Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Setelah selesai menyontreng untuk Pemilu Legislatif tanggal 9 April kemarin, kita akan segera masuk bilik suara lagi untuk memilih calon presiden negara ini. Pemilihan presiden Indonesia yang sekarang ini adalah kali kedua bagi kita untuk memilih presiden secara langsung. Jadi, belum banyak data yang bisa dipakai untuk memprediksi siapa kira-kira pemenang ajang puncak pesta demokrasi lima tahun sekali itu.

Tapi, jangan khawatir. Negara sahabat kita, Amerika, sudah berkali-kali memilih presidennya secara langsung. Mereka sudah punya beberapa prediktor untuk mengira-ngira pemenang pemilu Presiden. Dibawah ini Psigoblog sajikan beberapa yang menarik.

Tinggi

Oh, suka yang tinggi-tinggi? Bagi orang Amerika, jawabannya adalah: Ya! Percaya atau tidak, tinggi badan adalah modal yang cukup penting kalau anda mau jadi presiden Amerika Serikat. Hanya 6-7 orang presiden AS yang tingginya hampir sama dengan orang kebanyakan. Sisanya jangkung-jangkung. Lihat saja Clinton, Ronald Reagan, bahkan George Washington. Rata-rata tinggi mereka diatas 1,8 meter.

Memangnya apa hubungan tinggi badan dan kemampuan seseorang untuk menjadi presiden? Tidak ada.

Tapi itu kalau pemilihan presiden berdasarkan kemampuan seseorang. Dalam demokrasi, pemilihan pemimpin dilakukan secara voting. Jadi, faktor yang menentukan seseorang untuk jadi presiden bukanlah kemampuan, tapi “kemampuan” untuk mendapatkan vote masyarakat.

Nah, tinggi badan membuat seorang terlihat menarik sehingga dapat MENARIK vote masyarakat. Hal ini karena orang yang tinggi biasanya dianggap memiliki kemampuan leadership yang baik serta maskulin.

Stereotipe ini mungkin tidak benar. Tapi, kan, masyarakat tidak melihat kehidupan sehari-hari si capres. Yang terlihat hanya tinggi badan. Jadi masyarakat “percaya” saja sama stereotipe yang dia pegang.

Menarik

Maksud menarik disini lebih ke menarik dibagian muka (ganteng atau cantik). Pernah dengar, kan, pada tahun 2004 banyak ibu-ibu yang milih SBY karena dia ‘ganteng’?

Ya, wajah ganteng memang membuat seseorang lebih disukai orang lain. Alasannya adalah karena dia lebih dianggap sehat, “subur”, dan kuat sehingga orang lain percaya padanya. Yang jelas, salah satu capres AS (kalau tak salah Ronald Reagan) dianggap menang pemilu karena lawannya tak sudi di make-up saat akan debat di TV nasional, sehingga wajah lawannya itu terlihat berminyak di hadapan seluruh rakyat AS.

“Terlihat” Dewasa

John Edwards tak mendapat dukungan dari rekan-rekannya sesama kader partai Demokrat saat akan maju jadi presiden. Padahal dia tinggi (tepat 1,8 meter) dan ganteng. Alasannya adalah, dia terlihat terlalu baby face. Ternyata, penampilannya yang sangat anak muda tersebut membuat orang percaya kalau sifat-sifat dia masih seperti anak muda (dapat dipercaya, jujur, tapi submisif dan naif).

Ternyata penampilan juga punya andil, ya? Iyalah, mana ada masyarakat yang mau dipimpin oleh orang yang terlihat kayak anak muda yang masih suka hura-hura (walau pun saat ini sudah terjadi, presiden Madagascar baru berusia 34 tahun dan mantan DJ).

Kalau begitu, apakah ketiga faktor ini akan dapat memprediksi hasil pemilu presiden nanti? Coba anda buat sendiri daftar tinggi badan, kegantengan, dan “kedewasaan” capres yang akan maju dan lihat hasilnya. (Dion)

Sumber:

- Social Psychology (11th edition) karya Baron, Byrne, dan Branscombe.

