Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Dua tahun lalu dunia dikejutkan oleh ‘kenyataan yang tidak mengeenakkan’ oleh mantan wakil presiden Amerika Serikat yang juga seorang ilmuwan bernama Al Gore. Ia mengatakan bahwa bumi sekarang sedang menderita ’penyakit’ yang disebut pemanasan global (atau nge’trend dengan sebutan global warming).

Kampanye global warming ini bisa dikatakan sangat berhasil karena semenjak film dan buku ’An Inconvenient Truth’ beredar, semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga bumi dari eksploitasi manusia.

Istilah global warming memang baru nge-boom akhir-akhir ini, begitu juga dengan gerakan ’stop global warming’ yang menjamur, namun ternyata keprihatinan terhadap lingkungan hidup telah lama dikumandangkan oleh para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu, salah satunya adalah psikologi.

Tahun 1992 misalnya, Theodore Roszak dalam bukunya The Voice of Earth memperkenalkan gerakan ecopsychology,
”At its deepest level, psychology is the search for sanity. And sanity at its deepest level is the health of the soul. In this respect, psychology, whatever techniques it may use, is necessarily a philosophical pursuit…at some point, the healthy animals we once were..lost that primal sanity and grew up to become the bad mothers and fathers who made all the bad institutions.
Within the framework of an echopsychology, we raise the question: how did a psyche that was once symbiotically rooted in the planetary ecosystem produce the environmental crisis we now confront?

Mengapa manusia seakan mengambil jarak dengan lingkungan? Menganggap hubungan dengan bumi bersifat eksploitatif dan bukan mutualis?

Freud adalah salah satu kontributor yang memberikan pandangan modern terhadap hal ini. Freud mengatakan bahwa alam adalah seperti ketidaksadaran id yang dimiliki manusia – liar, sulit dijinakkan, perlu dibimbing, dikendalikan, sehingga sumber dayanya terus menerus tersedia bagi kita, dan jangan biarkan ia (id / alam) yang menaklukkan kita. Pandangan ini sangatlah memprihatinkan. Dalam bukunya Civilization and Its Discontent, Freud menambahkan:
”Tugas dari sebuah peradaban adalah ’kita’ melawan alam. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari ilusi bahwa sebenarnya bumi telah kalah!”

Pandangan lain juga dikemukakan Freud mengenai hubungan manusia-alam (kayanya bagi Freud, belum afdol klo belum ada esek-esek-nya haha). Dalam perspectifnya ini, hubungan dengan alam disejajarkan dengan hubungan sexual manusia,
”Man asserts and initiates, thrusts out, explores and embraces ’Mother Nature’ while the earth receives, responds, and (re)produce.

Sekejam itukah manusia? Seburuk itukah hubungan manusia dengan alam?

Ya. Suka tidak suka memang itulah yang selama ini ras manusia, kita, lakukan terhadap bumi. Kita menggunakan defense mechanism sebagai pembenaran dan menyelimuti nafsu egoistik terhadap bumi dengan topeng menjijikan, serta menyembunyikan kenyataan dari diri kita sendiri (bahwa bumi sedang sekarat), semata-mata hanya untuk meredakan kecemasan kita.

Kita melakukan:
  1. Denial, ketika tingkah laku tidak-bersahabat terhadap lingkungan muncul (kita membenarkan tindakan kita dengan cara sarkasme, avoidance, ataupun humor), misalnya ’toh ada yang bersihin klo gue buang sampah sembarangan, lagipula gue bayar uang kebersihan!’
  2. Rasionalisasi, ketika konsumsi berlebihan kita meyakinkan diri, misalnya dengan mengatakan bahwa ’kota besar memang membutuhkan konsumsi energi yang besar, jakarta panass wajar dunk AC gue terus nyala.’
  3. Supresi untuk menghilangkan kesadaran dan rasa bersalah kita mengenai pembuangan karbon dioksida (Aku jadi ingat ketika dulu aku masih remaja dan mengingatkan orang tuaku bahwa pembuangan mobil kami – Panther Diesel – waktu itu sangatlah kotor, mereka serta merta lansung memarahi aku tanpa rasa bersalah dan tanpa kesadaran bahwa we actually are responsible).
  4. Displacement kebiasaan untuk mendaur ulang dibandingkan dengan mengurangi konsumsi (yang memang lebih sulit), misalnya ’tidak masalah menggunakan kertas, karena pada akhirnya akan didaur ulang kok – padahal hanya mencoba mencari mudahnya saja’
  5. Proyeksi dengan mengatakan apa yang dianggap baik oleh pemerintah, developer, dsb (padahal kegiatan merusak bumi, yang menguntungkan untuk kita), juga baik bagi kita, ’pemerintah masih memperbolehkan penggunaan stereoform kok’
  6. Sublimasi dengan memberikan donasi jor-jor an, menulis tulisan indah ’stop global warming’, dsb tanpa benar-benar mengubah gaya hidup dan tingkah laku kita terhadap alam!

Dan masih banyak lagi pembenaran diri yang kita lakukan ketika menyakiti bumi! Wah-wah, ternyata kesemuanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari!

Bumi yang kita lihat sekarang adalah layar proyeksi besar dari ketidaksadaran manusia yang eksploitatif dan ’jahat’ (Lihat tulisan sebelumnya yang berjudul ’Why Prejudice’ mengenai ketidaksadaran manusia dan tingkah laku unfavorable). Untuk mengubah kenyataan ini, nampaknya manusia harus terlebih dahulu berdamai dengan ketidaksadarannya sendiri. Berusaha menjadi lebih reflektif dan lebih peka terhadap tingkah laku kita.

