Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Stalker atau dalam bahasa Indonesia adalah Penguntit merupakan perilaku yang sangat meresahkan bagi para korbannya, bayangkan diri anda diikuti oleh seseorang tanpa sepengetahuan anda pastilah keadaan ini sangatlah mengganggu bagi anda sekalian, apalagi sam pai memberikan ancaman dan juga ketidaknyamanan kepada diri kita. Menurut Dr. J. Reid Moley yang merupakan seorang penulis dari Violent Attachments dan yang juga merupakan editor dari The Psychology of Stalking mengatakan bahwa bentuk cinta patologis biasa muncul pada kaum pria. Yang mana gejalanya selalu diikuti oleh gejala sebagai berikut:

1. setelah pertemuan pertama, Stalker akan mengembangkan perasaan seperti kegila-gilaan dan menempatkan objek cinta mereka pada bentuk pemujaan.

2. Sang penguntit (stalker) kemudian akan memulai pendekatan kepada objek namun ketika hubungan itu terjadi stalker akan membuat perilaku mereka merujuk pada penolakan terhadap sang objek.

3. penolakan yang ia lakukan kemudian akan menimbulkan delusi dan kemudian stalker tersebut akan memproyeksikan persaannya kepada sang objek dalam bentuk keyakinan bahwa “dia mencintai saya juga”.

4. penguntit tersebut akan selalu mengembangkan sebuah bentuk kemarahan untuk menyembunyikan rasa malunya yang merupakan bahan bakar dari pengejaran terhadap objeknya. Sekarang ia ingin mengontrol kepada bentuk gangguan atau bahkan kekerasan.

5. Stalker memiliki keharusan dalam menyalurkan fantasi narsistisnya.

6. kekerasan adalah hal yang paling sering dilakukan ketika objek cinta dituduh bersalah sebagai bentuk dari imajinasi akan pengkhianatan.

Meloy mengatakan bahwa setiap stalker adalah seorang psikopat yang dengan kata lain mereka memiliki taraf empati pada tingkat yang rendah atau telah kehilangan akan empati itu sama sekali. Hubungan yang mereka jalani cenderung menjadi sadistis dikarenakan berdasarkan akan keinginan untuk berkuasa atas yang lainnya. Dikatakan juga bahwa hal ini berhubungan dengan kedekatan awal masa kehidupan yang mereka alami, dimana mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang baik dari oragn-orang terdekatnya (keluarga). Meloy juga mengatakan bahwa seorang psikopat secara biologis memiliki predisposisi untuk melakukan aktivitas antisosial karena mereka miliki sistem saraf otonomik yang hiper-reaktif. Kejahatan atau eksploitasi terhadap orang lain bersifat sangat menarik untuk mereka. Yang dengan demikian maka berarti mereka termotivasi untuk melakukan sesuatu yang menegangkan sistem saraf mereka dan mereka tidak memiliki perasaan saat menyakiti orang lain seperti halnya orang normal.

Menurut data Departemen Hukum di Amerika, selama setahun saja mereka telah menerima laporan bahwa 1,5 juta orang disana telah di-stalking dan lebih dari 2/3nya adalah perempuan. Juga fakta bahwa 90% wanita dibunuh oleh suami atau pasangan mereka dengan sebelumnya telah di-stalking. Perbandingannya adalah 1 diantara 12 wanita dan 1 diantara 45 pria merupakan korban stalking di Amerika. Diramalkan kira-kira 10 juta orang akan menjadi korban stalker dimasa depan. Sedangkan diantara para selebritis dan orang-orang kelas atas sendiri, satu perusahaan keamanan telah mengumpulkan lebih dari 300.000 komunikasi yang berhubungan dengan kegiatan stalking.