- Artikel di majalah Bobo yang pernah dibaca penulis

- Film dokumenter “Face: Beauty” produksi BBC

- Gambar: SBY (www.e-sailings.com), JK (www.indonesiamatters.com), Megawati (portal.1und1.de), HNW (www.detiknews.com), Prabowo (www.cbc.ca), Wiranto (news.bbc.co.uk), SHB ( www.flickr.com), Sutiyoso (www.tempointeractive.com)

- www.nomoreodor.com

Philip Zimbardo, dalam penelitiannya tentang mengapa orang baik dapat berubah menjadi jahat dan sebaliknya, menemukan bahwa ada dua faktor utama yang mendasari hal tersebut, yakni:

1. Disposisi (dapat dikatakan sebagai kepribadian bawaan seseorang)
2. Situasi (situasi tertentu dapat membuat orang menjadi jahat atau baik)
3. Sistem (Politik, ekonomi, dll yang menciptakan suatu situasi yang dialami orang-orang)
Dari ketiga hal tersebut, peneliti psikologi terdahulu masih yakin bahwa seseorang memiliki sifat jahat dikarenakan mereka memang memiliki 'bibit' jahat sedari lahir. Namun Zimbardo menemukan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menemukan bahwa faktor lingkunganlah yang lebih besar dalam membuat seseorang menjadi jahat. Pada tahun 1970an, ia melakukan eksperimen yang berisiko besar mengenai hal tersebut, yaitu "Stanford Prison Experiment".

Dalam eksperimen ini, ia meminta bantuan sukarelawan untuk rela bermain peran sebagai sipir penjara dan narapidananya untuk 2 minggu penuh. Penelitian ini melibatkan orang-orang yang sama sekali tidak punya sejarah masuk penjara atau melakukan tindak kriminal apapun, dapat dikatakan bahwa mereka semua orang baik-baik. Dari awal penelitian, mereka betul-betul diskenariokan sebagai narapidana, mulai dari dijemput di rumah masing-masing dengan mobil polisi dan borgol dari polisi, hingga aturan-aturan di penjara simulasi yang terletak di ruang bawah tanah Universitas Stanford. Hari-hari pertama penelitian berlangsung sesuai perkiraan, namun pada beberapa hari setelah itu, ada kejadian-kejadian di luar dugaan. Para sipir mulai bertindak di luar instruksi dengan alasan 'mendidik' para napi yang tidak disiplin, diikuti dengan reaksi melawan dari napi. Bahkan ada salah satu napi yang sampai tantrum dan akhirnya harus dikeluarkan dari penelitian karena khawatir akan mendapati efek negatif dari eksperimen tersebut. Karena kekacauan yang terus menerus terjadi, penelitian tersebut diakhiri hanya dalam waktu seminggu.

Dari penelitian tersebut, Zimbardo menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan adalah faktor yang sangat kuat dan dominan dalam mengubah seseorang dari baik menjadi jahat ataupun sebaliknya (penemuan yang menentang teori lama bahwa disposisi (kepribadian) seseorang merupakan hal yang dominan dalam merubah tingkah laku seseorang. Dan dari penelitiannya, Zimbardo menawarkan solusi, yaitu Heroism atau 'kepahlawanan' untuk melawan bobroknya sistem dan situasi yang dihasilkan demi kebaikan umat manusia.

Kepahlawanan yang dimaksud bukanlah pahlawan dalam artian Superman atau hal-hal yang mencengangkan lainnya. Yang dimaksud dengan kepahlawanan adalah kepahlawanan dalam artian berani menentang sistem yang buruk dan fokus pada pemecahan situasi yang buruk menjadi baik dengan menjadi sedikit 'devian' atau berbeda dari orang lain. Zimbardo mencontohkan bahwa dalam kasus penjara Abu Ghraib, ada seseorang yang berani mengungkap perlakuan para sipir yang tidak manusia di sana kepada media, yaitu Joe Darby. Ia berani menanggung ancaman-ancaman teror hanya untuk melakukan 'apa yang seharusnya ia lakukan'. Dan itulah yang disebut dengan kepahlawanan oleh Zimbardo yang ia tuangkan dalam bukunya, "The Lucifer Effect".


