Pernah dapet mata kuliah "KOde etik" AKA KoDet???
saya sech positive thinkingnya udah pd tau lah ya...
Tau kan teman kalo seseorang yang nama belakangnya, cuma diembel-embeli "S.Psi" hanya boleh jadi tester dan skorer (aih..pecetak skor kali yah).
Pasal 10
INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN
Interpretasi hasil pemeriksaan psikologik tentang klien atau pemakai jasa psikologi hanya boleh dilakukan oleh Psikolog berdasarkan kompetensi dan kewenangan.
Sejujurnya kalo saya sech sedih banget dengan hal itu, dengan kata lain selama 4 tahun mengenyam (mengkonsumsi??? ga lah ya :) bangku kuliah di jurusan psikologi, ujung-ujungnya cuma bisa dengan aktual menggunakan PD I aja "..kepada anda akan diaadakan tes psiologi...and bla-bla-bla)..then score it...JUST IT!!!
Terus mata kuliah grafis, dan PD PD sesudah PD 1 itu kemana larinya??? dimana nilai gunanya, sebagai pengetahuan saja??
kalo just for being a tester gitu, lulusan SMP aja di trainning 2 hari yakin dech pasti bisa melakukannya, dan utk skoring...cukup kasih kunci jawabannya aja jadi..
harus kan S,Psi berpotensi hanya semacam demikian???
Mari sikapi ini dg bijak kawand...^_^
Saya terinspirasi nulis ini karena nonton MTV Switch dimana artis-artis berkampanye untuk mematikan alat yang menggunakan listrik jika tidak perlu karena isu global warming. Saya jadi bertanya, mengapa hanya sedikit orang Indonesia yang berkampanye tentang lingkungan dengan catatan lebih sedikit lagi yang mematikan listrik di siang hari, memisahkan sampah organik dan anorganik, pakai sepeda, dan lainnya?
Pertanyaan jadi melebar ketika nonton Animal Planet dimana ada seorang perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengerti bahasa monyet. Mengapa orang Indonesia jarang melakukan suatu penelitian mendalam mengenai hewan atau tumbuhan, malah mereka melakukan kekerasan yang mendalam pada tumbuhan dalam bentuk pembalakan hutan liar atau gelonggong sapi agar mendapat keuntungan? Dalam sastra Indonesia, alam selalu diceritakan sebagai lingkungan yang bersahabat dan memberikan kemakmuran bagi yang tinggal disekitarnya. Tapi itu dalam sastra.
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya sering mendapat jawaban, "Ya karena manusia Indonesia masih berkutat pada perut. Jangankan memikirkan lingkungan sementara perut aja belum jelas mau diisi apa."
Tidak adil, kenapa orang-orang jadi menyalahkan perut? Kalau benar memang segala permasalahan berasal dari perut, bagi saya ini primitif karena diperbudak oleh nafsu makan. Kalau benar berakar dari perut, Amerika yang notabene negara maju dan tidak perlu dipertanyakan tentang urusan perut pun berkontribusi pada perusakan lingkungan. Saya jadi sanksi kalau ini karena masalah perut.
Pembaca, kira-kira apa sih yang menyebabkan ketidakpedulian manusia Indonesia terhadap lingkungannya?
-Nia-
Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.
Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.
Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak. dengan kata lain psikologi transpersonal memandang kita sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia dan bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spriritual.
Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.
Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia, dengan ini maka era milennium ini yang disebut-sebut sebagai era aquarian benar-benar telah terwujud.
Kutipan dibawah ini diambil dari majalah rohani yang berjudul awake:
Melalui penelitian diatas, kira-kira saya dapat menebak mengapa bayi-bayi tersebut memilih mainan yang ’baik’ dibandingkan mainan nakal yang tidak membantu. Tebakan klise, yaitu survival. Bayi dalam ’ketidakmampuan’nya sudah memiliki software bawaan untuk menghindari bahaya – dalam hal ini yaitu boneka-boneka yang akan menarik dirinya jika ia mendaki bukit. Sebuah fakta yang menakjubkan! Masing-masing dari kita ketika lahir kedalam dunia sudah memiliki komponen bawaan yang berguna bagi kelangsungan kehidupan!
Lalu mengapa kemudian komponen tersebut seakan-akan ’hilang’ ketika seseorang beranjak remaja (dan later development)? Kita sering keliru memilih teman yang baik.
Kita bisa melihat remaja ingin mengidentifikasi dirinya sebagai ’seorang populer dengan kekuasaan dimana-mana (dengan aktivitas bergosip, menjelekkan orang lain, being cruel, etc)’, dan setiap anak seems dying supaya bisa masuk kedalam kelompok tersebut. Atau kelompok populer lain yaitu anak bandel yang merokok, mabuk, nge-trek, pembolos, etc sebagai prototipe ’cowok keren’. Semua itu pasti pernah terbersit dalam pikiran kita, saya maupun Anda setidaknya sekali dalam hidup ini. ”It must be cool to be identified as their gang”. Tapi kemudian kita mengabaikan survival, dan membiarkan insting kematian (thanatos) kita menguasai pikiran kita. Komponen bawaan kita semenjak bayi pun akhirnya terlupakan (to choose the better instead of worse-naughty friends).