Sementara banyak stalker hanya melakukan kejahatan dalam bentuk ancaman, hanya sedikit persentase yang membuktikan mereka melakukan ancaman mereka, menghancurkan properti dan menyakiti hewan peliharaan. Dengan meningkatnya popularitas Internet, Cyberstalking telah menjadi suatu bentuk baru dari lahan yang berbahaya. Banyak Stalker yang sebelumnya telah memiliki catatan kriminal dan juga menunjukkan adanya tindak kekerasan yang pernah dilakukan, gangguan mood, gangguan kepribadian atau juga psikosis. Setidaknya setengah dari stalker melakukan bentuk ancaman kepada korban mereka, dimana peningkatan kemungkinan untuk tindakan kekerasan semakin terjadi. Frekuensi dari tindaka kekerasan berkisar 25% sampai 35%, dengan kebanyakan tindak kekerasan terjadi diantara orang-orang yang sebelumnya memiliki hubungan yang romantis dimasa yang lalu.

Gangguan buruk ini terjadi karena Stress emosional yang hebat kepada target yang akan menjadi korban. Beberapa orang telah kehilangan pekerjaan mereka atau secara terpaksa mengganti identitas diri mereka dan berpindah. Kemungkinan mereka mendapatkan suatu bentuk kecemasan yang ekstrim, gangguan tidur dan juga depresi. Beberapa bahkan melakukan bunuh diri. Jika mereka memiliki anggota keluarga atau anak yang berada dibawah ancaman, mereka akan merasa bersalah dan memiliki rasa takut yang berlebihan kepada orang lain. walaupun kecelakaan ini dilaporkan, namun penahanan secara hukum hanya dapat dilakukan dalam lingkup kecil, terhadap gangguan yang bersifat verbal. Pada kenyataannya beberapa hukum telah digunakan sebagai suatu resiko dasar dari bahaya atau suatu bentuk pola kejadian sebelum perlindungan secara formal ditawarkan.

Tidak mudah untuk memprediksi siapa yang menjadi stalker. Mungkin saja ia adalah bekas pacar atau mungkin juga seseorang biasa yang telah menentukan targetnya dalam sebuah pertemuan dengan calon korban. Juga mungkin tetangga yang memiliki sikap permusuhan, atau seorang penjaga toko video dan mungkin juga hanya seseorang yang hanya pernah melihat korbannya di jalanan. Bahkan seseorang yang tidak memiliki obsesi terhadap tindakan pelecehan sebelumnya dapat menjadi pelaku dalam jenis kejahatan ini. Menurut Janet S. Rulo-Pierson, seorang konselor rumah sakit, hal ini dikarenakan mereka merubah secara perlahan dunia kenyataan ke dunia imajinasi yang ternyata lebih memberikan kenyamanan dan juga kekuatan.

Beberapa sifat-sifat stalker telah dikembangkan dan menurut Dr. Michael Zona dan koleganya dari University Of Southern California School Of Medicine, Stalker muncul dalam 3 varietas dengan corak jahat dalam stalking yang terbagi dalam 4 kategori penting, sebagai berikut:

1. Obsesi Sederhana
Hal ini kebanyakan terjadi pada seorang pria dengan seorang wanita, dimana keduanya pernah berada pada keadaan keintiman seksual.

2. Cinta Obsesional
Cinta-obsesional yang dimiliki seorang Stalker cenderung kepada pemikiran tentang seseorang selebritis atau seseorang yang telah ia lihat dari kejauhan dan kemudian dia (stalker) mengembangkan kepercayaan yang tidak realistis didalam kepalanya bahwa sang target memiliki persetujuan untuk menjalin hubungan dengan dirinya.

3. Erotomania
Seseorang yang mengalami keadaan ini memiliki tingkat obsesi yang lebih ekstrim dikarenakan mereka percaya dengan yakin bahwa korban mereka memiliki perasaan cinta kepada mereka.

4. Pencari Korban Secara Acak
Menuntut gangguan dan perilaku stalking ketika tidak ada, perilaku ini biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki gangguan kepribadian histrionik.

Metode lain yang digunakan untuk kategorisasi stalker datang dari panduan klasifikasi tindak kejahatan milik F.B.I, sebagai berikut:

1. Non-domestic stalker, yaitu mereka yang melakukannya dengan tidak memiliki hubungan personal dengan korban.

2. Terorganisir, mereka yang melakukannya atas dasar kalkulasi dan tindak agresi yang terkendali.

3. Delusional, mereka yang melakukannya atas dasar keyakinan sesat seperti erotomania

4. Domestic stalker, mereka yang pernah memiliki hubungan dengan korban dan merasa termotivasi untuk melanjutkan hubungan, hal ini merupakan dasar dari 60% perilaku stalking dan bentuk agresi ini akan berlanjut pada bentuk kekerasan.

