Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan

Waktu menghadiri LGBT anonymous - hehehe, bukan deng, tapi hanya salah satu acara LGBT yang mengadakan nonton film Milk - seorang pembicaranya berkata, "Saya ini agnostik". FYI, acara diadakan di Gereja Kristen Indonesia.

Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi trend di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.

Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?

Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama saya dan saya bertanya kepada orang-orang. Namun sayang reaksi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya langsung di-judge tidak boleh ragu, dipandang sebelah mata oleh kakak kelas agamis dengan jawabannya, "Kenapa harus bertanya tentang Tuhan sih? Kenapa kamu tidak ikuti skenarionya saja?". Itu melarang hak manusia untuk berpikir, namanya.

Saya, yang sedari kecil sudah diberi agama Islam dan tidak diberi kesempatan untuk memilih agama, bertanya apakah perasaan takut pada Tuhan memang berasal dari keyakinan saya atau dari didikan yang sudah membudaya? Lalu bagaimana jika agama itu ternyata tidak ada, sengaja dibuat untuk mengendalikan hidup manusia yang kelewat bebas?

Pertama kali saya belajar filsafat, banyak tanggapan bahwa filsafat itu membuat orang ateis. Setelah membaca, ternyata beberapa tokoh seperti Nietzsche, Camus, Sartre, dan lainnya itu ateis. Karena saya berada di ranah psikologi, mari kita melihat sisi ateis melalui Sigmund Freud.

Freud melihat agama itu infantil, seperti anak kecil yang ingin menyelesaikan masalah nyata dengan wishful thinking. Manusia jadi mengharapkan keselamatan secara pasif dari Tuhan daripada mencari jalan untuk mengusahakannya sendiri dan mengembangkan potensinya. Manusia jadi mengharapkan sebuah penyelamat yang memang tidak pernah ada. Parahnya, ini dialami oleh semua orang, sehingga Freud menyebutnya dengan neurosis kolektif. Neurosis adalah dasar teori Freud. Neurosis terjadi apabila orang bereaksi tidak adekuat atas suatu pengalaman yang amat emosional. Misalnya seorang perempuan yang dengan sengaja menghilangkan ingatan akibat pemerkosaan yang pernah dialaminya. Tanpa ia sadari, konflik emosional itu dimunculkan melalui perilaku yang seperti tidak ada hubungannya. Misalnya perilaku obsesif kompulsif - terus-terusan mencuci tangan dan lainnya.

Akur dengan Nietzsche yang berpendapat bahwa agama hanyalah belenggu "manusia super", Freud beranggapan agama menggagalkan kemungkinan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang sebenarnya dapat saja tercapai.

Terlihat, kan, bedanya yang mana skeptis dan ateis. Apalagi ateis nge-trend.

Andai saya bertemu dengan kakak kelas saya, mungkin saya akan menjelaskan bahwa dalam agama, terdapat dimensi intelektual. Bukan untuk merasionalkan agama (karena yang rasional namanya science) tetapi untuk bertanya tentang apa yang dianutnya. Bagi saya, totalitas orang beragama bukan hanya menganut apa yang diturunkan orang tua, tetapi mendalaminya dengan pertanyaan. Dan bagi saya, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari keraguan.


(Nia)

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.

Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak. dengan kata lain psikologi transpersonal memandang kita sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia dan bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spriritual.

Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.

Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia, dengan ini maka era milennium ini yang disebut-sebut sebagai era aquarian benar-benar telah terwujud.