Memang bukanlah hal yang mudah, karena defense mechanism diatas telah terbentuk bertahun-tahun dalam diri setiap manusia, bahkan beribu-ribu tahun jika membicarakan hubungan ras manusia-alam. Sebelum semuanya terlambat, perubahan harus dilakukan sekarang! So?


”Open your eyes. Barely see our dying Mother Earth. Change our attitude, and let’s start a brand new healthy relationship with her.”

(Lora)

Sumber:
Roszak, Theodore. (1992). The Voice of Earth. New York: Simon & Schuster
Sneep, John. (2007). Ecopsychology: An Introduction and Christian Critique. Journal of Psychology and Christianity 26; 2:166-175
(Gambar diambil dari www.solcomhouse.com)



Pernahkah Anda merasa berada dalam suatu kebiasaan yang terus menerus Anda ulang? Walaupun dalam hati Anda, Anda mengetahui bahwa hal tersebut salah dan tidak baik bagi hidup Anda? Anda berusaha keluar dari kebiasaan Anda, namun berulang kali jatuh pada lubang yang sama dan seakan berada di lingkaran setan yang tidak bisa Anda hentikan siklusnya.

Dunia mengetahui konsep evolusi pertama kali ketika Darwin mempublikasikan bukunya yang berjudul
On the Origin of Species (1859). Darwin mengatakan bahwa setiap makhluk hidup berjuang untuk memperoleh posisinya di bumi kita ini melalui proses survival of the fittest, dimana makhluk yang paling tepat akan bertahan hidup.

Kemudian dunia kembali digemparkan oleh Freud yang mengatakan bahwa manusia bukan hanya memiliki insting untuk hidup (yang dalam bahasa Freud ’
eros’), namun juga memiliki insting untuk mati (’thanatos’). Benarkah demikian? Kalau begitu insting kematian sangatlah bertolak belakang dari prinsip bertahan hidup yang biasanya dimiliki oleh hewan dari species manapun! Bahkan lebih lanjut Freud mengatakan bahwa insting kematian ini memiliki dorongan yang lebih kuat dibandingkan dengan insting untuk hidup.

Apa buktinya? Yang jelas terlihat adalah kasus bunuh diri. Sisanya adalah bukti bahwa manusia sering melakukan tindakan yang sifatnya self-destructive, dengan kata lain menyakiti diri sendiri dengan cara mengulang tingkah laku yang mendatangkan ’harm’ bagi diri. Seringkali mencoba untuk keluar, namun tetap terjatuh pada kesalahan yang sama. Dan sering sekali mengeluh tentang hal tersebut!

Saya memiliki teman yang tidak bisa mengontrol pola makannya. Ia sering mengeluh ketidaknyamanan dirinya ketika mengkonsumsi banyak makanan, ’terlalu begah’ katanya. Namun dengan segala keluhannya itu, ia tetap tidak bisa mengontrol pola makannya. Tetap menikmati dalam memakan dan selalu mengeluh seusainya. Kenyataan tentang pola makan ini bukan hanya dialami oleh mereka yang kelebihan berat badan (obesitas), bahkan saya pun tidak bisa mengontrol pola makan, hehe, walaupun tubuh saya tidaklah gemuk.

Lain cerita, saya memiliki teman lain selalu mengeluhkan mengenai hubungannya dengan wanita. Ia terus menerus mengencani wanita cantik yang hanya berorientasi pada uang yang ia miliki. Saya sempat tenang ketika ia berhasil mengakhiri hubungannya dengan wanita ’matre’ pertama, namun kemudian ia kembali menjalani hubungan yang sama dengan wanita cantik lainnya yang hanya menginginkan materi darinya. Berulang kali saya mencoba menyadarkan dia, bahkan ia pun menyadari hal yang sama. Namun tetap saja tidak bisa keluar dari hubungan ’materialistik’ tersebut dan terus menerus mengeluhkan hubungannya setiap berkesempatan meneleponku. Mungkin hal serupa terjadi pada mereka yang terus menerus mempertahankan hubungan abusive dengan justifikasi cinta.

Contoh-contoh ekstrim diatas mungkin tidak dialami oleh Anda, namun salah satu dari tingkah-laku-mengarahpada-penghancuran-diri ini Anda miliki (diambil dari suite101.com):
  1. Emotional eating, or eating too much or too little
  2. Drinking too much or alcoholism
  3. Unsafe, unprotected promiscuity
  4. Drug addiction
  5. Working all the time, workaholic
  6. Constant misery, complaining, or sour attitude - a common form of repeating the past
  7. Chronically choosing the wrong man or woman
  8. Picking the same type of friends (bad ones)
  9. Chronic negativity or pessimism
  10. Trying to "make" others love us - another common form of repeating the past
  11. Constant financial struggles
  12. Persistent struggles with illness or disease
Tambahan hal sehari-hari yang bisa kita temui: perilaku agresi terus menerus (seperti marah) pada akhirnya pun membawa diri kita pada self-destructive, begitu juga dengan gosip yang bisa saja berujung pada prasangka terhadap orang lain yang akhirnya bisa menggerogoti diri Anda sampai menumbuhkan kebencian berakar dihati Anda.