Philip Zimbardo dalam Ted.com menjelaskan tentang penelitiannya

Bila berkaca pada keadaan negeri kita, dimana banyak pelanggar lalu lintas dan pelanggar hak-hak asasi manusia di depan mata kita, seharusnya kita malu dan kembali berpikir untuk melakukan tindak kepahlawanan. Seperti slogan yang selalu dikatakan oleh teman saya, "Everyone could be a hero, no matter what".

untuk lebih lengkap, dapat kunjungi website resmi Lucifer Effect. (Khrisnaresa)

Waktu menghadiri LGBT anonymous - hehehe, bukan deng, tapi hanya salah satu acara LGBT yang mengadakan nonton film Milk - seorang pembicaranya berkata, "Saya ini agnostik". FYI, acara diadakan di Gereja Kristen Indonesia.

Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi trend di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.

Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?

Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama saya dan saya bertanya kepada orang-orang. Namun sayang reaksi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya langsung di-judge tidak boleh ragu, dipandang sebelah mata oleh kakak kelas agamis dengan jawabannya, "Kenapa harus bertanya tentang Tuhan sih? Kenapa kamu tidak ikuti skenarionya saja?". Itu melarang hak manusia untuk berpikir, namanya.

Saya, yang sedari kecil sudah diberi agama Islam dan tidak diberi kesempatan untuk memilih agama, bertanya apakah perasaan takut pada Tuhan memang berasal dari keyakinan saya atau dari didikan yang sudah membudaya? Lalu bagaimana jika agama itu ternyata tidak ada, sengaja dibuat untuk mengendalikan hidup manusia yang kelewat bebas?

Pertama kali saya belajar filsafat, banyak tanggapan bahwa filsafat itu membuat orang ateis. Setelah membaca, ternyata beberapa tokoh seperti Nietzsche, Camus, Sartre, dan lainnya itu ateis. Karena saya berada di ranah psikologi, mari kita melihat sisi ateis melalui Sigmund Freud.

Freud melihat agama itu infantil, seperti anak kecil yang ingin menyelesaikan masalah nyata dengan wishful thinking. Manusia jadi mengharapkan keselamatan secara pasif dari Tuhan daripada mencari jalan untuk mengusahakannya sendiri dan mengembangkan potensinya. Manusia jadi mengharapkan sebuah penyelamat yang memang tidak pernah ada. Parahnya, ini dialami oleh semua orang, sehingga Freud menyebutnya dengan neurosis kolektif. Neurosis adalah dasar teori Freud. Neurosis terjadi apabila orang bereaksi tidak adekuat atas suatu pengalaman yang amat emosional. Misalnya seorang perempuan yang dengan sengaja menghilangkan ingatan akibat pemerkosaan yang pernah dialaminya. Tanpa ia sadari, konflik emosional itu dimunculkan melalui perilaku yang seperti tidak ada hubungannya. Misalnya perilaku obsesif kompulsif - terus-terusan mencuci tangan dan lainnya.

Akur dengan Nietzsche yang berpendapat bahwa agama hanyalah belenggu "manusia super", Freud beranggapan agama menggagalkan kemungkinan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang sebenarnya dapat saja tercapai.

Terlihat, kan, bedanya yang mana skeptis dan ateis. Apalagi ateis nge-trend.

Andai saya bertemu dengan kakak kelas saya, mungkin saya akan menjelaskan bahwa dalam agama, terdapat dimensi intelektual. Bukan untuk merasionalkan agama (karena yang rasional namanya science) tetapi untuk bertanya tentang apa yang dianutnya. Bagi saya, totalitas orang beragama bukan hanya menganut apa yang diturunkan orang tua, tetapi mendalaminya dengan pertanyaan. Dan bagi saya, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari keraguan.


(Nia)

Banyak manusia yang dipenjara gara-gara urusan "bawahan": memperkosa, mencabuli, melecehkan, menghamili anak sendiri, menikah dengan anak kecil, incest, pedofilia, kedapatan memperbanyak video dewasa di internet, dan lainnya. Saya takjub karena sebesar apa sih dorongan seksual seseorang sehingga bisa membawa diri mereka sendiri menderita pada akhirnya?