Ayu Utami, penulis yang memulai karirnya sebagai wartawan di zaman Orde Baru. Jangan heran jika novel-novelnya selalu memiliki aroma kemiliteran dan pemerintahan.
Seperti novel Bilangan Fu ini, yang memiliki 536 halaman. Beruntung kertasnya cokelat, bukan HVS 80 gram, karena akan sangat pas untuk memukul orang yang Anda kasihi.
Kali ini, Ayu Utami memberikan nafas spritualisme kritis pada novelnya. Ia mengangkat wancana spritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik. Novel ini bercerita mengenai seorang pemanjat tebing yang bernama Yuda - seseorang yang mengabaikan nilai-nilai lama, takhayul, budaya, dan sangat membenci televisi ini - memiliki sahabat baru yang misterius bernama Parang Jati. Melalui Parang Jati, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai melihat nilai-nilai budaya yang selama ini ia abaikan, ia belajar menghormati alam, ia belajar menghormati apa yang biasanya ia sebut sebagai takhayul (misalnya sesajen, Nyi Rara Kidul, dan lainnya) hanya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih terhadap alam, bukan untuk dipuja sebagai berhala. Novel ini juga menggambarkan bagaimana tokoh yang bernama Kupu, seorang muslim fanatik, yang digambarkan seperti sekelompok orang di Indonesia (you know, lah). Jelas novel ini berisikan tidak kesetujuan Ayu Utami akan monetheisme, tidak setuju dengan orang-orang yang mencari kebenaran ilahi melalui cara-cara kekerasan. Ayu Utami pun dengan kritisnya menambah berbagai macam pengetahuan dari mulai Babad Tanah Jawi (sejarah Jawa berdasarkan kisah kerajaan) sampai ilmu pengetahuan alam mengenai pembentukan tebing, dan lainnya.
Jujur, novel-novelnya Ayu Utami itu sangat sulit dicerna oleh pemula, baik Saman maupun Larung. Rasanya saya baru saja membaca sekumpulan essay yang diracik menjadi sebuah novel. Tapi Ayu Utami bisa meracik dengan sedemikian baik sehingga orang yang membacanya tidak akan merasa diceramahi, digurui, atau didakwahi.
Bagi saya, novel ini sangat bagus. Penulis sepertinya ingin membedakan mana sisi agama dan mana sisi spiritual manusia. Agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama bersifat top-down, diwarisi dari rasul, pendeta, nabi, dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga atau tradisi - seperti novel ini yang menampilkan bias yang kuat antara agama dengan tradisi. Dosen filsafat saya pernah bilang, "Tidak agama di dunia ini. Agama hanya ada di akhirat. Di dunia hanya ada budaya agama." Saya tidak sepenuhnya setuju sampai sekarang, mengingat beliau mantan atheis :)
Sedangkan spiritual manusia adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. Oleh karena itu, meskipun seorang atheis, saya pikir ia pasti memiliki keinginan untuk mencari Tuhannya, karena di setiap otak manusia terdapat bagian yang dinamakan 'God spot'. Saya setuju bahwa semakin dekat manusia dengan Tuhannya, manusia akan semakin dekat dan memiliki pemahaman tentang siapa dirinya (seperti Syekh Siti Jenar dalam buku Manunggaling Kawula Gusti) dan apa makna segala sesuatu baginya, dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunia manusia kepada orang lain dan makna-makna orang lain.
Dalam psikologi, dimensi spritual manusia direduksi menjadi sebatas insting hewani dan beragam mekanisme pertahanan diri. Namun ketika mahzab ketiga muncul, psikologi humanistik mencoba membangkitkan pandangan manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spritual. Salah satu tokohnya adalah Viktor Frankl yang yakin bahwa dimensi spritual (noos) mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan manusia untuk memberi makna, orientasi tujuan, kreativitas, imajinasi, intuisi, keimanan, dan lainnya. Frankl juga yakin bahwa pencarian manusia akan makna merupakan motivasi penting dalam hidup manusia. Pencarian inilah yang menjadikan manusia makhluk spritual dan ketika kebutuhan makna ini tidak terpenuhi, hidup akan terasa dangkal dan hampa. Bagi sebagian besar manusia saat ini, kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan krisis mendasar di zaman ini adalah krisis spritual. Banyak orang yang mencari uang sebanyak-banyaknya, banyak orang yang melarikan dirinya ke narkoba atau alkohol, banyak orang yang melakukan seks bebas, tapi mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan itu. Manusia modern mencoba mengisi kehampaan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kenikmatan.
Saya kagum dengan isi dan cara penulisan di novel Bilangan Fu ini. Saya jadi membayangkan proses kreativitas ketika ia menulis. Pastinya tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung. Mungkin ketika manusia telah berhubungan dengan alam, detaknya sejalan dengan detak alam, manusia bisa menceritakan apa saja. Dan pastinya Ayu Utami telah melakukan riset yang sangat panjang dari studi literatur sampai benar-benar ikut panjat tebing agar novelnya hidup, yaitu novel yang saya rekomendasikan untuk dibaca agar manusia lebih menghormati budaya dan dekat dengan dimensi spritualnya.


(Nia)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)