Perilaku seksual tidak hanya dilakukan oleh remaja. Namun demikian, sepertinya berita tentang perilaku seksual remaja seolah tidak pernah habis dimuat diberbagai media. Tulisan ini mencoba menjelaskan faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab munculnya perilaku seksual tersebut. Baca selengkapnya di Ruang Psikologi.
Pacaran memiliki banyak fungsi, namun diantara sekian banyak fungsi tersebut pacaran lebih erat kaitannya dengan eksperimentasi seksual. Ingin tahu lebih dalam? Klik di sini untuk baca lebih lanjut.
Cobalah berandai-andai bahwa kita adalah seorang dokter jaga di sebuah klinik SMA. Suatu hari di siang bolong, ada murid perempuan yang mendatangi kita dan meminta untuk dites kehamilan, dan pada saat mereka menemukan hasil yang negatif, mereka menunjukkan wajah yang kecewa.
Tanda tanya besar akan muncul dalam hati saya, bila hal tersebut terjadi pada saya. Namun kini tanda tanya itu sudah muncul di kepala saya, saat mengetahui bahwa ada sekelompok bermain remaja perempuan yang membuat perjanjian untuk sama-sama memiliki bayi dan membesarkannya bersama-sama. Mereka adalah remaja perempuan dari
Hal yang mungkin menjadi pertanyaan adalah mengapa menginginkan kehamilan di usia tersebut? Respons wajar pada remaja yang mengalami kehamilan pada umur tersebut adalah "Ya ampun, apa yang akan kulakukan dengan anak ini?", atau "Bagaimana aku akan membesarkan anakku?". Satu hal yang dapat mungkin menjadi jawaban adalah budaya populer yang tersebar pada anak muda yang kurang mendapatkan arahan dari orang tua atau pihak-pihak yang lebih tua. Erik Erikson, seorang tokoh Psikologi yang memusatkan penelitiannya mengenai perkembangan hidup manusia, mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa pencarian identitas. Mereka yang sedang di dalam masa sedang haus-hausnya mencari tahu siapakah mereka dan mempertanyakan kepada diri mereka akan menjadi siapakah mereka. Apabila para remaja tidak memiliki seseorang yang mampu mengarahkan mereka ke arah yang baik, maka remaja-remaja tersebut dapat hilang arah, seperti dalam kasus ini, remaja perempuan Massachusetts yang menginginkan hamil tanpa pemikiran panjang akan bagaimana bayi mereka dirawat dan dibesarkan.
"Apabila anda adalah remaja perempuan yang benar-benar berjuang untuk menemukan identitas diri, tanpa adanya dukungan dan arahan, maka menjadi seorang ibu adalah pilihan yang paling mungkin terjadi.", tutur Patricia Quinn, direktur eksekutif dari Massachusetts Alliance on Teen Pregnancy, saat menyikapi fenomena perjanjian hamil sekelompok remaja perempuan Massachusetts ini. Ia juga menambahkan, "Kita harus melakukan lebih untuk remaja dan menunjukkan mereka jalan yang benar."
*Terima kasih untuk ide dari Nadhira untuk posting ini.