlebihan. Hal ini menyebabkan pori-pori wajah tersumbat dan menghasilkan tempat yang tepat bagi bakteri untuk berkembang. Sistem imun tubuh lalu menyerang bakteri ini dengan efek samping bagian wajah tersebut jadi membengkak dan memerah. Kita mengenalnya dengan sebutan jerawat.


Jika Po banyak makan, harusnya dia memiliki banyak jerawat. Jika dia punya banyak jerawat, dia akan memiliki krisis kepercayaan diri. Jika dia memiliki krisis kepercayaan diri, dia akan makan lebih banyak karena dia makan saat dia sedang gundah. Jika dia makan lebih banyak, dia akan memiliki lebih banyak jerawat, sehingga kepercayaan dirinya akan makin jatuh (lingkaran setan makan-berjerawat-makin banyak makan-makin banyak jerawat ini juga dirasakan oleh banyak orang di dunia nyata).


Jadi harusnya Po punya rasa percaya diri yang rendah! Film Kung-fu Panda tidak saintifik! Hehehe…

Semenjak menemukan fakta bahwa mie instan bisa membuat ‘goblok’ (dengan rata-rata konsumsi mie instan saya 3-4 kali seminggu dengan kebiasaan menghabiskan 2 bungkus sekali makan; karena 1 bungkus mie instan dapat dihabiskan dengan 3-4 kali mendekatkan garpu ke piring), saya menjadi orang yang cukup memperhatikan makanan yang masuk ke dalam mulut saya. Dari awalnya didorong oleh paranoia, kebiasaan memperhatikan kandungan makanan yang saya konsumsi menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Karena saya jadi benar-benar dapat merasakan manfaat dari segala nutrisi yang ada di dalam makanan yang saya makan –tentu dengan sedikit bantuan sugesti, wishful thinking dan self-fulfilling prophecy. Saya dapat berbicara panjang lebar tentang makanan; yang membuat date saya selalu berantakan kalau saya mengajak seorang perempuan ke tempat makan. Tapi, karena forum ini adalah tempat yang tepat, mungkin apa yang akan saya jabarkan tidak akan berakhir pada kebosanan pihak yang saya ‘ceramahi’ (anda), tetapi dapat menjadi masukan informasi yang penting. Ini adalah beberapa hasil temuan saya mengenai manfaat dari beberapa jenis makanan.

Es krim dapat menimbulkan perasaan tentram (comfort). Ini adalah temuan Brian Wansink Ph.D., peneliti ilmu marketing dari Illinois University. Temuan ini tidak memiliki dasar biologis. Melalui penelitian pada 1605 pria dan wanita di AS, es krim adalah jawaban yang paling banyak keluar dari pertanyaan “makanan apa yang menurut anda memberikan perasaan nyaman/tentram pada diri anda?”. Wansink menyatakan bahwa perasaan tersebut timbul karena es krim membangkitkan kembali kenangan seseorang tentang masa kecilnya (ingat adegan kalahnya kekejaman Anton Ego di film Ratatouille?). Wansink juga menyatakan bahwa makanan juga berhubungan dengan kepribadian seseorang. Maka, pria lebih suka makan, misalnya, steak karena makanan yang bentuknya daging yang untuk memakannya perlu dicacah-cacah tersebut berkaitan dengan gambaran tradisional mengenai ke-macho-an. Sedangkan wanita lebih suka makanan yang lembut dan manis (contoh, --what else?— coklat) karena mereka mengidentifikasikan kelembutan dan kemanisan dengan diri mereka (yang mana sama sekali bukanlah tidak tepat). Jadi, walau tak ada dasar biologisnya, pengetahuan ini boleh, lah dipakai dalam strategi date anda (ajak pasangan anda untuk makan makanan yang sesuai dengan kepribadiannya untuk menyenangkannya), hehe...

