Saya terinspirasi nulis ini karena nonton MTV Switch dimana artis-artis berkampanye untuk mematikan alat yang menggunakan listrik jika tidak perlu karena isu global warming. Saya jadi bertanya, mengapa hanya sedikit orang Indonesia yang berkampanye tentang lingkungan dengan catatan lebih sedikit lagi yang mematikan listrik di siang hari, memisahkan sampah organik dan anorganik, pakai sepeda, dan lainnya?
Pertanyaan jadi melebar ketika nonton Animal Planet dimana ada seorang perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengerti bahasa monyet. Mengapa orang Indonesia jarang melakukan suatu penelitian mendalam mengenai hewan atau tumbuhan, malah mereka melakukan kekerasan yang mendalam pada tumbuhan dalam bentuk pembalakan hutan liar atau gelonggong sapi agar mendapat keuntungan? Dalam sastra Indonesia, alam selalu diceritakan sebagai lingkungan yang bersahabat dan memberikan kemakmuran bagi yang tinggal disekitarnya. Tapi itu dalam sastra.
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya sering mendapat jawaban, "Ya karena manusia Indonesia masih berkutat pada perut. Jangankan memikirkan lingkungan sementara perut aja belum jelas mau diisi apa."
Tidak adil, kenapa orang-orang jadi menyalahkan perut? Kalau benar memang segala permasalahan berasal dari perut, bagi saya ini primitif karena diperbudak oleh nafsu makan. Kalau benar berakar dari perut, Amerika yang notabene negara maju dan tidak perlu dipertanyakan tentang urusan perut pun berkontribusi pada perusakan lingkungan. Saya jadi sanksi kalau ini karena masalah perut.
Pembaca, kira-kira apa sih yang menyebabkan ketidakpedulian manusia Indonesia terhadap lingkungannya?
-Nia-
Konsep Diri: Tips Pemahaman Potensi Diri
4 tahun yang lalu