Needs, mungkin jawabannya. Jika melihat piramida kebutuhan Maslow, maka kebutuhan akan rasa aman (yang kita lihat melalui perilaku survival bayi) beranjak pada kebutuhan lain yang skalanya lebih tinggi. Sense of belongingness dan self-esteem adalah kebutuhan yang bisa diperoleh seseorang dalam keanggotaan kelompok ‘keren’ tersebut, tapi saya rasa mereka kemudian mengabaikan ‘kebutuhan’ security. Perkembangan manusia setelah anak-anak menciptakan sebuah ilusi yang berdasar pada kebudayaan dan kebutuhan. Dengan mengidentifikasi diri dengan kelompok, maka seseorang mungkin merasa aman, tapi sebenarnya tidak mendapatkan ‘aman’ itu sendiri. Rasa aman hanyalah ilusi dari keadaan ketidak-amanan yang sebenarnya. Sehingga kebutuhan diatasnya pun juga hanyalah ilusi belaka.
”So prepare your ammunitions. Get out of the illusions. Identify your self as a man that we are human meant to be by the evolution.”
Oleh:
Lora ^^
Kiat pertama, kenali orang yang hendak kita baca pikirannya. Dengan mengenali orang tersebut, kita tahu arti tersirat dari kata-kata yang dikeluarkannya dan bahasa tubuhnya. Selain itu, kita juga tahu konteks dari petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh orang itu kepada kita.
Kiat kedua, latihan. Mintalah umpan balik dari kesimpulan dari hasil mindsight yang kita lakukan. Dengan begitu, kita tahu simpula kita yang salah dan yang benar.
Kiat ketiga, perhatikan mata dari orang lain. Biasanya, emosi yang bersifat dasar sedih, senang, marah, dan jijik) dapat terbaca dari mata.
Kiat keempat, jadilah orang yang ekspresif. Keekspresifanbersifat menular. Saat kita bersikap ekspresif, orang lain juga akan lebih ekspresif. Dengan begitu, lebih banyak petunjuk yang diberikan oleh orang tersebut.
Kiat kelima, rileks. Karena kita dapat merasakan emosi orang, artinya orang dapat merasakan emosi kita. Jika kita merasa tegang, emosi tersebut bisa di-copy oleh orang yang hendak kita baca pikirannya, sehingga membuat emosi dirinya yang sebenarnya menjadi tertutup.
bersama kita di taman ria
melepas kepergian balon udara jingga tak bertuan
dengan gembira kita tiupkan gelembung-gelembung udara untuk mengantar kepergiannya
namun, apa maksud kepergian balon udara jingga itu kita tak tahu
aku juga tak tahu kenapa kita segembira itu melepas kepergiannya
mungkinkah ia membawa serta kepedihan masing-masing dari kita?
aku tak tahu
tapi aku tahu aku ingat satu hal
kau mengenakan gaun mini berwarna senada dengan sang balon udara
apakah itu artinya sang balon udara belum sepenuhnya membawa kepedihan hatimu?
050908
Puisi ini adalah sebuah fenomenon yang cukup menarik karena menstimulus sebuah pertanyaan dalam diri saya, “benarkah seoranng manusia bisa membaca pikiran orang lain?”.
Puisi ini dikirimkan oleh seorang teman saya (mulai sekarang kita sebut sebagai “P”) kepada temannya yang lain (kita sebut “N”). Isinya cukup jelas, tentang mimpi P pada malam sebelumnya. Di mimpi tersebut, P dan N sedang di taman ria. Mereka merasa gembira saat melepas sebuah balon jingga. Tapi, N ternyata mengenakan gaun berwarna sama dengan balon tersebut.
Setelah P terbangun, dia mencoba untuk mencari tahu arti dari mimpi tersebut. P ingat bahwa akhir-akhir ini, mereka berdua (P dan N) sedang mengalami masa-masa sulit. Tetapi, perlahan P kembali pulih. Begitu juga yang terlihat pada N. Maka, P menyimpulkan bahwa balon udara berwarna jingga tersebut adalah simbol dari masa sulit mereka yang telah meninggalkan mereka. Tetapi, dalam mimpi tersebut, N memakai baju yang serupa dengan balon udara yang menjadi lambang masa sulit mereka. P berpikir, mungkin hal ini juga menandakan sesuatu. Mungkin, dibalik yang terlihat, N masih merasakan kesedihan dari masa sulit yang dia alami dulu. Mungkin N masih belum pulih sepenuhnya sejak meninggalkan masa sulit tersebut.
