Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Produksi: Metro Communications (2006)
Sutradara: Eytan Fox
Cast: Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin

Saya menonton The Bubble di salah satu komunitas kreatif di Bandung, Reading Lights Writer's Circle. Film ini bercerita tentang romantisme antara dua orang pria yang bertemu di medan perang. Naom, seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tentara Israel, bertemu dengan Ashraf, seorang warga negara Palestina. Tidak diceritakan bagaimana mereka bisa saling mengenal dan saling suka, tiba-tiba cerita loncat ke bagian Ashraf mengunjungi Naom di Tel Aviv, Israel.

Layaknya Romeo dan Juliet, begitu pula dengan Naom dan Ashraf, hanya saja cerita ini dilatarbelakangi dengan keadaan politik yang panas antara Israel dan Palestina. Cinta mereka terhalang oleh pandangan miring orang Israel terhadap Palestina sehingga warga Palestina tidak bisa bekerja di Israel dan inilah yang membuat Ashraf terpaksa pergi jauh dari Naom.

Hubungan mereka diperparah dengan kondisi politik yang kian mengancam. Satu saat, kakaknya Ashraf yang baru menikah, tidak sengaja tertembak oleh tentara Israel. Kakak iparnya pun merencanakan misi balas dendam terhadap Israel. Namun karena tekanan rasa bersalah terhadap kakaknya, Ashraf yang mengambil alih misi itu.

Melihat film ini membuat saya berpendapat bahwa perang adalah hal yang tidak adil. Bagaimana bisa dua pemerintahan saling berseteru untuk mendapatkan sesuatu atas negara tapi mengorbankan penduduknya sendiri? Masyarakat sipil harus terkena imbas dengan pengawalan ekstra ketat atau dicurigai macam-macam padahal mereka tidak tahu apa-apa adalah hal yang tidak adil. Nafsu untuk menguasai membuat manusia jauh dari zaman yang beradab. Negara, rumah, manusia tidak lebih dari sebuah miniatur kecil yang bisa diporak-porandakan jika si penguasa sudah bosan.

Film ini mengandung konten dewasa. Hal ini patut diketahui jika ingin ditonton bersama keluarga atau bersama anak di bawah umur. Tidak ada adegan darah-darahan atau kata-kata kasar. Jangan berharap bahwa film ini dapat dihubungkan dengan keadaan Israel dan Palestina sekarang karena film ini murni romantisme.

(Nia)

Kebahagiaan. Bila dibicarakan, tidak akan ada titik temunya karena hal tersebut sangatlah pribadi. Ada orang yang bahagia hanya dengan makan teratur 3 hari sekali, ada juga orang yang tidak bahagia meski sudah memiliki mobil lebih dari 1. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang sangat pribadi bila kita menanyakan pada diri kita masing-masing, namun tidak sedikit penelitian psikologi yang dilakukan untuk mengetahui apa itu "bahagia" dan mengalami "kebahagiaan" sebagai upaya 'menggeneralisasi' arti kebahagiaan.

Bicara tentang penelitian tentang kebahagiaan, hal tersebut sudah menjadi perhatian para ilmuwan psikologi untuk menjadi kajian ilmiah. Tujuannya hanya 1: menemukan rumus umum bagi manusia untuk bahagia, meskipun setiap orang memiliki makna kebahagiaannya sendiri-sendiri. Ada beberapa ilmuwan Psikologi yang telah menemukan kebahagiaan dengan pemaknaannya masing-masing dari hasil penelitian. Sebut saja Veenhoven, Psikolog asal Belanda yang mengatakan satu kalimat, "Bahkan surga pun akan menjadi neraka bila kita berpikir bahwa surga itu tidak menyenangkan". Ia mengemukakan bahwa bahagia atau tidak, bergantung pada bagaimana kita memandang hidup, bagaimana kita bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki. Arbiyah (2008) yang meneliti tentang hubungan antara rasa bersyukur dengan kebahagiaan menemukan bahwa rasa bersyukur memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan. Semakin besar rasa bersyukur seseorang, maka semakin bahagia pula orang tersebut.

Sonja Lyubomirsky, seorang psikolog Amerika yang berasal dari Rusia tertarik meneliti tentang kebahagiaan karena pada masa kecilnya di Amerika, ia terheran-heran melihat orang-orang yang murah senyum padanya - sesuatu yang tidak biasa dilihatnya di negara asalnya, Rusia. Ia mendefinisikan seseorang yang bahagia adalah seseorang yang sering merasakan emosi positif, seperti: senang, riang, bertekad, dan emosi-emosi lainnya. Penemuan Sonja tersebut baru hanya melingkupi aspek 'emosi' atau aspek perasaan seseorang.