Berpaling ke penelitian yang “memiliki dasar biologis”, saat ini telah ditemukan bahwa blueberry memiliki banyak manfaat, diantaranya mencegah kanker dan penyakit jantung. Kuncinya terdapat dalam kandungan yang bernama phytonutrients, zat yang memberi warna gelap pada blueberry. Pada blueberry, phytonutrients yang terkandung bernama anthocyanin yang berperan sebagai anti-oksidan. Proses penuaan, polusi dan kegiatan kita sehari-hari membuat menumpuknya oksidan (radikal bebas yang akan menempel dengan sel dan merusak membran serta materi genetis sel) dalam tubuh yang bisa menyebabkan kanker atau penyakit lain yang berhubungan dengan ketuaan. Phytonutrient mencegah hal ini dengan cara mengorbankan diri sehingga oksidan tidak menempel pada sel, tapi pada dirinya yang kemudian akan ikut terbuang bersama kotoran tubuh; sehingga kanker dan penyakit yang berhubungan dengan ketuaan dapat dicegah. Oksidan juga dapat menyerang sel syaraf dan anti oksidan phytonutrient anthocyanin juga mengatasi masalah ini.

Manfaat lain blueberry adalah meningkatkan kapasitas ingatan jangka pendek (short term memory yang kita perlukan untuk memastikan hafalan tetap ada di otak sembari menunggu dimasukkan ke gudang ingatan yang lebih permanen), kemampuan mempelajari ruang (spatial learning yang anda butuhkan saat menghafal jalan), serta meningkatkan kemampuan motorik. Belum selesai sampai di situ, blueberry juga mengandung unsur kimia mangan yang merupakan anti peradangan. Bebas radang juga menyebabkan lancarnya aliran darah, yang akan menjaga asupan energi untuk fungsi mental (mengingat, memecahkan masalah dan lain-lain), menjaga mood tetap senang serta mencegah pengerasan dinding arteri (sehingga mencegah penyakit jantung). Berkaitan dengan penyakit jantung, buah blueberry juga menjaga zat nitrit oksida yang membuat dinding arteri tetap relax (dimana kondisi ini juga mencegah penyakit jantung).

Temuan mengenai manfaat blueberry ini dipersembahkan oleh James Joseph dari Tufts University dan Dorothea J. Klimis dari Maine University, keduanya ilmuan nutrisi. Sebenarnya, penelitian ini memiliki obyek selain blueberry, yaitu buah-buahan dan sayuran lain. Tapi, kadar anti oksidan blueberry memang paling tinggi. Sehingga, jika anda tidak dapat menemukan blueberry, anda bisa mendapatkan manfaat anti oksidan dari buah dan sayur lain. Sedikit informasi tambahan, blueberry yang kecil dan tumbuh liar rupanya lebih baik daripada blueberry yang besar-besar (yang sengaja ditanam) karena kadar nutrisinya lebih padat. Memang ditemukan bahwa buah yang kecil sebenarnya mengandung lebih banyak kadar nutrisi. Karena, buah berbentuk kecil karena telah melewati kehidupan yang sulit, sehingga ia memasok lebih banyak nutrisi agar keselamatannya lebih terjamin (kandungan nutrisi yang lebih banyak karena kondisi hidup yang penuh stress juga ditemukan dalam banyak buah –sehingga besar belum berarti baik—dan tanaman lain –misal, teh hijau dan coklat hitam lebih baik daripada teh dan coklat biasa yang hidupnya “senang”).

Gandum whole grain, brokoli, kacang, tiram, bayam dan makanan yang kaya magnesium lain menurunkan tekanan darah sehingga mencegah stroke, khususnya pada perokok.

Kentang, roti dan makanan berkarbohidrat tapi rendah lemak lain (nasi, jagung, singkong dan lain-lain) adalah kunci agar belajar anda dapat optimal. Rahasianya terdapat pada glukosa yang dikandung bahan-bahan makanan pokok di atas. Glukosa adalah bahan bakar dari otak, dan ditemukan bahwa kegiatan belajar menurunkan kadar glukosa di otak. Dengan mengasup kembali otak yang kurang bahan bakar, kita akan dapat kembali belajar dengan optimal (kekurangan glukosa menyebabkan turunnya kemampuan otak dalam mengingat materi pelajaran serta membuat perhatian kita mudah terpecah). Sedikit tambahan, jika anda dapat memilih diantara makanan pokok diatas, ada baiknya anda memilih kentang, karena penelitian terakhir menemukan bahwa kentang juga mengandung vitamin C, vitamin B6, vitamin B9 dan anti-oksidan asam folic.