Intinya setiap perilaku yang Anda ketahui buruk jika terus dilakukan, namun terus Anda lakukan, dan tingkah laku itu bisa membawa Anda ‘menghancurkan’ diri Anda sendiri, adalah
Repetition Compulsion. Mungkin selama ini belum Anda sadari, tapi tingkah laku itu perlahan-lahan mengikis kebahagiaan Anda, sampai akhirnya kesehatan dan kehidupan Anda.

Insting ini dimiliki setiap manusia.

Bagaimana cara menghentikannya?

Pertama, kita harus mengetahui bahwa pada dasarnya kita memiliki ketidak-sadaran yang mendorong kita untuk melakukan tingkah laku destructive yang sama secara terus menerus. Cara untuk menghentikannya adalah membawa ketidak-sadaran itu ke kesadaran dengan cara
self-awareness. Kenalilah diri Anda, apa yang Anda inginkan, apa yang Anda butuhkan. Jujurlah terhadap diri sendiri mengenai tingkah laku yang walaupun Anda tolak berada dalam diri Anda, namun sebenarnya Anda miliki. Setelah itu atasilah pikiran-pikiran dan perasaan Anda itu. Cari masalahnya, selesaikan masalahnya, lalu seyogyanya Anda dapat hentikan repetition compulsion ini.

Misalnya pada teman saya yang selalu jatuh cinta pada orang yang salah: kenalilah kebutuhan (kebutuhan untuk dicinta, kebutuhan untuk mendapatkan wanita cantik), mengapa? (karena ketakutan sendiri, atau tidak dicintai oleh orang lain), yang dirasakan ketika diperdaya (kesal karena tidak ada cinta, yang ada hanyalah ’pembelian cinta’ dengan materi), solusi masalah (mencari wanita yang tepat yang bisa mencinta dan bukan sekedar ’dibeli’ dengan uang).

Memang sangatlah mudah untuk mengatakan solusi, namun bagaimanapun juga perubahan yang menyakitkan dan mungkin bisa jadi perjalanan panjang ini akan berbuah hal yang manis bagi Anda:
Well-being. Keutuhan hidup yang Anda jalani, dan senyum manis pada setiap hari Anda..



”Now, it is your decision to CHANGE. Or just simply stay where you are, destructing yourself slowly by doing these repetition compulsions. You choose!”

(Lora)
(gambar diambil dari http://www.xoospace.com/myspace/graphics/19100.jpg)



Mari bermain permainan “membongkar kepribadian teman anda”. Cara memainkan permainan ini adalah dengan melihat lingkungan hidup teman anda. Coba tengok kamar tidur atau meja kerja teman anda, dan silakan membuat kesimpulan mengenai kepribadiannya. Jangan takut salah, karena psikolog Samuel Gosling menemukan bahwa ternyata manusia mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menebak kepribadian orang lain berdasarkan hal-hal yang berada di sekitar orang tersebut. Yang anda butuhkan adalah sedikit latihan (cocokkan tebakan anda dengan kepribadian sebenarnya teman anda, dengan mengkonfirmasi padanya atau pada rekan sejawatnya), dan anda bisa menjadi Sherlock Holmes bagi diri anda sendiri.

Ada dua set dari kumpulan pertanda yang dapat anda jadikan sebagai bahan anda untuk menyimpulkan kepribadian orang. Set yang pertama adalah “identity claims” atau hal-hal yang secara sadar digunakan seseorang sebagai simbol yang menggambarkan dirinya. Sebagai contoh, jika anda suka orang yang pintar, perhatikan taraf kesulitan dari buku-buku koleksi yang ada di kamarnya. Jika anda mencari orang yang lembut, perhatikan jika ada pernak-pernik lucu di meja kerjanya. Jika anda ingin berdekatan dengan orang yang suka bergaul, perhatikan apakah dia menempelkan foto-foto dirinya yang sedang bermain bersama teman-temannya di folder foto facebook-nya atau lihat apakah ada banyak barang-barang pribadi yang dia letakkan di tempat umum (misal, di dalam loker sekolah).

Seperangkat bukti kedua adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah “behavioral residues”, yaitu tanda-tanda kepribadian seseorang yang ditinggalkan secara tak sadar. Kotak CD yang berserakan bisa mengungkapkan selera musik orang tersebut (serta tingkat kerapian si empunya CD). Pemilihan warna-warna yang mendominasi tempat hidup seseorang juga dapat menjadi alat untuk membongkar kepribadian. Selain dari tingkat kecerahan warna (makin cerah, makin ceria), banyaknya variasi warna yang digunakan juga memberi arti tersendiri (jika penampilan seseorang didominasi oleh misalnya, warna pink, kita bisa menebak bahwa dia sedikit bersifat obsesif).

Selain tebakan yang bersifat umum di atas, ada juga tebakan yang lebih didasarkan pada sifat orang tersebut. Concientiousness (kemandirian dalam mengambil keputusan) dapat dilihat dari kondisi ruangan yang bersih dan terorganisir. Openness (kemampuan untuk beradaptasi dengan pengalaman, cara pandang, dan kebiasaan baru) dapat dideteksi melalui pernak-pernik yang unik atau banyaknya buku-buku yang ada di dekat orang tersebut.

Masih membicarakan mengenai menebak sifat seseorang, sifat disiplin dan dapat diandalkan bisa dilihat dari hadirnya ruangan (atau meja kerja) yang bersih dan rapi. Anda juga dapat menebak stabilitas emosi seseorang dari tingkat ke-feminin-an lingkungan teman anda.