Kemudian, P pun menulis puisi di atas. Dia lalu mengirimkannya pada N beserta pemikirannya mengenai arti dari mimpi tersebut. Tanpa pernah diceritakan secara langsung oleh N mengenai kesedihan N yang belum pulih, rupanya tebakan P benar. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa P telah membaca pikiran N. Perlu dicatat di sini bahwa P bukanlah seorang mahasiswa psikologi, yang artinya, dia tidak pernah mendapatkan latihan khusus mengenai empati.
Selama beberapa bulan setelah kejadian ini, saya terus memantau mimpi-mimpi yang dimiliki oleh P. Walau dengan teknik observasi dan wawancara informal, saya menemukan bahwa mimpi-mimpi P terkadang cukup tepat dalam menebak kondisi internal orang lain, walau pun banyak juga yang merupakan gambaran dari pandangannya terhadap suatu masalah.
Kemampuan membaca pikiran orang lain ini sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita ingat kalau kita kadang menebak mood orang lain sebelum kita meminta sesuatu darinya, ini adalah contoh dari kemampuan membaca pikiran. Tapi, memang tidak mudah untuk membaca pikiran orang lain. Tingkat keakuratan seseorang untuk membaca pikiran orang yang baru pertama kali dia temui adalah 20 persen. Tingkat keakuratan membaca pikrian antar teman baik atau suami-istri adalah 35 persen. Hampir tak ada orang yang memiliki tingkat keakuratan membaca pikiran di atas 60 persen. Tetapi, kemampuan ini adalah kemampuan yang cukup penting dalam kehidupan sosial, dan merupakan kemampuan yang dapat dilatih.
Bagaimana proses P membaca pikiran N? Ada dua pendekatan yang terjadi. Yang pertama adalah melalui bantuan indera. Yang kedua, dengan kemampuan manusia untuk menangkap emosi dari manusia yang ada di dekatnya. Kedua pendekatan tersebut bersifat saling melengkapi. Pada pendekatan pertama, P mendapatkan informasi mengenai kondisi internal N melalui hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera P. Misalnya, P mungkin menangkap maksud dari perkataan-perkataan N yang bersifat tersirat mengenai keadaan dirinya (bahkan yang N sendiri tak sadar bahwa itu adalah sebuah curahan isi hati). P mungkin juga menangkap adanya tanda-tanda kesedihan dari bahasa tubuh atau getaran dan nada suara yang dikeluarkan N. P juga mungkin saja menangkap adanya kesedihan dari ekspresi wajah N (khususnya mata yang sangat ekspresif karena dikelilingi oleh banyak otot yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi emosi).
Pada pendekatan kedua, P mengetahui kondisi N karena P menyamakan frekuensi emosinya dengan N. Manusia memang memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Saat kita mengikuti perkataan, ekspresi, gerak tubuh, dan sikap fisik orang lain, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan, dengan berada di dekat orang lain saja, kita dapat “menangkap” perasaan orang lain dan menyalinnya menjadi perasaan kita sendiri dengan mengubah kondisi fisiologis tubuh kita agar serupa dengan orang tersebut. P mungkin menangkap sinyal emosi sedih yang dikeluarkan oleh N.
Jika diperhatikan, usaha dari menjelaskan fenomenon membaca pikiran yang dialami oleh P didominasi oleh kemungkinan-kemungkinan. Hal ini disebabkan karena P sendiri tidak menyadari bahwa dia telah membaca pikiran N. Informasi-informasi dari indera dan emosi N yang tertangkap bersifat terlalu halus sehingga hanya dapat ditangkap oleh alam bawah sadar P. Sesuai dengan fungsinya, mimpi –- yang menjadi alat penghubung antara alam sadar dan alam bawah sadar— digunakan oleh alam bawah sadar P untuk memberitahukan alam sadar P mengenai apa yang diketahuinya. Akhirnya, alam sadar P pun tahu kalau P telah menangkap kesedihan N.
Mungkin konsep “Membaca Pikiran” yang terjadi pada fenomenon P ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh anda (yaitu, kemampuan psychic atau kemampuan superhero di dalam komik Marvel atau DC). Tetapi, sampai saat ini, memang belum ada suatu alat yang dapat mengukur secara tepat apakah seseorang dapat melirik ke dalam pikiran orang lain, sehingga apakah kemampuan itu ada atau tidak di dunia ini masih belum dapat dibuktikan. Dalam kasus P, yang terjadi hanyalah P secara tepat menangkap sinyal-sinyal hasil sampingan dari pikiran otak, dimana kemudian P dapat secara tepat merekonstruksi ulang proses berpikir orang tersebut. Kesimpulan terjauhnya adalah, P memang memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadap apa yang dipikirkan orang lain, dengan mengartikan (secara tidak sadar) sinyal-sinyal yang dipancarkan orang tersebut. (Dion)
Saya baru mengerti mengapa saya disekolahkan oleh keluarga saya. Selain untuk mengenyam pendidikan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (terutama dalam luasnya khazanah pengetahuan), namun faktor yang paling ditekankan adalah untuk membentuk jalan pikir seseorang.
