Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Secara teoritis, dalam terminologi psikologi kesehatan, stres adalah kondisi di mana individu mempersepsikan adanya kesenjangan antara tuntutan fisiologis maupun psikologis dari lingkungan dengan sumber daya yang dimiliki individu untuk memenuhi kebutuhan tuntutan tersebut.

Tertekan menghadapi tiga buah ujian dalam hari satu yang sama karena merasa belum menguasai bahan;

mengeluh karena harus melakukan rangkaian gerak senam lantai sementara rasanya koordinasi gerak motorik diri tidak mendukung;

tidak percaya diri saat harus memimpin sebuah organisasi; dan

merasa tidak cukup menarik untuk mendapatkan hati gebetan

adalah beberapa contoh implikasi pemahaman stres tersebut. Mudahnya, kita dikatakan sedang stres saat ada stressor (challenging events; tuntutan lingkungan) yang kita nilai tidak cukup terpenuhi oleh kemampuan kita (resources; sumber daya).

Nah, saat stres, apa sih yang kemudian kita lakukan? Mencari pelipur lara, lari dari kenyataan, atau secara heroik menyelesaikan masalah yang menjadi penyebabnya? Pilihan apapun yang Anda ambil, (lagi-lagi) secara teoritis dikenal sebagai coping. Karena stres melibatkan adanya persepsi kesenjangan, maka coping dapat dirumuskan sebagai upaya untuk mengatasi persepsi kesenjangan tersebut. Sebagai sebuah upaya, coping tidak selalu mengarah pada penyelesaian masalah (stressor-nyah). Anda bisa saja "berserah pada Tuhan" dalam menghadapi ujian karena itu membantu Anda merasa lebih mampu menghadapinya. Walaupun itu tidak membuat Anda dalam sekejap menguasai bahan, bukankah ada pepatah "do your best and let God do the rest"?

Dalam coping, Anda dapat melakukannya problem-focused (P), yang menitikberatkan pada upaya pemecahan masalah, dan atau emotion-focused (E), yang menekankan pada regulasi emosi. Berikut adalah beberapa bentuk strategi coping yang dirangkum Folkman dan Lazarus sepanjang penelitian mereka :

1. Planful problem-solving (P), di mana Anda melakukan analisa terhadap situasi untuk mendapatkan solusi dan didukung oleh pengambilan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah. Tahu bahwa Anda akan menghadapi tiga ujian sekaligus di hari Senin, Anda kemudian menimbang-nimbang waktu yang Anda punyai untuk belajar; tingkat kesulitan sekaligus banyaknya bahan tiap ujian untuk dapat menentukan bahan mana yang akan Anda pelajari lebih dulu; proporsi waktu belajar; dan cara belajar apa yang efektif.

2. Confrontive coping (P). Dalam melaksanakan strategi ini, Anda berani untuk melakukan respon yang asertif untuk merubah situasi. Anda melancarkan keberatan pada dosen atau pihak fakultas tentang dilaksanakannya tiga ujian sekaligus dalam satu hari, misalnya.

3. Seeking social-support (P/E). Strategi ini dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah maupun untuk regulasi emosi. Cemas menghadapi keharusan melakukan repertoire senam lantai yang sulit, Anda bisa meminta bantuan seorang teman untuk melatih Anda (P) atau berkeluh kesah pada sahabat (E).

4. Distancing (E) terjadi saat Anda, umumnya secara kognitif, "menjauhi" permasalahan yang Anda hadapi. Entah Anda berusaha tidak memikirkan repertoire senam lantai yang belum dikuasai atau Anda membangun pemahaman, "Ah, itu kan cuma untuk nilai olahraga ajah. Gurunya juga nilai usaha kita, yah, gak pusing lah."

5. Escape-Avoidance (E). Dalam pelaksanaannya, Anda "melarikan diri" dari masalah yang Anda hadapi. Anda dapat melakukannya dengan tenggelam dalam pikiran bahwa masalah tersebut dapat terselesaikan dengan sendirinya atau Anda menyerah latihan senam lantai karena sudah pasrah.

