Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label homoseksual. Tampilkan semua postingan


Senin malam, saya nonton film Milk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Film Milk - yang aktor utamanya, Sean Penn, mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar - menceritakan tentang seorang tokoh Harvey Milk sebagai orang aktivis yang berjuang untuk mendapatkan persamaan hak kaum homoseksual. Tidak hanya bercerita tentang karirnya saja, tapi film ini menceritakan tentang kehidupan pribadi seorang Harvey Milk.

Harvey Milk (Sean Penn) adalah seseorang pekerja New York yang pada usia 40, ia memutuskan untuk out of closet (membuka diri mengenai status homoseksual), pindah ke San Fransisco pada tahun 1972 bersama pacarnya yang bernama Scott Smith (James Franco), dan membuka bisnis. Semula membuat komunitas kemudian menjadi kandidat politik untuk San Francisco City Supervisior pada tahun 1977. Ia menjadi gay pertama yang mengikuti pemilihan umum di California.

Untuk mencapai kursi pemerintahan tentu tidak mudah karena Harvey Milk harus melewati pandangan miring mengenai homoseksual dari masyarakat dan terutama para saingannya, salah satunya Dan White. Digambarkan diskriminasi pada tahun 1977 bahwa homoseksual di-satu-kluster-kan dengan prostitusi, sering clash dengan polisi, dan sulit mendapatkan pekerjaan. Dengan dukungan dari teman-temannya dan kepiawaiannya berpidato, Harvey Milk mendapat simpati banyak orang.

Saya menonton film ini bersama Q-munity. Q-munity adalah komunitas untuk orang-orang yang concern dengan masalah LGBT. Setelah menonton film ini, dua perwakilan dari Q-munity yang bernama Egi dan Fitri menjelaskan secara singkat tentang sejarah terbentuknya pergerakan homoseksual di Amerika dan mengajak peserta festival film untuk berdiskusi mengenai film dan tema homoseksual itu sendiri.

Seorang perempuan bertanya masalah sensitif mengenai pandangan agama yang menganggap homoseksual itu sebuah dosa. Fitri menjawab, " Saya jadi ingat ketika teman saya meluncurkan sebuah buku tentang homoseksual. Ada seorang laki-laki yang sangat tidak setuju dengan homoseksual di negara yang mayoritas muslim ini. Lantas moderator dari peluncuran buku tersebut menjawab, 'Jika mayoritas negara ini adalah muslim, maka kami adalah muslim'". Saya menyimpulkan bahwa mereka ingin dianggap sama seperti mayoritas dan tidak ingin dinilai berdasarkan agama. Simpulan saya di dalam hati ditanggapi oleh salah seorang peserta yang menurut saya bijak dengan berkata, "Semua manusia itu mulia di mata Tuhan dan konsep baik dan buruk disebabkan oleh pandangan orang lain. Apalagi manusia, secara psikologis, terlahir biseksual.". Kemudian saya menyimpulkan lagi, manusia tidak memiliki hak untuk menilai berdosa atau tidaknya seseorang.

Lalu ada orang lain yang bertanya, "Saya menganggap kalian biasa saja seperti orang lain, tapi mereka kalian membentuk sebuah komunitas yang seolah-olah menguatkan identitas kalian?"

Saya percaya bahwa seseorang yang dilahirkan berbeda dengan orang lain (cacat secara mental atau fisik) atau mengalami sesuatu yang membuat mereka berbeda dengan orang lain (HIV/AIDS, misalnya) akan memiliki tahapan psikologis. Semula seseorang bisa merasa takut, mengucilkan diri, membuka diri secara terbatas, dan mencari orang lain yang senasib dengannya untuk berbagi rasa, pengenalan, mendapat kepercayaan, dan mendapatkan dukungan sosial. Tidak usah jauh-jauh ke kecacatan atau penyakit deh, misalnya seseorang memiliki hobi yang sama dengan orang lain, mereka akan membentuk suatu komunitas. Jadi, menurut saya, tanpa harus menjadi cacat, harus HIV/AIDS, bahkan homoseksual pun, manusia akan berkelompok atau membentuk komunitas.

Saya cukup takjub mendengar GKI memutar fim Milk dan mengundang komunitas LGBT. Bagi saya, walaupun buka skala nasional, itu adalah sebuah kemajuan bahwa seseorang yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat pun mau menerima orang lain yang berbeda dengannya. Saya bukan menolak atau mengiyakan LGBT. Bagi saya yang terbaik adalah seseorang nyaman dengan dirinya dan tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. Itu sudah cukup.