Bagaimana? Cukup mudah, bukan? Tata letak, banyaknya barang pribadi, sampai genre dari CD yang ditemukan di meja kerja, kamar, dan profile myspace teman anda memberikan petunjuk mengenai kepribadian teman anda. Silakan anda saling menebak kepribadian dengan teman anda! Kegiatan itu akan menjadi sebuah kegiatan yang cukup menyenangkan dan menambah keakraban. Atau, jika besok-besok ada seseorang yang mengajak anda kencan, anda bisa mengecek dulu kecocokan kepribadiannya dengan kepribadian anda sebelum melangkah lebih jauh. Judge a book by it’s cover! But judge it carefully. (Dion)

Ayu Utami, penulis yang memulai karirnya sebagai wartawan di zaman Orde Baru. Jangan heran jika novel-novelnya selalu memiliki aroma kemiliteran dan pemerintahan.
Seperti novel Bilangan Fu ini, yang memiliki 536 halaman. Beruntung kertasnya cokelat, bukan HVS 80 gram, karena akan sangat pas untuk memukul orang yang Anda kasihi.
Kali ini, Ayu Utami memberikan nafas spritualisme kritis pada novelnya. Ia mengangkat wancana spritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik. Novel ini bercerita mengenai seorang pemanjat tebing yang bernama Yuda - seseorang yang mengabaikan nilai-nilai lama, takhayul, budaya, dan sangat membenci televisi ini - memiliki sahabat baru yang misterius bernama Parang Jati. Melalui Parang Jati, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai melihat nilai-nilai budaya yang selama ini ia abaikan, ia belajar menghormati alam, ia belajar menghormati apa yang biasanya ia sebut sebagai takhayul (misalnya sesajen, Nyi Rara Kidul, dan lainnya) hanya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih terhadap alam, bukan untuk dipuja sebagai berhala. Novel ini juga menggambarkan bagaimana tokoh yang bernama Kupu, seorang muslim fanatik, yang digambarkan seperti sekelompok orang di Indonesia (you know, lah). Jelas novel ini berisikan tidak kesetujuan Ayu Utami akan monetheisme, tidak setuju dengan orang-orang yang mencari kebenaran ilahi melalui cara-cara kekerasan. Ayu Utami pun dengan kritisnya menambah berbagai macam pengetahuan dari mulai Babad Tanah Jawi (sejarah Jawa berdasarkan kisah kerajaan) sampai ilmu pengetahuan alam mengenai pembentukan tebing, dan lainnya.
Jujur, novel-novelnya Ayu Utami itu sangat sulit dicerna oleh pemula, baik Saman maupun Larung. Rasanya saya baru saja membaca sekumpulan essay yang diracik menjadi sebuah novel. Tapi Ayu Utami bisa meracik dengan sedemikian baik sehingga orang yang membacanya tidak akan merasa diceramahi, digurui, atau didakwahi.
Bagi saya, novel ini sangat bagus. Penulis sepertinya ingin membedakan mana sisi agama dan mana sisi spiritual manusia. Agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama bersifat top-down, diwarisi dari rasul, pendeta, nabi, dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga atau tradisi - seperti novel ini yang menampilkan bias yang kuat antara agama dengan tradisi. Dosen filsafat saya pernah bilang, "Tidak agama di dunia ini. Agama hanya ada di akhirat. Di dunia hanya ada budaya agama." Saya tidak sepenuhnya setuju sampai sekarang, mengingat beliau mantan atheis :)
Sedangkan spiritual manusia adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. Oleh karena itu, meskipun seorang atheis, saya pikir ia pasti memiliki keinginan untuk mencari Tuhannya, karena di setiap otak manusia terdapat bagian yang dinamakan 'God spot'. Saya setuju bahwa semakin dekat manusia dengan Tuhannya, manusia akan semakin dekat dan memiliki pemahaman tentang siapa dirinya (seperti Syekh Siti Jenar dalam buku Manunggaling Kawula Gusti) dan apa makna segala sesuatu baginya, dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunia manusia kepada orang lain dan makna-makna orang lain.
Dalam psikologi, dimensi spritual manusia direduksi menjadi sebatas insting hewani dan beragam mekanisme pertahanan diri. Namun ketika mahzab ketiga muncul, psikologi humanistik mencoba membangkitkan pandangan manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spritual. Salah satu tokohnya adalah Viktor Frankl yang yakin bahwa dimensi spritual (noos) mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan manusia untuk memberi makna, orientasi tujuan, kreativitas, imajinasi, intuisi, keimanan, dan lainnya. Frankl juga yakin bahwa pencarian manusia akan makna merupakan motivasi penting dalam hidup manusia. Pencarian inilah yang menjadikan manusia makhluk spritual dan ketika kebutuhan makna ini tidak terpenuhi, hidup akan terasa dangkal dan hampa. Bagi sebagian besar manusia saat ini, kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan krisis mendasar di zaman ini adalah krisis spritual. Banyak orang yang mencari uang sebanyak-banyaknya, banyak orang yang melarikan dirinya ke narkoba atau alkohol, banyak orang yang melakukan seks bebas, tapi mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan itu. Manusia modern mencoba mengisi kehampaan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kenikmatan.
Saya kagum dengan isi dan cara penulisan di novel Bilangan Fu ini. Saya jadi membayangkan proses kreativitas ketika ia menulis. Pastinya tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung. Mungkin ketika manusia telah berhubungan dengan alam, detaknya sejalan dengan detak alam, manusia bisa menceritakan apa saja. Dan pastinya Ayu Utami telah melakukan riset yang sangat panjang dari studi literatur sampai benar-benar ikut panjat tebing agar novelnya hidup, yaitu novel yang saya rekomendasikan untuk dibaca agar manusia lebih menghormati budaya dan dekat dengan dimensi spritualnya.