Stalker cenderung menjadi tidak terkendali atau dibawah kendali, tetapi selalu lebih cerdik dari pada bentuk kriminal yang lain. mereka sering kali memiliki pengalaman gagal dalam sebuah hubungan. Mereka juga cenderung untuk menyakiti korban mereka dan juga secara seksual. Mereka juga selalu mengidealisasikan orang lain, dan cenderung meminimalisasi apa yang mereka kerjakan untuk terlihat. Proyek yang bermotif kepada orang-orang biasanya tidak memiliki dasar yang benar, dan merasionalisasi bahwa target memang pantas untuk menerima gangguan dan juga kekerasan.

Demikian, stalker melihat aksi mereka dengan kerangka kerja yang berdasarkan pada waham dan mereka juga tidak membutuhkan bantuan saat melakukan aksinya. Bahkan sebagian melakukannya dengan cara yang profesional. setiap pelaku kasus yang ada dalam suatu kejadian sebenarnya dapat diperbaiki dengan menyerahkannya kepada terapis.

Sumber

Amarilldo


Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah Mochtar Lubis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.

Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari bapak psikologi Indonesia, Sarlito Wirawan, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.

Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokritis Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh. Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.

Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.

Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.

Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.

Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.

Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.

Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut ST Sularto (dalam Kompas) pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

(Amarilldo)



Personality, atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepribadian, adalah suatu konsep yang mungkin sama tua-nya dengan bahasa manusia. Trait (atau sifat dalam bahasa Indonesia) memiliki 2 asumsi besar (Matthews, Deary & Whiteman, 2003) yaitu bahwa sifat itu stabil seiring dengan waktu dan yang kedua, sifat dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku.

Kita sering mempercayai sifat seseorang sebagai ’true nature’, sesuatu yang terberi. Ingatkah Anda jika menghadapi teman yang seringkali marah-marah, dan Anda mencoba berkepala dingin menghadapainya dengan menghibur diri, ”Yah maklum deh, udah dari sananya dia memang suka marah-marah.” Dalam contoh ini, sifat dilihat sebagai sesuatu yang merupakan komponen tingkah laku yang dibawa dari lahir, sama misalnya seperti belang pada harimau Sumatera. ”Sudah dari sananya”.

Namun sifat dan kepribadian ini tidak serta merta eksklusif terlihat dalam tingkah laku manusia saja loh, hewan pun memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Sebelumnya saya pernah mendengar dari ’Kelompok Pecinta Binatang’(yang ini saya baca dari Forum Jual Beli Fauna di Kaskus),

”Jangan mengadopsi anjing karena lucu-nya saja, ingat bahwa anjing juga memiliki kepribadian masing-masing yang harus dikenali. Jangan sampai kita mencintai anjing ketika puppy karena lucu, kemudian mengabaikan mereka ketika mereka dewasa hanya karena kepribadiannya yang ’buruk’”.

Saya tidak pernah bisa mengerti kalimat tersebut sampai kesempatan kemarin saya memelihara beberapa kelinci. Selama ini total 6 kelinci yang telah saya pelihara (saat ini tinggal dua). Kelinci pertama saya bernama Poo, seekor kelinci Australia berwarna hitam. Ia sangat pintar, dalam dua hari ia sudah bisa litter dropping (pup dan pee pada tempatnya) dengan baik, jika dipanggil dari berbagai arah ia akan mendatangi kita (ia sudah dapat mengenali namanya sendiri), bahkan ia sengaja merendahkan kepalanya meminta untuk dielus, Poo adalah seekor kelinci yang suka disayang dan digendong, ia tidak pernah menolak. Sayangnya ia tidak bertahan lama. Poo meninggal dalam perjuangannya menghadapi penyakit diare yang ia derita.