"If it were true that children mimicked their teachers, you'd sure have a hell of a lot more nuns running around" - Harvey Milk -

(Nia)

Siang hari ketika matahari sedang terik menyinari bumi, seorang mahasiswa bernama Loki sedang duduk menikmati lembar demi lembar dari buku yang ia pegang, kopi menemani keasikkan diri. Hiruk pikuk terjadi disekelilingnya, maklum ketika itu adalah saat makan siang di kantin kampus, walaupun tidak seramai biasanya karena sedang bulan puasa.
Dibelakang Loki duduk bapak-bapak, yang dari penampilannya tidak terlihat seperti mahasiswa, bapak tersebut bernama Antiq (yang secara tidak sengaja memiliki sikap negatif terhadap kaum homoseksual).
Dari jauh terlihat Gae sedang tergopoh-gopoh menuju tempat Loki.

Gae : ”Lok, lo harus ke labkom sekarang.”
Loki : ”Eitz, tenang. Ada apa neh?”

Gae masih mengambil nafas sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Gae : ”Buka forum”
Loki : ”Ah, ga mau. Pasti ga penting deh, tentang perdebatan mengenai homoseksual khan?”
Gae : ”Lah, kok Lo tau?”
Loki : ”Iyalah, apalagi. Buat apa sih masih diperdebatkan lagi. Mau argumen sampai mulut berbusa pun, orang-orang yang anti homoseksual tetap saja tidak akan pernah menerima kalian-kalian ini (Gae adalah teman Loki yang kebetulan juga homoseksual).”
Gae : ”Iya sih. Tapi kan, gue kesel juga gara-gara dijelekin mereka sampai segitunya.”
Loki : ”Sampai sepeti apa memang? Dan apakah hal tersebut mempengaruhi jati diri lo sebagai seorang gay? Engga khan. Terus kenapa pendapat orang-orang itu harus lo pikirin?”

Gae terdiam.

Loki : ”Nih, gue kasih tau lo aja. Mereka semua ga pantas menghakimi lo atas apa yang lo lakukan! Mereka hanya iri. Tau ga, hampir seluruh mitologi di dunia ini menaruh kedudukan tinggi pada dewa yang memiliki sifat maskulin dan feminin seimbang. Bahkan kata Jung, si salah satu bapak psikoanalisa itu, setiap manusia memiliki ketidaksadaran gender yang bertolak belakang dengan yang ia miliki, jadi misalnya lo adalah seorang laki-laki, lo tuh memiliki ketidaksadaran wanita yang disebut anima. Orang-orang homoseksual adalah orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan ketidaksadarannya tersebut dan menjadi manusia yang utuh! Well, see, you are better than me! You have the masculine and feminine aspect all over in you. Isn’t that a great thing?”

Loki berapi-api mencoba mengangkat harga diri temannya itu kembali, mencoba tetap menjadikan gae, yang seorang homoseksual itu, “manusia”. Dilain pihak, ternyata bapak Antiq yang sedang duduk dibelakang mereka mendengarkan dengan seksama percakapan Loki dan Gae tentang homoseksualitas.

Loki : ”Kenapa diam? Mereka itu hanyalah orang-orang yang dengan sangat percaya diri menunjuk orang lain sedangkan keempat jari yang ia gunakan untuk menunjuk sebenarnya menunjuk pada dirinya sendiri. Seperti kata Matius 7 ’Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok didalam matamu sendiri tidak diketahui??’.”

Gae masih terlihat muram.

Loki : ”Kenapa lagi? Mereka tidak pernah merasakan menjadi dirimu, sehingga mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan, sehingga dengan mudahnya mereka menghakimi kamu. Toh jelas-jelas dalam kitab suci dikatakan manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi ’Matius 7:1 – Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

Ternyata Bapak Antiq yang daritadi mendengarkan sudah sangat panas untuk berpendapat, sampai akhirnya ia mendatangi kedua sobat yang sedang berbincang itu.

Antiq : ”Nak, kamu boleh mengatakan apapun juga. Tapi tetap saja kitab suci mengutuk perbuatan homoseksual. Dan jelas-jelas dikatakan bahwa homoseksual adalah ’dosa’”.

Bapak Antiq melihat Gae dengan pandangan kritis. Loki dan Gae dengan wajah terbingung-bingung dan dalam hati bertanya-tanya ’kenapa lagi neh orang ikut campur urusan orang aja’. Hahaha.