Mari kita bandingkan dua orang yang berpendidikan sama dengan yang tidak berpendidikan. Kebetulan saya mengenali keduanya:
A adalah seorang pengusaha. Ia adalah ibu dari dua orang anak. A alumni ITB, bisa bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, dan Jepang. Selain pendidikan yang baik, A juga memiliki keahlian terutama dalam bidang seni. Seni inilah yang mengantarkannya ke luar negeri.
Latar belakang A adalah A dilahirkan dikeluarga yang berpendidikan. Keduanya orang tuanya berprofesi sebagai dosen di universitas ternama di Bandung. Dan saat ini, suaminya pun seorang dosen di universitas sangat ternama di Bandung. Heu heu.
B adalah seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pelatih model anak kecil. Ia juga ibu dari dua orang anak. B keluaran SMA dan tidak bisa berbicara asing. Dan suaminya bekerja di A.
A memiliki ambisi bisnis yang sangat besar sedangkan B memiliki ambisi mengeluarkan uang sangat cepat. Namun sayang, mungkin harapan B memiliki suami kaya tidak tercapai, B sering stress dan memiliki tekanan darah tinggi. Belakangan ini sering terjadi KDRT. Sering memaki, saling menganjingi, beradu kekuatan fisik, dituduh selingkuh, dan lainnya. Pernah pundung kembali ke kampung halamannya, namun akhirnya balik ke Bandung juga.
Suatu saat, A mengusulkan agar menyekolahkan anak B karena anak B hanya sampai SMA. Namun B malah berkata, "Alaaah, sok mau menyekolahkan. Kesinikan saja duitnya!". Tentu saja A sakit hati dan tidak jadi menyekolahkan anaknya.
Perlu dicermati, wahai pembaca, tentang apa yang dikatakan B berdasarkan latar belakang pendidikannya. Setelah lulus SMA, B menikah dan tidak mengenyam pendidikan atau pelatihan apa-apa. Jalan pikirannya sempit, hanya bagaimana cara mendapatkan uang dan bagaimana menghabiskannya. Ia tidak memikirkan sebuah proses panjang namun akan berbuah hasil yang baik (dan tidak melulu uang) yang bernama pendidikan. Contohnya manusia belajar matematika dari akar, aljabar, logaritma, dan integral dengan cara manual bukan semata-mata untuk berhadapan dengan masalah yang akan ditemui sehari-hari. Hey, sekarang sudah ada kalkulator! Tapi matematika dimaksudkan untuk membentuk jalan pikir seseorang untuk menyelesaikan masalah. Manusia diajarkan membalikan keadaan/situasi dalam pikirannya untuk melihat akar masalahnya dimana.
Yang saya perhatikan, walaupun tidak semua, orang yang berpendidikan jarang melakukan kekerasan. Orang yang berpendidikan kebanyakan menggunakan cara yang tidak kotor misalnya korupsi, menipu orang, stab from the back, dan lainnya. Mereka melakukan itu karena mereka tahu strateginya. Ya memang ada saja sih, tapi kalau diperhatikan lebih teliti, di berita kriminal itu kan kebanyakan dilakukan oleh orang yang menengah ke bawah karena masalah ekonomi sehingga tidak bisa sekolah tinggi. Mereka yang ingin mendapatkan uang secara cepat, dengan menggunakan cara kotor, mereka membunuh atau mencuri. Mereka yang ingin dipuaskan secara seksual, memperkosa orang lain. Tidak bisa membayar pelacur, ya terpaksa anaknya. Menurut saya, ini dikarenakan jalan pikir yang dangkal dan mau enaknya mendapatkan sesuatu. Seperti yang Anda tahu, wahai pembaca, biaya semester kuliah itu sangat mahal! Katanya negeri, tapi bayarnya sama seperti swasta. Ironis, pendidikan hanya bisa dikenyam oleh orang kaya. Sekedar modal motivasi saja tidak bisa karena untuk mendapatkan beasiswa, orang harus pintar.
Maksud saya menceritakan ini adalah jika manusia Indonesia tidak berpendidikan karena mahalnya biaya pendidikan, ini bisa gawat! Padahal, menurut KKBI, pendidikan artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jika tidak berpendidikan, mereka akan berpikiran X=Y, Y=Z, maka X=Z padahal tidak selamanya X=Z. Oh pemerintah, tolonglah turunkan harga pendidikan. Jangan premium saja yang diturunkan lima ratus rupiah.
Nia