(Nia)

Saya mengenali diri saya sebagai orang yang mudah terpukau dengan tampilan visual. Mudah terpukau dengan sesuatu yang menurut saya indah, menurut saya menarik. Saya bisa membiarkan dan memanjakan mata saya hanya untuk menikmati segarnya pemandangan embun pagi yang sedang menyentuh ujung daun, desain rumah di salah satu jalan dekat rumah dengan paduan warna tidak biasa, gaya berpakaian teman yang berhasil menggabungkan warna-warna yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya hingga tampilan angka-angka statistik yang menurut saya menarik.


Statistik menjadi menarik buat saya ketika sudah menjadi hasil akhir, terlihat seksi dan menginspirasikan saya untuk terus bertanya: bagaimana seandainya hasil A ternyata lebih signifikan untuk kondisi B, dibandingkan kondisi C, D, E dan seterusnya. Tetapi sebaliknya, ketika saya harus mengenal statistik dari awal, sebagai bahan mentah dan saya harus belajar berbagai metode untuk mengolahnya, saya menemukan diri saya selalu kehilangan selera. Rasanya dunia berjalan sangat lambat, seperti episode sinetron yang walaupun diberikan berbagai improvisasi, walaupun terus berganti topik, tetap tidak menarik.

You’ve got mail, film lama Tom Hanks dan Meg Ryan, yang kembali saya tonton ketiga kalinya semalam, kembali membuat saya berpikir: sejauh mana saya menghargai proses belajar? Poin yang cukup menyentuh saya adalah ketika Kathleen harus menutup toko bukunya. Ternyata bangkrut setelah toko buku warisan tersebut berdiri selama 42 tahun, bukan akhir dari segalanya. Kebangkrutan adalah hidup baru, memulai sesuatu yang baru, tergantung darimana kita melihatnya. Ada proses yang memberikan kita kekuatan tak terduga, ada proses yang membuka mata kita mempelajari hal-hal baru yang tidak pernah kita kenal sebelumnya dan ada proses yang membuat kita mampu membuat sesuatu yang kembali baru.

Sebuah masakan juga menarik bagi saya, apalagi ketika diolah dengan berbagai masakan lain, yang kemudian dikenal dengan istilah masakan peranakan. Dan ketertarikan saya terhadap proses masak-memasak makin meningkat dan menyenangkan setelah menonton bagaimana Oliver James di channel Discovery travel and living menyajikan proses memasak menjadi seksi dan menyenangkan. Walaupun ketertarikan saya menghargai prosesnya agak rancu memang, karena proses memasaknya atau karena Oliver James-nya.

Dalam beberapa perjalanan saya, yang umumnya saya lakukan dengan impulsif (karena saya belum pernah belajar jadi backpackers), proses belajar mengenalkan saya untuk ikut ”melihat mata orang lain”. Melihat bagaimana orang lain melihat sesuatu. Selalu ada cara yang unik dari teman-teman seperjalanan saya dalam membaca rute subway yang rumit, mencari solusi ketika kita tersesat, menghadapi supir taksi yang mencoba menipu dengan berputar-putar hingga menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang dalam kereta yang seolah memandang kita sebagai orang asing (dan memang kita sedang menjadi orang asing di kota mereka).

Proses belajar juga mengantarkan saya untuk menghargai hal-hal kecil, yang ternyata juga bisa menjadi hal besar. Dalam suatu iklan yang pernah saya tulis, karena kurang teliti, saya pernah salah menulis awalan yang seharusnya dipisah dengan kata dibelakangnya. Walaupun EYD adalah panduan sehari-hari saya, tetap saja ada kesalahan ”kecil” yang berdampak besar. Karena iklan tersebut ada di billboard kota-kota seluruh Indonesia, koran, majalah dan televisi. Bagaimana kalau dibaca oleh anak SD yang baru mendapat pelajaran tata bahasa Indonesia? Pasti bukanlah contoh yang bagus. Disinilah saya belajar, tidak ada hal yang kecil dalam sebuah proses belajar.

Saya ingat cerita dari salah seorang guru olahraga saya ketika SMP, tentang seorang yang belajar KungFu di salah satu perguruan di bukit, yang saya lupa namanya. Sekian tahun ia cuma disuruh belajar bagaimana melipat dan meremas kertas yang sangat besar sampai menjadi sangat kecil dalam genggaman. Sampai suatu hari ia bosan dan putus asa, pulanglah ia ke rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan sang ibu di pasar. Saking rindunya, ia berlari menembus kerumunan. Ajaibnya, tangannya tiba-tiba menjadi sangat kuat untuk menembus kerumunan di pasar. Ia pun sadar, itu bukanlah kekuatan yang tiba-tiba datang. Itu melalui proses yang bertahun-tahun.

Tidak ada Andy Warhol yang instan dengan karya-karyanya, tidak ada keajaiban dunia yang terjadi dalam semalam, tidak ada pemikir besar yang langsung jadi pemikir besar dan kehidupan tidak pernah membiarkan kita untuk cepat puas dengan cepat, kecuali secepat merebus mie instan (yang almarhum penemunya juga melalui proses belajar dalam menemukannya).