Paul Gold Ph.D. dan Donna Korol Ph.D. dari Bringhamton University dan Carol Manning Ph.D. dari University of Virginia adalah mereka yang menyumbangkan pengetahuan di atas. Tapi, sampai saat ini dosis glukosa yang tepat belum ditemukan, karena glukosa yang terlalu banyak justru mengurangi kerja otak. Sehingga, kalau makan, jangan berlebihan! Hal ini juga mematahkan pendapat bahwa coklat baik untuk meningkatkan kemampuan belajar. Secara prinsip sudah tepat, tetapi dosis glukosa dalam coklat yang terlalu banyak, seperti yang telah disebutkan, akan menghambat kerja otak (ditambah kandungan lemak dalam coklat ikut menghambat kerja glukosa).

Selain itu, ada berita buruk lain bagi coklat. Setelah fungsinya untuk menambah ketahanan belajar dipatahkan, fungsi coklat untuk menyehatkan pembuluh darah (sehingga aliran darah menjadi lancar sehingga menyehatkan jantung) juga mulai diserang. Pasalnya, kandungan lemak, gula dan kalori yang terdapat di dalam coklat juga ternyata tidak baik untuk kesehatan. Selain itu, zat yang menyehatkan pembuluh darah tersebut (flavanoid) ternyata hanya ditemukan di coklat hitam. Coklat putih dan coklat susu (milk chocolate) ternyata tidak mengandung flavanoid. Sedihnya lagi, bahkan dalam pembuatan coklat hitam, flavanoid sering kali hilang terbuang atau sengaja dibuang oleh produsen karena rasanya pahit (atau yang lebih jahat lagi, ternyata ada coklat hitam palsu yang sebenarnya adalah coklat biasa yang dengan proses pemasakan dibuat sehingga warnanya lebih hitam). Tapi, kembali ke temuan pertama dari tulisan ini, kalau anda memberikan coklat untuk menyenangkan wanita pujaan anda –karena coklat sesuai dengan kepribadian wanita—, maka strategi tersebut sah-sah saja, hahaha... (Dion)

Perbincangan yang berkaitan dengan kata makan dan makanan memang tidak ada habisnya. Pertanyaan seperti “makan dimana?” atau “makan apa?” selalu menarik untuk dilontarkan. Temuan-temuan ilmiah mengenai makanan pun seperti tak pernah berhenti mengalir. Kehidupan manusia memang lekat dengan masalah makanan. Mau bagaimana lagi? Kegiatan makan dan mencari makanan memang merupakan salah satu insting mendasar manusia. Sejak pertama kali manusia menjejakkan kaki di bumi –bahkan sejak pertama kali ada kehidupan di bumi—, kegiatan mengunyah-menelan-dan-biarkan-sistem-pencernaan-mengurus-sisanya telah menjamin keberlangungan hidup manusia. Sehingga, kita bisa bilang bahwa mencari dan menikmati makanan adalah salah satu aspek mendasar kehidupan manusia. Bahkan ada bagian otak yang khusus mengatur masalah ini (akan dibahas nanti).


Tapi, bagi saya yang menurut situs pencari jodoh harus meng-klik ‘kelebihan beberapa pound’ pada bagian Deskripsi Diri, perbincangan masalah makanan tidak berhenti pada topik ‘tempat makan enak’ dan ‘resep baru’. Saya juga harus membicarakan mengenai sisi gelap dari kegiatan makan dan mencari makan ini, yaitu, masalah ‘menahan dan mengurangi porsi makan’ atau dalam bahasa sehari-harinya dikenal dengan kata DIET. Persoalan mengenai mengapa orang harus diet berkaitan dengan banyak hal yang jika dijabarkan bisa menghasilkan satu buah tulisan baru lagi. Tapi singkatnya seperti ini, diet atau mengontrol insting makan berkaitan erat dengan dua insting mendasar lainnya, yaitu, insting seks (orang yang kelebihan beberapa kilogram akan lebih susah untuk mendapatkan pasangan) dan insting mempertahankan diri (orang yang kelebihan beberapa kilogram terbukti mempunyai rentang pilihan pekerjaan yang lebih sempit, sehingga kemampuan survivalnya jadi lebih rendah).