6. Self-control (E) adalah hal-hal yang mencakup pengendalian diri untuk memodulasi emosi. Anda mungkin murah hati memberikan toleransi pada kekurangan anggota organisasi yang Anda pimpin atau bahkan berusaha menutup-nutupi kecemasan Anda memimpin organisasi tersebut.

7. Accepting Responsibility (E). Ketika Anda menyadari posisi dalam permasalahan sekaligus berupaya memperbaiki keadaan. Saat organisasi yang Anda pimpin tidak berhasil mencapai target yang diharapkan (memenangkan suatu kompetisi, misalnya), Anda mungkin saja melihatnya sebagai akibat dari ketidakmampuan Anda melakukan pembagian kerja yang baik. Untuk itu, Anda menerima kekurangan tersebut dan melakukan perbaikan pembagian kerja.

8. Positive reappraisal (E) adalah saat Anda mencoba mendapatkan pemahaman positif dari sebuah masalah. Walaupun Anda patah hati karena merasa tidak cukup menarik sehingga si gebetan tidak memperhatikan Anda, hal tersebut Anda lihat sebagai pengalaman berharga yang mengajarkan sesuatu.

Secara umum, tidak dapat ditentukan strategi manakah yang paling baik untuk mengatasi stres. Bahkan, kita cenderung untuk mengkombinasikan strategi di atas. Sangat mungkin Anda meninggalkan masalah tersebut sejenak untuk menjernihkan pikiran sebelum berkutat menyelesaikannya. Ada begitu banyak varian masalah yang menyebabkan stres yang berbeda-beda dan, tentunya kita pun dapat memilih strategi yang tepat untuk mengatasinya.

Dengan memahami stres sekaligus strategi coping, saya harap hidup Anda menjadi lebih "mudah". Idealnya, kunci-kunci mengatasi stres telah diketahui. Nah, dapatkah Anda mencocokkan kunci-kunci tersebut?

(Melita Tarisa)


Produksi: Metro Communications (2006)
Sutradara: Eytan Fox
Cast: Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin

Saya menonton The Bubble di salah satu komunitas kreatif di Bandung, Reading Lights Writer's Circle. Film ini bercerita tentang romantisme antara dua orang pria yang bertemu di medan perang. Naom, seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tentara Israel, bertemu dengan Ashraf, seorang warga negara Palestina. Tidak diceritakan bagaimana mereka bisa saling mengenal dan saling suka, tiba-tiba cerita loncat ke bagian Ashraf mengunjungi Naom di Tel Aviv, Israel.

Layaknya Romeo dan Juliet, begitu pula dengan Naom dan Ashraf, hanya saja cerita ini dilatarbelakangi dengan keadaan politik yang panas antara Israel dan Palestina. Cinta mereka terhalang oleh pandangan miring orang Israel terhadap Palestina sehingga warga Palestina tidak bisa bekerja di Israel dan inilah yang membuat Ashraf terpaksa pergi jauh dari Naom.

Hubungan mereka diperparah dengan kondisi politik yang kian mengancam. Satu saat, kakaknya Ashraf yang baru menikah, tidak sengaja tertembak oleh tentara Israel. Kakak iparnya pun merencanakan misi balas dendam terhadap Israel. Namun karena tekanan rasa bersalah terhadap kakaknya, Ashraf yang mengambil alih misi itu.

Melihat film ini membuat saya berpendapat bahwa perang adalah hal yang tidak adil. Bagaimana bisa dua pemerintahan saling berseteru untuk mendapatkan sesuatu atas negara tapi mengorbankan penduduknya sendiri? Masyarakat sipil harus terkena imbas dengan pengawalan ekstra ketat atau dicurigai macam-macam padahal mereka tidak tahu apa-apa adalah hal yang tidak adil. Nafsu untuk menguasai membuat manusia jauh dari zaman yang beradab. Negara, rumah, manusia tidak lebih dari sebuah miniatur kecil yang bisa diporak-porandakan jika si penguasa sudah bosan.

Film ini mengandung konten dewasa. Hal ini patut diketahui jika ingin ditonton bersama keluarga atau bersama anak di bawah umur. Tidak ada adegan darah-darahan atau kata-kata kasar. Jangan berharap bahwa film ini dapat dihubungkan dengan keadaan Israel dan Palestina sekarang karena film ini murni romantisme.