Jadi, kalau hari ini buat saya mengenali hingga menguliti statistik rasanya masih tidak menarik, saya harus belajar bagaimana mencintainya. Bukan hanya karena saya sedang mengerjakan thesis, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar di masa depan, yang menjadi bagian dari proses belajar saya.

(Novi Kresna)

Siang hari ketika matahari sedang terik menyinari bumi, seorang mahasiswa bernama Loki sedang duduk menikmati lembar demi lembar dari buku yang ia pegang, kopi menemani keasikkan diri. Hiruk pikuk terjadi disekelilingnya, maklum ketika itu adalah saat makan siang di kantin kampus, walaupun tidak seramai biasanya karena sedang bulan puasa.
Dibelakang Loki duduk bapak-bapak, yang dari penampilannya tidak terlihat seperti mahasiswa, bapak tersebut bernama Antiq (yang secara tidak sengaja memiliki sikap negatif terhadap kaum homoseksual).
Dari jauh terlihat Gae sedang tergopoh-gopoh menuju tempat Loki.

Gae : ”Lok, lo harus ke labkom sekarang.”
Loki : ”Eitz, tenang. Ada apa neh?”

Gae masih mengambil nafas sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Gae : ”Buka forum”
Loki : ”Ah, ga mau. Pasti ga penting deh, tentang perdebatan mengenai homoseksual khan?”
Gae : ”Lah, kok Lo tau?”
Loki : ”Iyalah, apalagi. Buat apa sih masih diperdebatkan lagi. Mau argumen sampai mulut berbusa pun, orang-orang yang anti homoseksual tetap saja tidak akan pernah menerima kalian-kalian ini (Gae adalah teman Loki yang kebetulan juga homoseksual).”
Gae : ”Iya sih. Tapi kan, gue kesel juga gara-gara dijelekin mereka sampai segitunya.”
Loki : ”Sampai sepeti apa memang? Dan apakah hal tersebut mempengaruhi jati diri lo sebagai seorang gay? Engga khan. Terus kenapa pendapat orang-orang itu harus lo pikirin?”

Gae terdiam.

Loki : ”Nih, gue kasih tau lo aja. Mereka semua ga pantas menghakimi lo atas apa yang lo lakukan! Mereka hanya iri. Tau ga, hampir seluruh mitologi di dunia ini menaruh kedudukan tinggi pada dewa yang memiliki sifat maskulin dan feminin seimbang. Bahkan kata Jung, si salah satu bapak psikoanalisa itu, setiap manusia memiliki ketidaksadaran gender yang bertolak belakang dengan yang ia miliki, jadi misalnya lo adalah seorang laki-laki, lo tuh memiliki ketidaksadaran wanita yang disebut anima. Orang-orang homoseksual adalah orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan ketidaksadarannya tersebut dan menjadi manusia yang utuh! Well, see, you are better than me! You have the masculine and feminine aspect all over in you. Isn’t that a great thing?”

Loki berapi-api mencoba mengangkat harga diri temannya itu kembali, mencoba tetap menjadikan gae, yang seorang homoseksual itu, “manusia”. Dilain pihak, ternyata bapak Antiq yang sedang duduk dibelakang mereka mendengarkan dengan seksama percakapan Loki dan Gae tentang homoseksualitas.

Loki : ”Kenapa diam? Mereka itu hanyalah orang-orang yang dengan sangat percaya diri menunjuk orang lain sedangkan keempat jari yang ia gunakan untuk menunjuk sebenarnya menunjuk pada dirinya sendiri. Seperti kata Matius 7 ’Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok didalam matamu sendiri tidak diketahui??’.”

Gae masih terlihat muram.

Loki : ”Kenapa lagi? Mereka tidak pernah merasakan menjadi dirimu, sehingga mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan, sehingga dengan mudahnya mereka menghakimi kamu. Toh jelas-jelas dalam kitab suci dikatakan manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi ’Matius 7:1 – Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

Ternyata Bapak Antiq yang daritadi mendengarkan sudah sangat panas untuk berpendapat, sampai akhirnya ia mendatangi kedua sobat yang sedang berbincang itu.

Antiq : ”Nak, kamu boleh mengatakan apapun juga. Tapi tetap saja kitab suci mengutuk perbuatan homoseksual. Dan jelas-jelas dikatakan bahwa homoseksual adalah ’dosa’”.

Bapak Antiq melihat Gae dengan pandangan kritis. Loki dan Gae dengan wajah terbingung-bingung dan dalam hati bertanya-tanya ’kenapa lagi neh orang ikut campur urusan orang aja’. Hahaha.

Loki : ”Oke. Kitab suci mengatakan demikian. Benarkah? Memang apa sih yang dilakukan oleh homoseksual??”
Antiq : ”Jelas-jelas melakukan hubungan sejenis!”
Masih panas Bapak Antiq ini menjawab karena sebenarnya sudah tidak tahan untuk mengungkapkan pendapatnya sejak awal percakapan ini.