Loki : ”Oke. Kitab suci mengatakan demikian. Benarkah? Memang apa sih yang dilakukan oleh homoseksual??”
Antiq : ”Jelas-jelas melakukan hubungan sejenis!”
Masih panas Bapak Antiq ini menjawab karena sebenarnya sudah tidak tahan untuk mengungkapkan pendapatnya sejak awal percakapan ini.

Loki : ”Dosa? Apakah mereka menyakiti orang lain? Apakah mereka merugikan pihak lain? Yang saya lihat justru kaum gay mencinta. Dan apa salahnya dari mencinta? Tidak seperti saya atau Anda yang jelas2 sering mencuri dengan mengunduh dari internet, merugikan orang lain, nah itu baru dosa. Nyata lagi, ada yang dirugikan. Ayo sini, yang merasa dirugikan oleh keberadaan kaum gay, coba tuntut mereka. Ga ada yang rugi kayanya, tak ada yang tersakiti, coba bandingkan dengan penghakiman Bapak akan kaum gay yang menyakiti mereka, atau koruptor yang merugikan rakyat. Kenapa justru kaum gay yang selalu ditunjuk2 dosanya?? Karena ayat kitab sucikah?

Kenapa kita harus selalu menunjuk orang lain, mengapa tidak menunjuk diri sendiri? Ketika kita menggunakan satu ayat untuk menghakimi orang lain bahwa mereka berdosa, bukankah lebih baik kita merefleksi diri dengan beribu ayat lain yang mungkin menyatakan bahwa diri kitalah yang berdosa. Mengapa harus dimulai dengan menunjuk orang lain, dan bukan diri sendiri??

Bukankah juga kita melakukan dosa? Bukankah juga kita selalu menilai orang lain? Baik. Seperti ini. Aku mengalami banyak hal dalam hidupku sampai saat ini walaupun mungkin usiaku masih sangat hijau bagi kebanyakan orang, namun aku menyadari perubahan sikap-sikap yang membentuk aku dari hari ke hari, dan aku selalu merefleksi setiap nilai-nilai yang aku pegang. Ketika aku remaja aku memiliki sikap yang sangat negatif pada perilaku merokok. Aku selalu secara terang-terangan menyatakan kebencianku atas mereka yang ’bodoh’ karena merusak diri sendiri. Sampai aku sendiri jatuh pada lubang tersebut. Dan aku mulai menjustifikasi diriku. Aku mulai mencari pembenaran atas kesalahan yang aku lakukan. ’aku merokok karena stres banget nihh, perlu pelampiasan!’
Bukankah kita semua mengalami perubahan nilai? Dan ketika nilai itu berubah, bukankah kita juga selalu mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan. Saya rasa sangatlah munafik ketika orang lain melakukan yang buruk maka kita menghujat, tapi ketika diri sendiri melakukan hal buruk, maka mencari pembenaran. Saya malu dengan diri saya sendiri. Sejak saat itu saya mencoba seminim mungkin ’menunjuk’ dosa orang lain. Karena saya tidak pernah menjadi mereka, dan saya tidak pernah tahu pembenaran apa yang mereka miliki.”

Loki tersenyum, namun Bapak Antiq terlihat tidak mau kalah dengan pandangannya.

Antiq : ”Tidak juga. Saya merokok. Dan saya tahu itu dosa karena merusak diri sendiri.”
Loki : ”Ya. Dan yang menghakimi Anda pada akhirnya adalah......?”

Bapak Antiq terdiam.

Loki : ”Tuhan.” Loki mengucapkan kata tersebut dengan perlahan namun pasti.
”Apakah Anda akan merasa senang jika Anda ditunjuk orang lain dan dikatakan berdosa (bukan hanya merokok, tapi juga gosip, mengambil milik orang lain, tidak tepat janji, bohong, selingkuh, seks diluar nikah, batal puasa, dll)? Aku rasa Anda akan menjadi kesal, dan memulai segala bentuk pembenaran diri untuk mengatasi kekesalan Anda itu.”


Kita selalu membenarkan diri kita sendiri atas kesalahan yang kita lakukan. Namun ketika orang lain yang melakukan kesalahan (bahkan mungkin kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan), kita dengan semangat menghakimi dan mencela mereka. Coba Anda ingat-ingat lagi terakhir Anda melakukan pembenaran diri, pasti you will pay your whole life for them to understand what you feel? Won’t you? Ketika itu Anda akan berharap dunia bisa mengerti yang Anda rasakan, mengerti dan dapat menerima pembenaran diri Anda. Anda akan berharap empati dari mereka (atau tidak perlu empati, at least menerima justifikasi dari ’dosa’ Anda).