Ed Diener, seorang psikolog yang sudah lama mengkaji mengenai kebahagiaan atau "Subjective Well-being" (menurut istilahnya) mengatakan bahwa ada 2 aspek yang harus dipertimbangkan saat menelaah apakah seseorang telah mengalami kebahagiaan. Kedua aspek tersebut adalah aspek afektif (emosi) seperti yang telah dikatakan Sonja Lyubomirsky dan aspek kognitif. Kebahagiaan pada aspek kognitif seseorang dilihat dari seberapa puaskah seseorang terhadap hidupnya dengan terlebih dahulu menimbang-nimbang apa yang telah ia miliki dan jalani. Salah satu pertanyaan yang dapat mengindikasikan apakah seseorang telah puas secara kognitif adalah, "Bila ada kesempatan untuk mengulang hidup anda, sejauh apakah anda ingin mengubah hidup anda?".

Lain halnya dengan Martin Seligman, Presiden American Psychological Association dan pendiri aliran psikologi Positif, yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya atau "Authentic Happiness" akan didapat apabila seseorang menjalankan apa yang sesuai dengan karakter moral, yaitu hal yang kita anggap sesuai dengan pandangan hidup kita. Ia menyebutkan ada 6 karakter moral utama yang ada pada manusia dan keenam karakter moral tersebut berbeda-beda pada masing-masing individu.

Penelusuran mengenai kebahagiaan sudah menjadi hal yang menarik umat manusia sejak beribu-ribu tahun lalu. Filsuf Yunani kuno membedakan 2 jenis kebahagiaan, yaitu eudaimonia dan hedonis. Telah menjadi pertanyaan apakah seseorang bahagia karena telah mencapai hal yang diinginkannya ataukah ia bahagia karena sedang menjalani hal yang diinginkannya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai kebahagiaan yang tidak dapat dijawab dengan sederhana. Meskipun begitu, sebagai bentuk kontribusi kita terhadap penemuan 'rumus' kebahagiaan hidup, mungkin kita semua dapat merenungkan apa arti kebahagiaan menurut diri kita masing-masing.

Seperti biasa, sabtu dan minggu sore adalah waktu kesenangan saya karena ada acara Nanny 911 dan Super Nanny di Metro TV. Saya suka acara itu karena acara itu memberikan pada saya asupan dari gambaran penerapan psikologi di kehidupan nyata. Tapi, ada satu hal menarik yang baru diperhatikan oleh otak saya yang lambat mencerna informasi pada saat saya nonton acara-acara itu minggu ini: konsep acara yang sedemikian rupa dari acara-acara itu menyebabkan peran antagonis dan protagonis di kedua reality show itu menjadi terbalik.

Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.

Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.

Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.

Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.

Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:
Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.
Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.
Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.

Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.

Untuk semua psigoblog reader, psigoblog writer, dan semua manusia di bumi ini, selamat tahun baru 2009! semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua..!


Halo semua, apa kabar? Saya harap semua dalam kondisi kesehatan yang fit di akhir tahun 2008 ini. Setiap pergantian tahun tentu selalu ada refleksi mengenai apa yang telah terjadi pada hari-hari di tahun terakhir ini. Semua kesalahan, kebahagiaan, kegagalan, kemenangan, ataupun kesempatan, semuanya bergejolak memenuhi tempat di sudut otak penganalisa saya. Setelah mengevaluasi apa yang telah terjadi, yah seperti kebanyakan orang lainnya, saya pun kemudian mencoba untuk membuat resolusi 2009, apa yang akan saya lakukan, dan target-target hidup di tahun mendatang. Lalu saya teringat salah seorang teman yang men-tag saya pada notes-nya di Facebook.

Sekitar minggu lalu, teman saya ini mengutarakan kekhawatiran akan kelulusan yang ada di depan matanya. Melalui tulisannya, ia terlihat ragu apakah ia mampu menghadapi tuntutan bagi seorang S.psi. Oleh karena itu dalam notes-nya yang cukup panjang itu ia menjabarkan list kemampuan yang harus dimiliki Sarjana Psikologi. Saya memang tidak memiliki semua kemampuan yang dituliskan disana, tapi toh saya juga tidak menyukai pekerjaan konvensional dibalik meja. Pemikiran tersebut membawa saya pada pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Sebelum menjawab pertanyaan diatas terlebih dahulu harus memperhatikan beberapa hal penting. Pertama adalah memilih pekerjaan yang cocok untuk diri sendiri. McDonald dan Das (2008) memberikan empat tingkatan dalam pemilihan karir:

  • 1. Self-awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keahlian, kemampuan, kesukaan, nilai, keinginan, lingkungan pekerjaan yang disuka, dan pertimbangan gaya hidup. Misalnya seseorang yang tidak menyukai lingkungan pekerjaan kompetitif akan mempertimbangkan hal tersebut untuk mengambil pekerjaan yang lebih personal dan bebas. Contoh pertanyaan yang menyangkut self-awareness:

· Do I like dealing with members of the public?