Dua berita yang saya baca beberapa hari yang lalu:

1. Kepala sekolah melecehkan muridnya dengan menyuruh si murid melepas semua bajunya hanya karena si murid terlambat. Seharusnya si kepala sekolah bisa berpikir bahwa andai saja ia menahan nafsunya, ia tidak akan dipecat dari jabatannya, mencoreng namanya sendiri, dan masuk televisi dengan muka disamarkan.

2. Selanjutnya berita yang merefleksikan betapa tidak manusiawinya manusia gara-gara urusan bawahan yang saya dapat dari sini

ST. POELTEN, Austria (CNN) -- A verdict in the case of Josef Fritzl, the Austrian man accused of keeping his daughter in a cellar for decades and fathering her seven children, could come as early as Thursday, a court official told reporters Monday. As his trial began behind closed doors Monday Fritzl pleaded guilty to incest and other charges, but denied charges of murder and enslavement -- the most serious charges against him. Fritzl arrived at the courthouse in St. Poelten covering his face with a blue binder to shield himself from reporters, television cameras and photographers and escorted by a phalanx of police officers.

Fritzl was charged in November with incest and the repeated rape of his daughter, Elisabeth, over a 24-year period.

But he was also charged with the murder of one of the children he fathered with her, an infant who died soon after birth. State Prosecutor Gerhard Sedlacek said Michael Fritzl died from lack of medical care.

In all, Fritzl is charged with: murder, involvement in slave trade (slavery), rape, incest, assault and deprivation of liberty, Sedlacek's office said. He could face a maximum sentence of life in prison if convicted of murder. Mayer said Sunday that Fritzl expected to spend the rest of his life in prison.

"This man obviously led a double life for 24 years. He had a wife and had seven kids with her. And then he had another family with his daughter, fathered another seven children with her," said Franz Polzer, a police officer in Amstetten, the town where Fritzl lived, at the time of his arrest.

The case first came to light in April 2008 when Elisabeth's daughter, Kerstin, became seriously ill with convulsions.

Elisabeth persuaded her father to allow Kerstin, then 19, to be taken to a hospital for treatment.

Hospital staff became suspicious of the case and alerted police, who discovered the family members in the cellar.

Fritzl confessed to police that he raped his daughter, kept her and their children in captivity and burned the body of the dead infant in an oven in the house. Elisabeth told police the infant was one of twins who died a few days after birth.

When Elisabeth gained her freedom, she told police her father began sexually abusing her at age 11. On August 8, 1984, she told police, her father enticed her into the basement, where he drugged her, put her in handcuffs and locked her in a room.

Fritzl explained Elisabeth's disappearance in 1984 by saying the girl, who was then 18, had run away from home. He backed up the story with letters he forced Elisabeth to write.

Hehe, gila ya?

Bagaimana bisa seorang bapak memiliki nafsu kepada darah dagingnya sendiri? Ya tentu bisa, sudah banyak kok kejadian seperti ini. Namun saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elisabeth diperkosa ratusan kali selama 24 tahun sampai melahirkan anak dalam keadaan disekap. Pasti ia tidak tahu rasanya bersenang-senang dengan orang lain seusianya, merasakan enaknya udara pagi, atau membentuk keluarga sendiri. Pasti dunianya luluh lantak!

Betul kata Sigmund Freud bahwa manusia hanya urusan seks dan agresi. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan menyerap nilai-nilai yang diajarkan orang tua dan lingkungan. Namun jika sudah seperti ini, apa bedanya manusia dengan binatang?


(Nia)

Vienna University of Technology mempunyai project "Grimace", yaitu suatu generator pembuat ekspresi wajah pada model wajah yang disediakan berdasarkan emosi. Silahkan berkunjung ke website ini untuk mencoba.





Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah Mochtar Lubis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.

Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari bapak psikologi Indonesia, Sarlito Wirawan, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.

Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokritis Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh. Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.

Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.

Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.

Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.

Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.

Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.

Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut ST Sularto (dalam Kompas) pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

(Amarilldo)



Senin malam, saya nonton film Milk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Film Milk - yang aktor utamanya, Sean Penn, mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar - menceritakan tentang seorang tokoh Harvey Milk sebagai orang aktivis yang berjuang untuk mendapatkan persamaan hak kaum homoseksual. Tidak hanya bercerita tentang karirnya saja, tapi film ini menceritakan tentang kehidupan pribadi seorang Harvey Milk.