Berdasarkan pengalaman memelihara Poo, saya pikir semua kelinci sama pintar dan baik seperti dia, namun betapa kecewanya saya ketika saya memelihara Embot Oren, Embot Coklat, Embot Putih, dan KoalaLa Bobotai sekarang ini. Mereka semua sangat bertentangan dengan Poo. Embot Oren tidak mendatangi ketika dipanggil, Embot Coklat sama sekali tidak suka digendong/disayang, KoalaLa Bobotai yang pup dan pee dimana-mana sampai badannya bau banget(sehingga namana Bobotai, Bau Bau Tai haha), dan embot putih yang akan saya ceritakan berikut.

Embot Putih adalah kelinci yang paling lama saya pelihara, sehingga saya paling mengenal dirinya. Dia adalah kelinci PALING BERSIH yang pernah saya temui, selalu membersihkan badannya, sama sekali tidak berbau, menolak makanan yang bau, litter dropping pada tempatnya, bahkan terkadang ia tercium wangi (dalam artian bukannya bau tak sedap, Embot Putih malah memiliki bau badannya sendiri yang bisa dibilang untuk ukuran binatang, wangi)!! Kasihan sekali dirinya harus share kandang dengan KoalaLa Bobotai yang sangat bau pesing, dan jorok. Embot putih jarang mau diganggu kalau lagi beraktifitas (lari2, dsb), namun jika ia sedang istirahat/tiduran kita bisa mengelus, menggendong, bahkan bisa meniduri dia saking miripnya dengan bantal karena gepeng dan berbulu haha. How cute.
When we admit to adopt animal, we have to accept them and say ’I love you just the way you are’. ^^ Walaupun sering kesal karena Bobotai bau, saking baunya sampai mengira dia adalah kukang yang menyamar jadi bunny haha, tapi tetap saja ‘I love her just the way she is’.

Sama seperti manusia, hewan juga memiliki sifat dan kepribadian. Baik yang (selama ini menurut pandangan sosial) ’baik’, maupun ’buruk’. Pada dasarnya mereka adalah makhluk hidup yang juga ingin dicinta apapun tingkah laku yang muncul dari dirinya.

Pengenalan akan sifat dan kepribadian binatang bisa membuat kita lebih menghargai makhluk hidup (human/non-human). Berbeda binatang dan sifatnya, berbeda pula cara kita menghadapi dirinya. Sehingga kita bisa menerima dan mencintai makhluk lain, bukan karena atribut yang menempel dan sementara (sekedar lucu, timbal balik, jelek, atau apapun) tapi lebih jauh lagi karena melihat mereka sebagai pribadi yang utuh.


“We share the same earth. We breathe the same air. Respect and love is the key to keep the balance among beings.”


[Poto kelinci berdasarkan urutan muncul: Embot Coklat, Embot Oren, Embot Putih, dan KoalaLa BoboTai (yang paling lucu dan paling bau hehe) ^^]


Oleh: Lora


Sumber:

Matthews, G., Deary, I.J., Whiteman, M.c. (2003). Personality Traits 2nd Edition. Electronic: Cambridge University Press






Mari bermain permainan “membongkar kepribadian teman anda”. Cara memainkan permainan ini adalah dengan melihat lingkungan hidup teman anda. Coba tengok kamar tidur atau meja kerja teman anda, dan silakan membuat kesimpulan mengenai kepribadiannya. Jangan takut salah, karena psikolog Samuel Gosling menemukan bahwa ternyata manusia mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menebak kepribadian orang lain berdasarkan hal-hal yang berada di sekitar orang tersebut. Yang anda butuhkan adalah sedikit latihan (cocokkan tebakan anda dengan kepribadian sebenarnya teman anda, dengan mengkonfirmasi padanya atau pada rekan sejawatnya), dan anda bisa menjadi Sherlock Holmes bagi diri anda sendiri.