Hanya saja, saya tidak sendiri. Bahkan “teman” saya yang sama-sama menghadapi masalah diet dan kelebihan berat badan (bahkan obesitas) sangat banyak –mungkin salah satunya adalah anda. Sebuah editorial di koran Washington Post menyatakan bahwa angka obesitas pada anak-anak di Amerika Serikat telah meningkat tiga kali lipat hanya dalam waktu dua puluh tahun. Bahkan Mary Boggiano, kolega saya sesama praktisi psikologi berani mengklaim bahwa enam puluh empat persen dari seluruh manusia memiliki masalah berat badan (yang membuat saya bertanya, ‘kalau begitu, bagaimana cara kita menentukan berat badan “normal”? Karena artinya secara normatis orang-orang memiliki berat badan diatas “normal”, kan?’).


Melenceng sedikit dari topik pembicaraan, setengah dari enam puluh persen populasi manusia yang memiliki masalah berat badan tersebut adalah sepertiga dari warga Amerika Serikat, yang membuat negara tersebut menangani masalah kelebihan berat badan secara serius. Sebegitu seriusnya sampai-sampai kadang mereka bertindak konyol. Misalnya, bulan Februari 2008 menjadi bulan yang cukup ramai di negara bagian Mississipi setelah sebagian anggota legislasi berencana mengeluarkan undang-undang negara bagian yang memberikan mandat bagi para pelayan restoran untuk menolak memberikan makanan bagi pengunjung restoran yang kegemukan. Jika undang-undang ini sampai terrealisasi, penolakan di restoran akan terjadi cukup besar-besaran mengingat tiga puluh persen orang dewasa di Mississippi dicurigai menderita obesitas.


Masih sedikit melenceng dari topik pembicaraan, pembuatan produk hukum yang berkaitan dengan makanan tidak hanya terjadi di negara bagian Mississippi. Bahkan secara nasional ada sebuah undang-undang (yang populer dengan nama Cheeseburger Bill) yang mempersulit konsumen untuk menuntut perusahaan makanan. Undang-undang ini dibuat setelah ada tiga orang pada tahun 2002 yang menuntut restoran cepat-saji (yang memiliki lambang golden arch) karena menurut mereka kandungan kalori dan lemak pada burger buatan restoran itu jauh di atas perkiraan mereka, sehingga akhirnya membuat mereka menderita obesitas. Walau pun sebelumnya pernah ada seorang konsumen yang berhasil menuntut perusahaan rokok yang menurutnya telah membuat dirinya ketagihan rokok, tuntutan terhadap restoran ini dibatalkan oleh pengadilan serta memicu dibuatnya Cheeseburger Bill tadi. Para pendukung undang-undang Cheeseburger tersebut mengatakan bahwa tidak seperti tembakau, makanan tidak membuat seseorang ketagihan dan besarnya makanan yang masuk ke tubuh sepenuhnya berada pada kendali individu yang memakannya.


Tapi benarkah begitu? Psikologi menjawab, ‘ya dan tidak’. Pembicaraan yang melenceng dari topik ini mengantarkan kita ke pembahasan utama yang mau saya sampaikan. Dimulai dari pertanyaan ‘benarkah makanan bisa menimbulkan ketagihan?’ yang dalam menjawabnya kita harus menyinggung masalah bagaimana kerja otak dalam mengatur kegiatan makan, dimana pengetahuan tentang kerja otak tersebut akan sangat membantu kita untuk memahami diet.

Untuk menjawab benarkah makanan bisa menimbulkan ketagihan, kita harus mengetahui bagaimana kerja otak dalam mengatur perilaku makan (di sini, saya melunasi janji saya di atas). Pada tahun 2007, majalah Scientific American Mind membahas masalah ini (di bawah tajuk This Is Your Brain on Food). Dalam edisi terbaru majalah Psychology Today, pembahasan ini muncul kembali dengan judul Consuming Passions. Penjelasan yang saya cantumkan di sini pada dasarnya adalah penggabungan dari kedua artikel tersebut. Artikel ini menurut saya juga menambahkan kesimpulan Diane Papalia dkk. (penulis buku Human Development, buku yang membahas kehidupan manusia dari sejak embrio hingga kematiannya) yang menyatakan bahwa penyebab utama kematian manusia sebetulnya bukan penurunan fungsi tubuh (degenerasi), melainkan lebih disebabkan oleh gaya hidup yang tidak bertanggung jawab (diantaranya, tidak menjaga pola dan komposisi makan).