Sekarang, ketika saya memberikan pembenaran diri saya. Kaum gay memberikan pembenaran dirinya. Ulama yang poligami memberikan pembenaran dirinya. Artis yang bercerai memberikan pembenaran dirinya. Remaja yang hamil diluar nikah memberikan pembenaran dirinya. Masakah kita tidak bisa menerimanya? Masakah kita menghakimi mereka, ketika kita pun sadar bahwa oknum terakhir yang berdiri adalah Tuhan sendiri.

Nb. Revisi ini saya buat untuk lebih menjelaskan maksud kenapa posting ini pertama kali dituliskan, karena sebelumnya terlalu terbias dengan emosi. Versi sebelumnya masih bisa dilihat di blog pribadi saya. Terima kasih.

(Lora)

Kini semua orang tahu mengenai Verry Idham alias Ryan dari Jombang karena akhir-akhir ini media santer memberitakannya akibat dari perilaku membunuh pasangan homoseksualnya. Diawali dari Heri Santoso yang ia bunuh dengan alasan Heri mau membayar mahal untuk bisa jalan sama pacarnya Ryan sampai kemudian ditemukan tiga mayat lainnya di rumah orang tuanya sehingga rasanya ini bukan masalah seorang homoseks yang cemburu saja.

Media menyangkutpautkan Ryan dengan tiga hal: psikopat, pembunuh berantai, dan homoseksual. Entah dari mana ada asumsi ia benar-benar psikopat, bisa jadi dari kriminolog atau ahli forensik - yang sebaiknya jangan dipercaya dulu sebelum ia diperiksa oleh seorang psikolog. Tapi jika asumsi itu benar, lalu apakah itu psikopat, pembunuh berantai, homoseksual, dan apakah kaitannya?
Apa itu psikopat?
Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral).
Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang 'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. Ketiga, mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara (itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.
Apa itu pembunuhan berantai?
Kebanyakan para pembunuh berantai mengalami penyiksaan ketika kecil dan ketika mereka dewasa, mereka ketergantungan pada obat dan alkohol. Mereka cenderung charming, karismatik, pintar, dan cenderung memilih tipe dari korbannya.
Kebanyakan pembunuh berantai adalah sadis dalam perilaku seksual. Mereka menyiksa dan menyakiti korbannya secara seksual. Bedanya dengan orang yang memiliki kepribadian antisosial adalah orang yang antisosial melakukan kekerasan sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan seperti seks, obat, uang, dan lainnya, sedangkan psikopat melakukan kekerasan untuk mendapatkan nikmatnya dari membunuh. Seorang ahli forensik bilang bahwa banyaknya sayatan dangkal di dadanya Heri Susanto. Ia berkata, "Artinya tersangka menikmati perbuatannya." Dan ada teori yang menyatakan bahwa pelaku psikopat - ketika menikmati pembunuhan - mereka teringat dengan orang yang telah melakukan kekerasan kepadanya ketika ia kecil.
Para psikopat yang membunuh banyak orang sama seperti orang normal. Martens (2002) bilang bahwa pelaku psikopat mencintai (love) pasangan mereka, anak mereka, orang tua, dan binatang peliharaan. Tapi tidak seperti orang sehat, mereka memiliki kesulitan untuk mencintai (loving) dan percaya dengan dunia di luarnya. Mereka hidup dengan penderitaan seperti kehidupan keluarga yang tidak baik, orang tua yang menyiksa, hubungan yang tidak baik, perpisahan dan perceraian, atau lingkungan rumah yang buruk.
Pembunuh psikopat tidak melihat perilaku mereka itu salah. Malah, mereka merasa diri mereka adalah korban. Contohnya Ryan, ia merasa jadi korban yang membela diri dan membela pacarnya sehingga ia membunuh Heri. Para psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen - pelaku psikopat - yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.
Hubungan psikopat dengan homoseksual?
Saya pikir, homoseksual menjadi kambing hitam sebagai akibat perlaku Ryan. Issue yang muncul adalah homoseksual itu kejam dan memiliki kecenderungan membunuh jika sudah sakit hati. Issue ini akan berbeda jika yang membunuh seorang lesbian atau kuli bangunan. Saya tidak setuju kalau ini disangkutpautkan dengan orientasi seksual seseorang. Karena bisa jadi, saya yang heteroseksual pun bisa membunuh karena sakit hati (semoga tidak). Tapi bisa jadi kejadian ini menguatkan teori dalam buku Kartini Kartono bahwa salah satu simptom (gejala) psikopat adalah sering dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksual, transvestism, pedofil, fetishm, sadism, serangan atau perkosaan seksual, pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks. Kalau dilihat dari pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks, ini klop pernyataan ahli forensik itu bahwa seorang pembunuh yang merusak alat kelamin korban, pasti memiliki motif seksual.
Di Amerika, banyak kasus psikopat yang membunuh secara berantai korbannya karena motif seksual. Pembunuhan berantai pertama dilakukan oleh Gilles de Rais pada abad 15, dimana ia membunuh lebih dari 800 anak kecil. Ia memuaskan dirinya dengan memutilasi korban dan kemudian ia melakukan hubungan seksual dengan mayat-mayatnya. Tapi apakah bisa ditarik kesimpulan kalau Ryan juga melakukan hubungan seksual sebelum/sesudah dengan para korbannya, jika dilihat dari korban yang hampir semuanya laki-laki dewasa? Selain itu, banyak pembunuhan dilakukan kepada anak-anak jalanan. Bisa karena mereka anak-anak (pelakunya pedofil) dan tidak ada orang yang memedulikan anak-anak jalanan sehingga kemungkinan ditangkapnya kecil.
Btw, media itu lucu ya. Ada beberapa berita yang bilang 'Kasus RY', tapi ada yang blak-blakan bilang 'Kasus Verry Idham alias Ryan'. Rasanya, nama samaran sudah tidak ada gunanya lagi.
Anyways, walaupun membuat saya mual ketika menulisnya, kasus seperti ini sangat menarik!
-Nia-