Ada dua set dari kumpulan pertanda yang dapat anda jadikan sebagai bahan anda untuk menyimpulkan kepribadian orang. Set yang pertama adalah “identity claims” atau hal-hal yang secara sadar digunakan seseorang sebagai simbol yang menggambarkan dirinya. Sebagai contoh, jika anda suka orang yang pintar, perhatikan taraf kesulitan dari buku-buku koleksi yang ada di kamarnya. Jika anda mencari orang yang lembut, perhatikan jika ada pernak-pernik lucu di meja kerjanya. Jika anda ingin berdekatan dengan orang yang suka bergaul, perhatikan apakah dia menempelkan foto-foto dirinya yang sedang bermain bersama teman-temannya di folder foto facebook-nya atau lihat apakah ada banyak barang-barang pribadi yang dia letakkan di tempat umum (misal, di dalam loker sekolah).

Seperangkat bukti kedua adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah “behavioral residues”, yaitu tanda-tanda kepribadian seseorang yang ditinggalkan secara tak sadar. Kotak CD yang berserakan bisa mengungkapkan selera musik orang tersebut (serta tingkat kerapian si empunya CD). Pemilihan warna-warna yang mendominasi tempat hidup seseorang juga dapat menjadi alat untuk membongkar kepribadian. Selain dari tingkat kecerahan warna (makin cerah, makin ceria), banyaknya variasi warna yang digunakan juga memberi arti tersendiri (jika penampilan seseorang didominasi oleh misalnya, warna pink, kita bisa menebak bahwa dia sedikit bersifat obsesif).

Selain tebakan yang bersifat umum di atas, ada juga tebakan yang lebih didasarkan pada sifat orang tersebut. Concientiousness (kemandirian dalam mengambil keputusan) dapat dilihat dari kondisi ruangan yang bersih dan terorganisir. Openness (kemampuan untuk beradaptasi dengan pengalaman, cara pandang, dan kebiasaan baru) dapat dideteksi melalui pernak-pernik yang unik atau banyaknya buku-buku yang ada di dekat orang tersebut.

Masih membicarakan mengenai menebak sifat seseorang, sifat disiplin dan dapat diandalkan bisa dilihat dari hadirnya ruangan (atau meja kerja) yang bersih dan rapi. Anda juga dapat menebak stabilitas emosi seseorang dari tingkat ke-feminin-an lingkungan teman anda.

Bagaimana? Cukup mudah, bukan? Tata letak, banyaknya barang pribadi, sampai genre dari CD yang ditemukan di meja kerja, kamar, dan profile myspace teman anda memberikan petunjuk mengenai kepribadian teman anda. Silakan anda saling menebak kepribadian dengan teman anda! Kegiatan itu akan menjadi sebuah kegiatan yang cukup menyenangkan dan menambah keakraban. Atau, jika besok-besok ada seseorang yang mengajak anda kencan, anda bisa mengecek dulu kecocokan kepribadiannya dengan kepribadian anda sebelum melangkah lebih jauh. Judge a book by it’s cover! But judge it carefully. (Dion)


Teori mengatakan bahwa dalam berkomunikasi, kita cenderung untuk mengamati gerak-gerik, bahasa tubuh, dan nada lawan bicara kita daripada mendengarkan apa yang dikatakannya. Saat lawan bicara kita mengatakan, "Aku tidak marah!", kita tidak akan semudah itu percaya. Nada suara, ekspresi wajah, dan gerak tubuhnyalah yang memberikan kita kesimpulan. Namun, pada pembicaraan via email atau yang sejenis (dimana kita hanya bisa melihat huruf dan kata-kata), penambahan icon emosi (emoticon) berguna untuk menyampaikan maksud dari pengirim pesan. Sejauh mana alat bantu emoticon berpengaruh pada kita?

Ternyata, kedua hal tersebut memiliki pengaruh yang berbeda pada penerima dengan kepribadian yang berbeda, menurut Byron dan Baldridge (2007). Pada penerima emoticon yang berkepribadian ekstrovert dan memiliki kendali emosi yang kuat, akan menyukai pesan yang disampaikan dengan emoticon yang tepat. Namun sebaliknya, pada penerima yang berkepribadian introvert dan memiliki emosi yang labil, emoticon tidak akan memiliki efek apa-apa, bahkan membuat penerima tersebut tidak menyukai pesan yang disampaikan.


User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)