Harvey Milk (Sean Penn) adalah seseorang pekerja New York yang pada usia 40, ia memutuskan untuk out of closet (membuka diri mengenai status homoseksual), pindah ke San Fransisco pada tahun 1972 bersama pacarnya yang bernama Scott Smith (James Franco), dan membuka bisnis. Semula membuat komunitas kemudian menjadi kandidat politik untuk San Francisco City Supervisior pada tahun 1977. Ia menjadi gay pertama yang mengikuti pemilihan umum di California.

Untuk mencapai kursi pemerintahan tentu tidak mudah karena Harvey Milk harus melewati pandangan miring mengenai homoseksual dari masyarakat dan terutama para saingannya, salah satunya Dan White. Digambarkan diskriminasi pada tahun 1977 bahwa homoseksual di-satu-kluster-kan dengan prostitusi, sering clash dengan polisi, dan sulit mendapatkan pekerjaan. Dengan dukungan dari teman-temannya dan kepiawaiannya berpidato, Harvey Milk mendapat simpati banyak orang.

Saya menonton film ini bersama Q-munity. Q-munity adalah komunitas untuk orang-orang yang concern dengan masalah LGBT. Setelah menonton film ini, dua perwakilan dari Q-munity yang bernama Egi dan Fitri menjelaskan secara singkat tentang sejarah terbentuknya pergerakan homoseksual di Amerika dan mengajak peserta festival film untuk berdiskusi mengenai film dan tema homoseksual itu sendiri.

Seorang perempuan bertanya masalah sensitif mengenai pandangan agama yang menganggap homoseksual itu sebuah dosa. Fitri menjawab, " Saya jadi ingat ketika teman saya meluncurkan sebuah buku tentang homoseksual. Ada seorang laki-laki yang sangat tidak setuju dengan homoseksual di negara yang mayoritas muslim ini. Lantas moderator dari peluncuran buku tersebut menjawab, 'Jika mayoritas negara ini adalah muslim, maka kami adalah muslim'". Saya menyimpulkan bahwa mereka ingin dianggap sama seperti mayoritas dan tidak ingin dinilai berdasarkan agama. Simpulan saya di dalam hati ditanggapi oleh salah seorang peserta yang menurut saya bijak dengan berkata, "Semua manusia itu mulia di mata Tuhan dan konsep baik dan buruk disebabkan oleh pandangan orang lain. Apalagi manusia, secara psikologis, terlahir biseksual.". Kemudian saya menyimpulkan lagi, manusia tidak memiliki hak untuk menilai berdosa atau tidaknya seseorang.

Lalu ada orang lain yang bertanya, "Saya menganggap kalian biasa saja seperti orang lain, tapi mereka kalian membentuk sebuah komunitas yang seolah-olah menguatkan identitas kalian?"

Saya percaya bahwa seseorang yang dilahirkan berbeda dengan orang lain (cacat secara mental atau fisik) atau mengalami sesuatu yang membuat mereka berbeda dengan orang lain (HIV/AIDS, misalnya) akan memiliki tahapan psikologis. Semula seseorang bisa merasa takut, mengucilkan diri, membuka diri secara terbatas, dan mencari orang lain yang senasib dengannya untuk berbagi rasa, pengenalan, mendapat kepercayaan, dan mendapatkan dukungan sosial. Tidak usah jauh-jauh ke kecacatan atau penyakit deh, misalnya seseorang memiliki hobi yang sama dengan orang lain, mereka akan membentuk suatu komunitas. Jadi, menurut saya, tanpa harus menjadi cacat, harus HIV/AIDS, bahkan homoseksual pun, manusia akan berkelompok atau membentuk komunitas.

Saya cukup takjub mendengar GKI memutar fim Milk dan mengundang komunitas LGBT. Bagi saya, walaupun buka skala nasional, itu adalah sebuah kemajuan bahwa seseorang yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat pun mau menerima orang lain yang berbeda dengannya. Saya bukan menolak atau mengiyakan LGBT. Bagi saya yang terbaik adalah seseorang nyaman dengan dirinya dan tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. Itu sudah cukup.

"If it were true that children mimicked their teachers, you'd sure have a hell of a lot more nuns running around" - Harvey Milk -

(Nia)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)