Nah, mari kita bahas proses yang dijalani otak dalam mengatur perilaku makan (jika anda tidak terlalu suka penjabaran sistem fisiologis manusia, lebih baik anda melewatkan tiga paragraf kebawah, dihitung dari paragraf ini. Saya tidak marah. Sumpah!). Bagian otak yang mengatur perilaku makan bernama hypotalamus (letaknya di tengah-tengah otak). Bagian sisi-luar (Lateral) hypotalamus adalah bagian yang membuat rasa lapar, sedangkan bagian depan-tengah (Ventromedial) hypotalamus adalah bagian yang memberikan rasa kenyang.


Saat perut kosong, sebuah hormon bernama Ghrelin dikeluarkan oleh tubuh. Hormon ini kemudian, dengan bantuan darah, sampai di Lateral Hypotalamus (LH) dan membuat LH mengeluarkan zat ‘lapar’ yaitu Neuropeptide Y (zat ini memberitahukan bahwa tubuh lapar dan berselera atau ingin makan). Ghrelin juga menghambat hormon yang menginformasikan pada otak bahwa tubuh sedang merasa kenyang atau cukup (zat ‘kenyang’), yaitu Proopiomelanocortin (POMC). Sehingga, manusia pun merasa lapar (atau berselera untuk makan). Belum cukup? Tubuh mempunyai mekanisme kedua, saat tubuh kurang tenaga karena kurang makan, banyaknya gula-darah dan insulin pada darah menurun. Informasi ini diterima LH dan ikut menjadi pendorong keluarnya Neuropeptide Y dan menghambat produksi POMC. Makin lapar ‘lah kita jika otak kita tidak dituruti.


Sebaliknya, saat perut kemudian kita isi, level gula-darah dan insulin meningkat, sehingga LH kembali menurunkan Neuropeptide Y dan membiarkan POMC untuk hadir di otak (otak jadi berkata, ‘oke, kita kenyang, semua senang’). Selain itu ada juga bantuan dari Leptin, zat yang dihadirkan oleh lemak tubuh yang menghambat zat ‘lapar’ dan menambah produksi zat ‘kenyang’. Selain melalui darah, informasi bahwa badan merasa kenyang juga disalurkan langsung melalui syaraf, yaitu dengan sebuah peptida bernama Cholecystokinin (CCK) yang memberitahu otak bahwa perut sudah terisi melalui syaraf. Mungkin informasi bahwa tubuh kenyang bisa disalurkan melalui “jalan pintas” agar kita bisa segera menghentikan makan sebelum lambung terlalu penuh.


Hanya saja, manusia sering membandel. Sering kita dengar orang yang mengerjakan sesuatu, misalnya membuat PR, sampai lupa makan. Nah, tubuh pun membuat sebuah sistem lain untuk membantu dirinya mendapat jaminan makanan. Sistem ini bernama rasa nikmat. Saat makanan masuk ke dalam tubuh kita, sebuah zat bernama dopamine dilepaskan ke bagian otak sistem-limbik (yang mengatur motivasi dan kenikmatan) yang bernama striatum (bagian otak untuk merasakan kenikmatan dari makanan dan orgasme). Dopamine ini memberikan sensasi yang nikmat pada otak. Sehingga, kegiatan makan menjadi kegiatan yang menyenangkan, yang menyebabkan manusia akan dengan senang hati memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan menyebabkan tubuh mendapat jaminan bahwa manusia akan memasukkan makanan yang dibutuhkan tubuh untuk tetap hidup.


Tapi, manusia adalah mahluk yang memiliki tabiat mencari kenikmatan. Jika ia mendapatkan kenikmatan dari sebuah kegiatan, pada kesempatan berikutnya dimana ia menginginkan kenikmatan tersebut, ia akan mengulangi kegiatan tadi. Di sinilah, terjadi pemisahan antara dua bentuk lapar. Lapar pertama adalah lapar sebetulnya, yaitu lapar yang disebabkan oleh proses fisiologis diatas (melalu Ghrelin, gula-darah dan insulin) yang disebut sebagai ‘lapar perut’. Lapar jenis kedua adalah rasa lapar (selera makan) untuk mendapatkan rasa nikmat dari dopamine, yang disebut ‘lapar otak’ atau dalam budaya kita dikenal sebagai ‘lapar mata’.