Loki : ”Dosa? Apakah mereka menyakiti orang lain? Apakah mereka merugikan pihak lain? Yang saya lihat justru kaum gay mencinta. Dan apa salahnya dari mencinta? Tidak seperti saya atau Anda yang jelas2 sering mencuri dengan mengunduh dari internet, merugikan orang lain, nah itu baru dosa. Nyata lagi, ada yang dirugikan. Ayo sini, yang merasa dirugikan oleh keberadaan kaum gay, coba tuntut mereka. Ga ada yang rugi kayanya, tak ada yang tersakiti, coba bandingkan dengan penghakiman Bapak akan kaum gay yang menyakiti mereka, atau koruptor yang merugikan rakyat. Kenapa justru kaum gay yang selalu ditunjuk2 dosanya?? Karena ayat kitab sucikah?

Kenapa kita harus selalu menunjuk orang lain, mengapa tidak menunjuk diri sendiri? Ketika kita menggunakan satu ayat untuk menghakimi orang lain bahwa mereka berdosa, bukankah lebih baik kita merefleksi diri dengan beribu ayat lain yang mungkin menyatakan bahwa diri kitalah yang berdosa. Mengapa harus dimulai dengan menunjuk orang lain, dan bukan diri sendiri??

Bukankah juga kita melakukan dosa? Bukankah juga kita selalu menilai orang lain? Baik. Seperti ini. Aku mengalami banyak hal dalam hidupku sampai saat ini walaupun mungkin usiaku masih sangat hijau bagi kebanyakan orang, namun aku menyadari perubahan sikap-sikap yang membentuk aku dari hari ke hari, dan aku selalu merefleksi setiap nilai-nilai yang aku pegang. Ketika aku remaja aku memiliki sikap yang sangat negatif pada perilaku merokok. Aku selalu secara terang-terangan menyatakan kebencianku atas mereka yang ’bodoh’ karena merusak diri sendiri. Sampai aku sendiri jatuh pada lubang tersebut. Dan aku mulai menjustifikasi diriku. Aku mulai mencari pembenaran atas kesalahan yang aku lakukan. ’aku merokok karena stres banget nihh, perlu pelampiasan!’
Bukankah kita semua mengalami perubahan nilai? Dan ketika nilai itu berubah, bukankah kita juga selalu mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan. Saya rasa sangatlah munafik ketika orang lain melakukan yang buruk maka kita menghujat, tapi ketika diri sendiri melakukan hal buruk, maka mencari pembenaran. Saya malu dengan diri saya sendiri. Sejak saat itu saya mencoba seminim mungkin ’menunjuk’ dosa orang lain. Karena saya tidak pernah menjadi mereka, dan saya tidak pernah tahu pembenaran apa yang mereka miliki.”

Loki tersenyum, namun Bapak Antiq terlihat tidak mau kalah dengan pandangannya.

Antiq : ”Tidak juga. Saya merokok. Dan saya tahu itu dosa karena merusak diri sendiri.”
Loki : ”Ya. Dan yang menghakimi Anda pada akhirnya adalah......?”

Bapak Antiq terdiam.

Loki : ”Tuhan.” Loki mengucapkan kata tersebut dengan perlahan namun pasti.
”Apakah Anda akan merasa senang jika Anda ditunjuk orang lain dan dikatakan berdosa (bukan hanya merokok, tapi juga gosip, mengambil milik orang lain, tidak tepat janji, bohong, selingkuh, seks diluar nikah, batal puasa, dll)? Aku rasa Anda akan menjadi kesal, dan memulai segala bentuk pembenaran diri untuk mengatasi kekesalan Anda itu.”


Kita selalu membenarkan diri kita sendiri atas kesalahan yang kita lakukan. Namun ketika orang lain yang melakukan kesalahan (bahkan mungkin kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan), kita dengan semangat menghakimi dan mencela mereka. Coba Anda ingat-ingat lagi terakhir Anda melakukan pembenaran diri, pasti you will pay your whole life for them to understand what you feel? Won’t you? Ketika itu Anda akan berharap dunia bisa mengerti yang Anda rasakan, mengerti dan dapat menerima pembenaran diri Anda. Anda akan berharap empati dari mereka (atau tidak perlu empati, at least menerima justifikasi dari ’dosa’ Anda).

Sekarang, ketika saya memberikan pembenaran diri saya. Kaum gay memberikan pembenaran dirinya. Ulama yang poligami memberikan pembenaran dirinya. Artis yang bercerai memberikan pembenaran dirinya. Remaja yang hamil diluar nikah memberikan pembenaran dirinya. Masakah kita tidak bisa menerimanya? Masakah kita menghakimi mereka, ketika kita pun sadar bahwa oknum terakhir yang berdiri adalah Tuhan sendiri.

Nb. Revisi ini saya buat untuk lebih menjelaskan maksud kenapa posting ini pertama kali dituliskan, karena sebelumnya terlalu terbias dengan emosi. Versi sebelumnya masih bisa dilihat di blog pribadi saya. Terima kasih.

(Lora)

“To own shadow is to be responsible of (whether or not we like it).”
-Jung, A Very Short Introduction-


Kenapa dunia selalu penuh dengan kejahatan? Kenapa dunia selalu penuh dengan prasangka terhadap orang lain? Seberapa pun banyaknya para pembela kebajikan, kejahatan itu tetap ada. Begitu juga dengan prasangka terhadap kelompok lain yang semakin hari menggrogoti hati manusia dengan insecurity dan hatred.