· Do I like working alone or in an open-plan office as a part of a team?

· Do I want to work in a busy dynamic workplace, or a less pressured, more sedate environment?

· Do I want to earn a lot of money?

· Do I need autonomy and independence in how I work?

· Do I like a variety of tasks or do I want to be a specialist?

· Do I want to eventually become a manager with lots of responsibilities, or am I happy being a member of a team?

  • 2. Opportunity awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai industri atau organisasi spesifik yang membuatnya tertarik, dan melihat kemungkinan jika ia bisa bekerja ditempat tersebut. Misalnya saya menjadi seorang pelatih lumba-lumba, yah masih mungkinlah secara lumba-lumba dilatih dengan prinsip belajar punishment-reinforcement. ;p
  • 3. Evaluation and decision making: mengevaluasi pilihan karir yang dipilih, membuat daftar pro dan kontra, serta memutuskan tujuan. Misalnya menjadi pelatih lumba-lumba, pro-nya: pekerjaan menyenangkan, tidak terlalu kompetitif, bebas dan personal, lots of fun. Kontra-nya: bau, kemungkinan kecelakaan tinggi karena licin, penghasilan segitu-gitu aja. Nah dari daftar tersebut ditentukanlah kira-kira karir apa yang paling baik buat diri Anda.
  • 4. Taking action: mengidentifikasi langkah-langkah apa saja yang menjadi kebutuhan untuk dapat meraih tujuan karir tersebut, bahkan kalau perlu mengembangkan strategi aktif agar dapat meraihnya. Misalnya: menjadi pelatih lumba-lumba dari sekarang mulai mempelajari reinforcement pada binatang, cari koneksi di Taman Safari atau Gelanggang Samudra, mulai coba-coba dengan melatih anjing, dst.

Mudah-mudahan melalui langkah diatas kita bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita, yang ‘gue banget gitu loch’. ;p Amin.

Sumber:

McDonald, M., Das, M. (2008). What to do with your psychology degree. E-book: McGraw-Hill Education

http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg

Lora




Jika ada yang memperhatikan posting sebelumnya dengan judul yang sama, maka saya hanya memberikan hal pertama yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Nah, pada posting ini saya mencoba memberikan hal penting kedua dari pertanyaan tersebut, yaitu mengetahui seperti apakah sumber daya yang dicari oleh perusahaan. Menurut penelitian Harvey, Moon dan Geall, 139 manajer di Inggris (yah sayangnya di Inggris, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran sedikit untuk kita di Indonesia) mengidentifikasi beberapa keahlian kunci yang mereka cari dari lulusan, antara lain (dalam McDonald & Das, 2008):

1. Intellect – including a range of attributes such as analysis, critique, synthesis and an ability to think things through in order to solve problems

2. Knowledge – understanding the basic principles of a subject discipline, general knowledge, knowledge of the organisation and commercial awareness, although in many organisations knowledge of something is much less important than the ability to acquire knowledge

3. Attitude to learning – a willingness and ability to learn and to continue learning, to appreciate that learning is an ongoing process

4. Flexibility and adaptability – be able to respond to change, to pre-empt change and ultimately lead change

5. Self-regulatory skills – self-discipline, time-keeping, ability to deal with stress, prioritisation, planning, and an ability to ‘juggle’ several things at once

6. Self-motivation – ranging from being a self-starter to seeing things through to a successful conclusion, and including characteristics such as resilience, tenacity, perseverance and determination

7. Self-assurance – including self-confidence, self-awareness, self-belief, self- sufficiency, self-direction and self-promotion

8. Communication – written and verbal, formally and informally, with a wide range of people both internal and external to the organisation

9. Interpersonal skills – the ability to relate to and feel comfortable with people at all levels in the organisation, as well as a range of external stake- holders, to be able to make and maintain relationships as circumstances change

10. Team work – often in more than just one team, and to be able to readjust roles from one project situation to another in an ever-shifting work situation.

Nah setelah mengetahui hal-hal penting akhirnya pertanyaan: “Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?” bisa segera dijawab! Jawabannya:

“BUAAANNYAAAAAAKKK……!”

Hahaha, kebetulan psikologi adalah ilmu yang berhubungan dengan manusia, dan setiap pekerjaan di dunia ini pasti memiliki unsur manusia didalamnya, maka seorang sarjana psikologi memiliki keberuntungan untuk memilih beragam pilihan karir. Bersyukurlah.