Source: Picture

Tubuh manusia yang didesain sedemikian rupa oleh Sang Pencipta agar semua fungsi badan yang dimiliki digunakan sesuai dengan 'perannya' masing-masing, ternyata pada prakteknya tidak semulus itu. Peran pria sebagai tombak yang menginspirasi pembuatan colokan listrik dan wanita sebagai landasaan yang menginspirasi stop kontak, tidak menghalangi mereka-mereka yang ingin mengubah hal tersebut. Pria dengan wanita kini menjadi pria dengan pria. "Tombak dengan tombak". Apa yang mendorong kaum adam untuk berpindah haluan sudah lama menjadi tanda tanya bagi saya, sampai akhirnya tanda tanya tersebut berubah menjadi tanda seru saat ditemukannya beberapa penjelasan mengenai hal tersebut.

Asal muasal mengapa pria dapat berubah haluan menjadi gay, ternyata ada lebih dari satu. Bailey et al (dalam Crookss & Baur, 2006) mengemukakan beberapa sudut pandang mengenai mengapa seseorang menjadi homoseksual. Pertama, dari sudut pandang genetis. Ada yang mengatakan bahwa seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang mendukung dirinya memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama lelaki.

Tidak kalah serunya, gay dilihat dari sudut pandang psikoanalisis. Para tokoh yang memiliki sudut pandang psikoanalisis atau dapat disebut kaum Freudian, menyetujui bahwa bayi adalah Polymorphus Perverse, yaitu arah dari seksualitas bayi sama sekali tidak memiliki perbedaan baik laki-laki ataupun perempuan. Bayi mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang 'pantas' dan dianggap 'tidak pantas'. Misalnya bagi bayi laki-laki, secara tidak sadar, bayi tersebut mengarahkan seksualitasnya menuju objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang secara simbolis melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, maka ada kemungkinan bahwa homoseksualitas akan terjadi.

Lain lagi halnya dengan pandangan dari teori belajar. Manusia adalah makhluk seksual, namun manusia bukanlah makhluk heteroseksual atau homoseksual. Jadi, hanya melalui pembelajaran, manusia mengetahui bahwa manusia tersebut akan menjadi homoseksual atau heteroseksual.

Terakhir ada pandangan yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan sekitar, yaitu pengaruh sosiokultural. Contoh yang paling mudah adalah pengaruh dari 'labelling'. Andaikan kita memberikan label kepada teman kita bahwa ia adalah homoseksual, lama kelamaan, meskipun teman kita adalah laki-laki normal, akan berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kemudian dari proses tersebut, ada kemungkinan bahwa teman kita tersebut memiliki kepercayaan diri yang rendah atau mudah terpengaruh kata-kata orang lain, dan jadilah seorang homoseksual.

DSM-IV sudah tidak lagi memasukkan homoseksual sebagai salah satu kategori dari gangguan psikologis seseorang. Apakah mungkin colokan listrik dan stop kontaknya pun berubah bentuk? (Khrisnaresa)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)