Manusia memiliki dua sisi didalam dirinya. Yang pertama adalah persona. Persona adalah topeng yang kita pakai sehari-hari, sebagai seorang mahasiswa, sebagai wanita karir, sebagai pengusaha sukses, sebagai pengangguran. Persona adalah topeng yang mengikuti tuntutan sosial, dan topeng sebagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Atau dengan kata lain persona adalah social archetype atau conformity archetype. Persona terbentuk sejak masa kecil melalui ekspektasi orang tua, guru, atau teman-teman, dan akhirnya menjadi suatu bentuk ‘tampilan’ akibat proses learning, sedangkan sisanya (tingkah laku yang tidak mendapat penguatan sosial) menjadi tersembunyi atau direpresi dalam ketidaksadaran dan menjadi sisi yang bersebelahan dengan persona. Namun persona, seperti juga asal katanya ‘personne‘ yaitu topeng yang biasa dipakai aktor pada masa Yunani Kuno, bukanlah Diri yang sebenarnya.

Sisi yang bersebelahan dengan persona adalah shadow. Berbeda dengan persona yang terletak pada kesadaran manusia, shadow berada pada alam ketidaksadaran. Shadow bersifat seperti kegelapan yang selalu mengikuti, yang tidak diinginkan, yang terkadang dihiraukan, namun tetap ada. Seperti bayangan yang tidak bisa terlepas dari obyeknya. Shadow yang dihiraukan kemudian muncul dalam bentuk mimpi, terkadang mimpi yang bersifat hostile, penuh kemarahan, dan ketakutan. Di dalam shadow berisi hal-hal yang ingin kita hindarkan, keinginan-keinginan yang bertentangan dengan norma sosial.

Yang paling penting begitu juga paling berbahaya dari shadow adalah archetype of enemy, predator, or evil stranger. Archetype ini muncul sejak tahun pertama manusia hidup, ketika ibu mendekati bayi maka bayi sudah mulai berpikir mengenai attachment, ia merasa nyaman atau sebaliknya merasa takut dan defensif ketika didekati oleh orang yang tidak ia kenali. Mulai dari sinilah seorang bayi, pada spesies apapun, sudah bisa membedakan antara teman atau lawan. Haruskah penerimaan atau penolakan untuk melindungi dirinya. Ini adalah shadow complex.

Shadow tetap berada pada diri seseorang melalui dua representasi yang telah ditanamkan melalui indoktrinasi sosial, yaitu perbedaan in-group dengan out-group, atau setan/iblis sebagai musuh yang harus diperangi. Setiap manusia memilikinya sebagai suatu kesatuan utuh. Kebaikan dan kejahatan didalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Konsep ini bukanlah hal baru, namun bisa kita lihat dalam cerita-cerita, misalnya Dr. Jekyl and Mr Hyde, dan tuhan pada perjanjian lama yang membinasakan sekaligus mencintai umatnya.

Kita, sebagai manusia utuh, memiliki kebaikan dan kejahatan pada satu tubuh secara bersamaan. Namun ada yang dimunculkan ke-kesadaran dan ada yang berada dibalik kesadaran itu sendiri. Ketika suatu ancaman muncul, manusia memiliki sistem pertahanan diri (ego defense-mechanism), yaitu represi, penyangkalan, dan proyeksi. Ancaman itu kemudian di represi kedalam ketidaksadaran, disangkal keberadaannya, - walaupun disangkal tetap saja ada - sehingga seseorang memproyeksikan kepada orang lain.

Hal ini menjelaskan mengapa timbul prasangka dan kebencian kepada kelompok lain. Kebencian yang direpresi dan disangkal timbul dalam bentuk baru sebagai mekanisme diri yaitu membenci orang lain, dan menjadikan orang lain sebagai the devil yang sah-sah saja untuk dibenci, untuk dimusuhi, atau lebih lagi untuk dimusnahkan. Seperti Hitler pada holocaust atau dalam konflik antar etnis pada beberapa suku di Indonesia yang menewaskan ribuan orang.

Untuk menyelesaikan mekanisme diri yang secara otomatis dilakukan manusia ini, seseorang harus berani melihat kedalam shadow-nya. Hal ini dikatakan sulit, karena didalam shadow tersimpan semua hal yang tidak diinginkan, rasa malu, perasaan bersalah, rasa benci, dll. Namun, Jung melanjutkan, seberapa sakitnya seseorang harus melihat kedalam shadownya, hal tersebut sangat diperlukan. Karena didalam shadow terletak banyak kekuatan psychic yang membantu manusia mencapai keutuhan (wholeness).

Keutuhan terletak pada The Self (dengan kapital S), yaitu tujuan dari eksistensi yang sudah tercetak didalam blue print genetis spesies manusia. The Self mungkin serupa dengan konsep Brahma pada agama Hindu. Makna hidup manusia yang paling dalam, suatu fungsi transenden. Tidak heran kita bisa menemukan seni dan agama pada setiap kebudayaan universal yang menandakan bahwa manusia mencoba mencari sosok tuhan – yang sebenarnya sudah berada didalam dirinya sendiri (Self).

JADI…

Sudahkah kamu mengatasi shadow-mu? Mungkin jika ada waktu untuk merefleksikan, lihatlah kedalam diri. Jika kamu adalah orang yang cepat marah, cepat benci, cepat prasangka, suka gosip yang ngejelekin orang, uhmm dibandingkan ngurusin orang lain, prasangka yang engga-engga terhadap out-group, akan lebih baik waktu yang berarti ini digunakan untuk melihat kedalam dirimu sendiri. Sekalian turut menciptakan ‘a better world, full of peace’. ^^

“The devil is in you. Do you want to cope it, or simply project it over and over unto the never-ending cycle of prejudice to others? You choose!”


Oleh: Lora



User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)