(Nia)

Kebahagiaan. Bila dibicarakan, tidak akan ada titik temunya karena hal tersebut sangatlah pribadi. Ada orang yang bahagia hanya dengan makan teratur 3 hari sekali, ada juga orang yang tidak bahagia meski sudah memiliki mobil lebih dari 1. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang sangat pribadi bila kita menanyakan pada diri kita masing-masing, namun tidak sedikit penelitian psikologi yang dilakukan untuk mengetahui apa itu "bahagia" dan mengalami "kebahagiaan" sebagai upaya 'menggeneralisasi' arti kebahagiaan.

Bicara tentang penelitian tentang kebahagiaan, hal tersebut sudah menjadi perhatian para ilmuwan psikologi untuk menjadi kajian ilmiah. Tujuannya hanya 1: menemukan rumus umum bagi manusia untuk bahagia, meskipun setiap orang memiliki makna kebahagiaannya sendiri-sendiri. Ada beberapa ilmuwan Psikologi yang telah menemukan kebahagiaan dengan pemaknaannya masing-masing dari hasil penelitian. Sebut saja Veenhoven, Psikolog asal Belanda yang mengatakan satu kalimat, "Bahkan surga pun akan menjadi neraka bila kita berpikir bahwa surga itu tidak menyenangkan". Ia mengemukakan bahwa bahagia atau tidak, bergantung pada bagaimana kita memandang hidup, bagaimana kita bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki. Arbiyah (2008) yang meneliti tentang hubungan antara rasa bersyukur dengan kebahagiaan menemukan bahwa rasa bersyukur memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan. Semakin besar rasa bersyukur seseorang, maka semakin bahagia pula orang tersebut.

Sonja Lyubomirsky, seorang psikolog Amerika yang berasal dari Rusia tertarik meneliti tentang kebahagiaan karena pada masa kecilnya di Amerika, ia terheran-heran melihat orang-orang yang murah senyum padanya - sesuatu yang tidak biasa dilihatnya di negara asalnya, Rusia. Ia mendefinisikan seseorang yang bahagia adalah seseorang yang sering merasakan emosi positif, seperti: senang, riang, bertekad, dan emosi-emosi lainnya. Penemuan Sonja tersebut baru hanya melingkupi aspek 'emosi' atau aspek perasaan seseorang.

Ed Diener, seorang psikolog yang sudah lama mengkaji mengenai kebahagiaan atau "Subjective Well-being" (menurut istilahnya) mengatakan bahwa ada 2 aspek yang harus dipertimbangkan saat menelaah apakah seseorang telah mengalami kebahagiaan. Kedua aspek tersebut adalah aspek afektif (emosi) seperti yang telah dikatakan Sonja Lyubomirsky dan aspek kognitif. Kebahagiaan pada aspek kognitif seseorang dilihat dari seberapa puaskah seseorang terhadap hidupnya dengan terlebih dahulu menimbang-nimbang apa yang telah ia miliki dan jalani. Salah satu pertanyaan yang dapat mengindikasikan apakah seseorang telah puas secara kognitif adalah, "Bila ada kesempatan untuk mengulang hidup anda, sejauh apakah anda ingin mengubah hidup anda?".

Lain halnya dengan Martin Seligman, Presiden American Psychological Association dan pendiri aliran psikologi Positif, yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya atau "Authentic Happiness" akan didapat apabila seseorang menjalankan apa yang sesuai dengan karakter moral, yaitu hal yang kita anggap sesuai dengan pandangan hidup kita. Ia menyebutkan ada 6 karakter moral utama yang ada pada manusia dan keenam karakter moral tersebut berbeda-beda pada masing-masing individu.

Penelusuran mengenai kebahagiaan sudah menjadi hal yang menarik umat manusia sejak beribu-ribu tahun lalu. Filsuf Yunani kuno membedakan 2 jenis kebahagiaan, yaitu eudaimonia dan hedonis. Telah menjadi pertanyaan apakah seseorang bahagia karena telah mencapai hal yang diinginkannya ataukah ia bahagia karena sedang menjalani hal yang diinginkannya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai kebahagiaan yang tidak dapat dijawab dengan sederhana. Meskipun begitu, sebagai bentuk kontribusi kita terhadap penemuan 'rumus' kebahagiaan hidup, mungkin kita semua dapat merenungkan apa arti kebahagiaan menurut diri kita masing-masing.