Pada penghujung tulisan ini saya ingin menawarkan e-book yang akan dengan senang hati saya share kepada Anda. Judulnya What to do with your psychology degree, didalamnya ada puluhan pilihan karir untuk gelar psikologi lengkap dengan job description, lingkungan pekerjaan, hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dari karir tersebut, keahlian yang dibutuhkan, bahkan ada average salary-nya (hoho tapi dalam poundsterling :P). Cukup membantu bagi para sarjana psikologi yang masih bingung dengan masa depannya ;). Bisa minta sendiri atau melalui e-mail di profile saya. Salam.

Lora


*taken from Flickr by Hellophotokitty
There cannot be true democracy unless women are given the opportunity to take responsibility for their own lives.”(Hillary Clinton)

Kebebasan menentukan pilihan adalah prinsip utama dalam bangun ideal emansipasi perempuan milik saya pribadi. Secara spesifik, prinsip tersebut saya maksudkan begini : perempuan, sebagaimana halnya pria, selayaknya mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Baiknya, perempuan tidak hanya menjadi bentuk “degradasi laki-laki” yang dianggap tidak mampu membuat keputusan untuk menentukan pilihannya, entah karena dinilai terlalu emosional atau tidak rasional. Cermati saja petikan kalimat berikut ini.

[A few years from now, your sole responsibility will be taking care of your husband and children. You may all be here for an easy A, but the grade that matters the most is the grade he gives you.]

Sementara pria dimanjakan oleh ragam pilihan hidup, hingga awal abad 18, peran utama yang ditegaskan oleh masyarakat kepada perempuan adalah sebagai istri dari seorang pria. Jane Austen (1775-1817) mengangkat permasalahan ini lewat tokoh-tokoh perempuan dalam novelnya. Elizabeth Bennet dalam Pride and Prejudice, Emma Watson dalam Emma, serta Elinor dan Marianne Dashwood dalam Sense and Sensibility memberikan gambaraan permasalahan yang utama, kalau bukan satu-satunya, perempuan saat itu : menemukan laki-laki yang tepat untuk membangun pernikahan yang ideal, di mana bobot ketepatan dan ideal digantungkan pada status kebangsawanan dan finansial. Menurut saya, Austen dengan jeli menyelipkan mimpinya akan kebebasan perempuan dengan mempromosikan cinta sebagai nilai dasar sebuah pernikahan, alih-alih status kebangsawanan dan finansial, dalam tulisannya. Harapnya, perempuan menyadari bahwa menikah adalah sebuah pilihan. Lebih indah dengan hadirnya cinta, lebih bahagia bila itu adalah sebuah pilihan bebas.
Bukankah memang soal kebebasan menentukan pilihan ini yang berulang kali diteriakkan oleh perempuan-perempuan revolusioner kepada dunia? Perjuangan perempuan Amerika di pertengahan abad 18 untuk memperoleh hak suara dalam politik di dunianya menunjukkan keinginan perempuan untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya pula. RA Kartini, disela menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, menyadari bahwa perempuan juga mempunyai hak, kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menyadari hal tersebut, ia mengambil kesempatan pendidikan yang dipunyainya dan menciptakan kesempatan yang sama bagi perempuan lainnya : memperjuangkan hak perempuan untuk mendapat pendidikan. Dengan menyadari bahwa kebebasan adalah modal yang dipunyainya, perempuan dapat melihat lebih luas lagi mengenai kesempatan yang tersedia untuknya. Ia dapat menyelami peluang-peluang yang ada, yang tak jarang ia ciptakan sendiri. Bukan semata karena ia harus bebas dari stigma sosial yang ada, melainkan karena itulah tugasnya sebagai manusia!
Sekarang ini, menjadi seorang istri dan ibu memang sudah tidak lagi menjadi pilihan yang wajib diambil oleh setiap perempuan. Perempuan dengan gagahnya telah meruntuhkan sebagian besar tembok kaca yang menghalangi mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia. Konsekuensinya, perempuan dan dunia harus siap untuk menghargai ragam bentuk pilihan yang digenggam oleh perempuan. Tanpa melecehkan, tanpa merendahkan.

[“Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?” “Yes, I’m afraid that you will.” “Not as much as I’ll regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.” “I didn’t say that. I-“ “Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul to her central hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I can do anything I wanted. This is what I want.”]

Saya menantikan hari di mana emansipasi perempuan sungguh terwujud, seperti yang dimimpikan perempuan-perempuan masa lalu yang terkungkung praktik patriarkhi, seperti yang selalu diperjuangkan perempuan-perempuan di pelbagai belahan dunia. Untuk itu, sambil menunggu hari itu tiba, saya akan senantiasa menggunakan kebebasan saya untuk menentukan pilihan hidup saya sendiri. (Gandhi pernah berpesan, ‘Jadilah perubahan yang ingin kau lihat pada dunia’)
Bagaimana dengan Anda? :’)

(Melita Tarisa)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)