Rupanya, bagian otak yang mendapatkan kenikmatan dari dopamine (Striatum) adalah bagian yang sama dengan yang mendapatkan kenikmatan dari narkotika. Pernyataan itu dibuat oleh majalah Scientific American Mind. Sedangkan, artikel dari Psychology Today mempunyai pandangan lain dengan menyatakan bahwa makanan sebetulnya adalah zat alami yang menimbulkan kenikmatan, sedangkan narkotika adalah zat yang menimbulkan kenikmatan yang berlipat ganda dari makanan. Apapun pandangan yang anda terima, dapat disimpulkan bahwa makanan dan obat terlarang memberikan kenikmatan yang sejenis (berbeda di kuatnya rasa nikmat) sehingga, makanan mungkin menyebabkan ketagihan.


Bagaimana kira-kira cara makanan menimbulkan ketagihan? Pembahasan ini akan memasuki masalah diet. Orang yang memakai narkotik dan orang yang obesitas memiliki satu persamaan, otak mereka tidak normal. Mereka memiliki reseptor dopamine yang hypersensitif, yang membuat sedikit saja ekspose terhadap hal yang mereka sukai (narkotik atau makanan) membuat mereka menjadi terobsesi untuk mendapatkannya; ekspose ini tidak hanya dengan mencicipi hal yang mereka sukai tersebut, tapi cukup dengan melihat barang tersebut atau melihat orang lain menikmati barang tersebut.


Tapi bagaimana caranya reseptor dopamine dapat berubah jadi hipersensitif? Pada percobaan di laboratorium, ditemukan bahwa gaya diet ‘balas dendam’ merubah dopamine menjadi hipersensitif. Maksud gaya diet ‘balas dendam’ adalah melakukan diet dengan mengurangi jenis makanan tertentu (biasanya yang berkalori tinggi seperti nasi). Masalahnya, ditemukan bahwa manusia cenderung akan memiliki masa ‘balas dendam’ di mana ada sebuah waktu diantara diet saat makanan berkalori tinggi masuk dalam jumlah besar. Gaya diet menahan tubuh LALU memanjakan tubuh dengan makan tanpa kontrol ini ternyata bisa membuat reseptor dopamine menjadi hipersensitif dan membuat tubuh jadi terobsesi pada makanan yang ditahan-tahan tersebut. Maka, ketagihan pada makanan pun terjadi dan orang yang sudah sampai pada tahap ini akan mengalami kesulitan untuk mengontrol pemasukan makanan ke dalam tubuhnya.


Permasalahan lain yang ditemukan adalah ternyata tubuh tidak memiliki sistem yang mengingatkan bahwa berat badan sudah mencapai over-weight atau obese. Tubuh hanya memiliki sistem yang akan panik saat berat badan menurun. Jadi, jika berat anda naik dari 60 kg sampai 80 kg, tubuh anda akan tenang-tenang saja. Tapi, jika kemudian berat anda turun dari 80 kg menjadi 79 kg, tubuh akan memerintahkan agar anda makan agar bisa kembali ke titik 80 kg.


Oleh karena itu, psikologi menyimpulkan bahwa bentuk diet yang terbaik adalah diet yang logis, makanlah dengan porsi sedikit dibawah porsi anda sekarang (dan penurunan porsi ditingkatkan perlahan) dan jangan dengarkan tubuh anda yang ‘panik’ dengan membuat anda lapar. Lalu, jangan dengan ekstrim memotong sebuah jenis makanan; lebih baik anda mengurangi semua jenis makanan tetapi dalam tahap yang berjenjang dan pengurangan yang sedikit-sedikit. Jika anda mengalami peningkatan berat badan, jangan tangani dengan mengurangi porsi makan; sebaiknya tanggulangi dengan berolahraga, walau pun pada saat itu anda sedang malas berolahraga. (Dion)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)