Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Saya mengenali diri saya sebagai orang yang mudah terpukau dengan tampilan visual. Mudah terpukau dengan sesuatu yang menurut saya indah, menurut saya menarik. Saya bisa membiarkan dan memanjakan mata saya hanya untuk menikmati segarnya pemandangan embun pagi yang sedang menyentuh ujung daun, desain rumah di salah satu jalan dekat rumah dengan paduan warna tidak biasa, gaya berpakaian teman yang berhasil menggabungkan warna-warna yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya hingga tampilan angka-angka statistik yang menurut saya menarik.


Statistik menjadi menarik buat saya ketika sudah menjadi hasil akhir, terlihat seksi dan menginspirasikan saya untuk terus bertanya: bagaimana seandainya hasil A ternyata lebih signifikan untuk kondisi B, dibandingkan kondisi C, D, E dan seterusnya. Tetapi sebaliknya, ketika saya harus mengenal statistik dari awal, sebagai bahan mentah dan saya harus belajar berbagai metode untuk mengolahnya, saya menemukan diri saya selalu kehilangan selera. Rasanya dunia berjalan sangat lambat, seperti episode sinetron yang walaupun diberikan berbagai improvisasi, walaupun terus berganti topik, tetap tidak menarik.

You’ve got mail, film lama Tom Hanks dan Meg Ryan, yang kembali saya tonton ketiga kalinya semalam, kembali membuat saya berpikir: sejauh mana saya menghargai proses belajar? Poin yang cukup menyentuh saya adalah ketika Kathleen harus menutup toko bukunya. Ternyata bangkrut setelah toko buku warisan tersebut berdiri selama 42 tahun, bukan akhir dari segalanya. Kebangkrutan adalah hidup baru, memulai sesuatu yang baru, tergantung darimana kita melihatnya. Ada proses yang memberikan kita kekuatan tak terduga, ada proses yang membuka mata kita mempelajari hal-hal baru yang tidak pernah kita kenal sebelumnya dan ada proses yang membuat kita mampu membuat sesuatu yang kembali baru.

Sebuah masakan juga menarik bagi saya, apalagi ketika diolah dengan berbagai masakan lain, yang kemudian dikenal dengan istilah masakan peranakan. Dan ketertarikan saya terhadap proses masak-memasak makin meningkat dan menyenangkan setelah menonton bagaimana Oliver James di channel Discovery travel and living menyajikan proses memasak menjadi seksi dan menyenangkan. Walaupun ketertarikan saya menghargai prosesnya agak rancu memang, karena proses memasaknya atau karena Oliver James-nya.

Dalam beberapa perjalanan saya, yang umumnya saya lakukan dengan impulsif (karena saya belum pernah belajar jadi backpackers), proses belajar mengenalkan saya untuk ikut ”melihat mata orang lain”. Melihat bagaimana orang lain melihat sesuatu. Selalu ada cara yang unik dari teman-teman seperjalanan saya dalam membaca rute subway yang rumit, mencari solusi ketika kita tersesat, menghadapi supir taksi yang mencoba menipu dengan berputar-putar hingga menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang dalam kereta yang seolah memandang kita sebagai orang asing (dan memang kita sedang menjadi orang asing di kota mereka).

Proses belajar juga mengantarkan saya untuk menghargai hal-hal kecil, yang ternyata juga bisa menjadi hal besar. Dalam suatu iklan yang pernah saya tulis, karena kurang teliti, saya pernah salah menulis awalan yang seharusnya dipisah dengan kata dibelakangnya. Walaupun EYD adalah panduan sehari-hari saya, tetap saja ada kesalahan ”kecil” yang berdampak besar. Karena iklan tersebut ada di billboard kota-kota seluruh Indonesia, koran, majalah dan televisi. Bagaimana kalau dibaca oleh anak SD yang baru mendapat pelajaran tata bahasa Indonesia? Pasti bukanlah contoh yang bagus. Disinilah saya belajar, tidak ada hal yang kecil dalam sebuah proses belajar.

Saya ingat cerita dari salah seorang guru olahraga saya ketika SMP, tentang seorang yang belajar KungFu di salah satu perguruan di bukit, yang saya lupa namanya. Sekian tahun ia cuma disuruh belajar bagaimana melipat dan meremas kertas yang sangat besar sampai menjadi sangat kecil dalam genggaman. Sampai suatu hari ia bosan dan putus asa, pulanglah ia ke rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan sang ibu di pasar. Saking rindunya, ia berlari menembus kerumunan. Ajaibnya, tangannya tiba-tiba menjadi sangat kuat untuk menembus kerumunan di pasar. Ia pun sadar, itu bukanlah kekuatan yang tiba-tiba datang. Itu melalui proses yang bertahun-tahun.

Tidak ada Andy Warhol yang instan dengan karya-karyanya, tidak ada keajaiban dunia yang terjadi dalam semalam, tidak ada pemikir besar yang langsung jadi pemikir besar dan kehidupan tidak pernah membiarkan kita untuk cepat puas dengan cepat, kecuali secepat merebus mie instan (yang almarhum penemunya juga melalui proses belajar dalam menemukannya).

Jadi, kalau hari ini buat saya mengenali hingga menguliti statistik rasanya masih tidak menarik, saya harus belajar bagaimana mencintainya. Bukan hanya karena saya sedang mengerjakan thesis, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar di masa depan, yang menjadi bagian dari proses belajar saya.

(Novi Kresna)

2 komentar

  1. Anonim  

    sadiiis..
    setuju ibu novi..
    brarti yang jorok2nya uda mantabh nih..
    sukses terus ibu novi..
    haha..

  2. Anonim  

    Salam kenal Mbak Novi ... dalam beberapa hal , pemikiran kita sejalan, walaupun dalam wujud yang berbeda .... silakan lihat tulisan saya di sini ..

Posting Komentar

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)