Seperti biasa, sabtu dan minggu sore adalah waktu kesenangan saya karena ada acara Nanny 911 dan Super Nanny di Metro TV. Saya suka acara itu karena acara itu memberikan pada saya asupan dari gambaran penerapan psikologi di kehidupan nyata. Tapi, ada satu hal menarik yang baru diperhatikan oleh otak saya yang lambat mencerna informasi pada saat saya nonton acara-acara itu minggu ini: konsep acara yang sedemikian rupa dari acara-acara itu menyebabkan peran antagonis dan protagonis di kedua reality show itu menjadi terbalik.

Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.

Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.

Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.

Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.

Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:
Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.
Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.
Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.

Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.

Untuk semua psigoblog reader, psigoblog writer, dan semua manusia di bumi ini, selamat tahun baru 2009! semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua..!


Halo semua, apa kabar? Saya harap semua dalam kondisi kesehatan yang fit di akhir tahun 2008 ini. Setiap pergantian tahun tentu selalu ada refleksi mengenai apa yang telah terjadi pada hari-hari di tahun terakhir ini. Semua kesalahan, kebahagiaan, kegagalan, kemenangan, ataupun kesempatan, semuanya bergejolak memenuhi tempat di sudut otak penganalisa saya. Setelah mengevaluasi apa yang telah terjadi, yah seperti kebanyakan orang lainnya, saya pun kemudian mencoba untuk membuat resolusi 2009, apa yang akan saya lakukan, dan target-target hidup di tahun mendatang. Lalu saya teringat salah seorang teman yang men-tag saya pada notes-nya di Facebook.

Sekitar minggu lalu, teman saya ini mengutarakan kekhawatiran akan kelulusan yang ada di depan matanya. Melalui tulisannya, ia terlihat ragu apakah ia mampu menghadapi tuntutan bagi seorang S.psi. Oleh karena itu dalam notes-nya yang cukup panjang itu ia menjabarkan list kemampuan yang harus dimiliki Sarjana Psikologi. Saya memang tidak memiliki semua kemampuan yang dituliskan disana, tapi toh saya juga tidak menyukai pekerjaan konvensional dibalik meja. Pemikiran tersebut membawa saya pada pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Sebelum menjawab pertanyaan diatas terlebih dahulu harus memperhatikan beberapa hal penting. Pertama adalah memilih pekerjaan yang cocok untuk diri sendiri. McDonald dan Das (2008) memberikan empat tingkatan dalam pemilihan karir:

  • 1. Self-awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keahlian, kemampuan, kesukaan, nilai, keinginan, lingkungan pekerjaan yang disuka, dan pertimbangan gaya hidup. Misalnya seseorang yang tidak menyukai lingkungan pekerjaan kompetitif akan mempertimbangkan hal tersebut untuk mengambil pekerjaan yang lebih personal dan bebas. Contoh pertanyaan yang menyangkut self-awareness:

· Do I like dealing with members of the public?

· Do I like working alone or in an open-plan office as a part of a team?

· Do I want to work in a busy dynamic workplace, or a less pressured, more sedate environment?

· Do I want to earn a lot of money?

· Do I need autonomy and independence in how I work?

· Do I like a variety of tasks or do I want to be a specialist?

· Do I want to eventually become a manager with lots of responsibilities, or am I happy being a member of a team?

  • 2. Opportunity awareness: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai industri atau organisasi spesifik yang membuatnya tertarik, dan melihat kemungkinan jika ia bisa bekerja ditempat tersebut. Misalnya saya menjadi seorang pelatih lumba-lumba, yah masih mungkinlah secara lumba-lumba dilatih dengan prinsip belajar punishment-reinforcement. ;p
  • 3. Evaluation and decision making: mengevaluasi pilihan karir yang dipilih, membuat daftar pro dan kontra, serta memutuskan tujuan. Misalnya menjadi pelatih lumba-lumba, pro-nya: pekerjaan menyenangkan, tidak terlalu kompetitif, bebas dan personal, lots of fun. Kontra-nya: bau, kemungkinan kecelakaan tinggi karena licin, penghasilan segitu-gitu aja. Nah dari daftar tersebut ditentukanlah kira-kira karir apa yang paling baik buat diri Anda.
  • 4. Taking action: mengidentifikasi langkah-langkah apa saja yang menjadi kebutuhan untuk dapat meraih tujuan karir tersebut, bahkan kalau perlu mengembangkan strategi aktif agar dapat meraihnya. Misalnya: menjadi pelatih lumba-lumba dari sekarang mulai mempelajari reinforcement pada binatang, cari koneksi di Taman Safari atau Gelanggang Samudra, mulai coba-coba dengan melatih anjing, dst.

Mudah-mudahan melalui langkah diatas kita bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita, yang ‘gue banget gitu loch’. ;p Amin.

Sumber:

McDonald, M., Das, M. (2008). What to do with your psychology degree. E-book: McGraw-Hill Education

http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg

Lora




Jika ada yang memperhatikan posting sebelumnya dengan judul yang sama, maka saya hanya memberikan hal pertama yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan:

“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”

Nah, pada posting ini saya mencoba memberikan hal penting kedua dari pertanyaan tersebut, yaitu mengetahui seperti apakah sumber daya yang dicari oleh perusahaan. Menurut penelitian Harvey, Moon dan Geall, 139 manajer di Inggris (yah sayangnya di Inggris, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran sedikit untuk kita di Indonesia) mengidentifikasi beberapa keahlian kunci yang mereka cari dari lulusan, antara lain (dalam McDonald & Das, 2008):

1. Intellect – including a range of attributes such as analysis, critique, synthesis and an ability to think things through in order to solve problems

2. Knowledge – understanding the basic principles of a subject discipline, general knowledge, knowledge of the organisation and commercial awareness, although in many organisations knowledge of something is much less important than the ability to acquire knowledge

3. Attitude to learning – a willingness and ability to learn and to continue learning, to appreciate that learning is an ongoing process

4. Flexibility and adaptability – be able to respond to change, to pre-empt change and ultimately lead change

5. Self-regulatory skills – self-discipline, time-keeping, ability to deal with stress, prioritisation, planning, and an ability to ‘juggle’ several things at once

6. Self-motivation – ranging from being a self-starter to seeing things through to a successful conclusion, and including characteristics such as resilience, tenacity, perseverance and determination

7. Self-assurance – including self-confidence, self-awareness, self-belief, self- sufficiency, self-direction and self-promotion

8. Communication – written and verbal, formally and informally, with a wide range of people both internal and external to the organisation

9. Interpersonal skills – the ability to relate to and feel comfortable with people at all levels in the organisation, as well as a range of external stake- holders, to be able to make and maintain relationships as circumstances change

10. Team work – often in more than just one team, and to be able to readjust roles from one project situation to another in an ever-shifting work situation.

Nah setelah mengetahui hal-hal penting akhirnya pertanyaan: “Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?” bisa segera dijawab! Jawabannya:

“BUAAANNYAAAAAAKKK……!”

Hahaha, kebetulan psikologi adalah ilmu yang berhubungan dengan manusia, dan setiap pekerjaan di dunia ini pasti memiliki unsur manusia didalamnya, maka seorang sarjana psikologi memiliki keberuntungan untuk memilih beragam pilihan karir. Bersyukurlah.

Pada penghujung tulisan ini saya ingin menawarkan e-book yang akan dengan senang hati saya share kepada Anda. Judulnya What to do with your psychology degree, didalamnya ada puluhan pilihan karir untuk gelar psikologi lengkap dengan job description, lingkungan pekerjaan, hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dari karir tersebut, keahlian yang dibutuhkan, bahkan ada average salary-nya (hoho tapi dalam poundsterling :P). Cukup membantu bagi para sarjana psikologi yang masih bingung dengan masa depannya ;). Bisa minta sendiri atau melalui e-mail di profile saya. Salam.

Lora


User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)