Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Pernah dapet mata kuliah "KOde etik" AKA KoDet???

saya sech positive thinkingnya udah pd tau lah ya...

Tau kan teman kalo seseorang yang nama belakangnya, cuma diembel-embeli "S.Psi" hanya boleh jadi tester dan skorer (aih..pecetak skor kali yah).

Pasal 10

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN

Interpretasi hasil pemeriksaan psikologik tentang klien atau pemakai jasa psikologi hanya boleh dilakukan oleh Psikolog berdasarkan kompetensi dan kewenangan.


Sejujurnya kalo saya sech sedih banget dengan hal itu, dengan kata lain selama 4 tahun mengenyam (mengkonsumsi??? ga lah ya :) bangku kuliah di jurusan psikologi, ujung-ujungnya cuma bisa dengan aktual menggunakan PD I aja "..kepada anda akan diaadakan tes psiologi...and bla-bla-bla)..then score it...JUST IT!!!


Terus mata kuliah grafis, dan PD PD sesudah PD 1 itu kemana larinya??? dimana nilai gunanya, sebagai pengetahuan saja??

kalo just for being a tester gitu, lulusan SMP aja di trainning 2 hari yakin dech pasti bisa melakukannya, dan utk skoring...cukup kasih kunci jawabannya aja jadi..

harus kan S,Psi berpotensi hanya semacam demikian???

Mari sikapi ini dg bijak kawand...^_^

9 komentar

  1. Anonim  

    Seperti halnya Sarjana Kedokteran yang sudah 4 tahun belajar mengenai obat2an dan biologi tapi belum boleh nulis resep dan ngudel2 perut orang? >_>

  2. Agee  

    Ironic yah, padahal biaya kul psikologi ama kedokteran ga murah, dan kul nya juga ga gampang...secara memahami kepribadian org gitu lho (complicated bgd) ^_^

    Pgn protes ama pemerintah, koq bisa-2nya kul yg segitu mahalnya and segitu rumitnya, udah lulus juga masi aja diperrumit...tapi pemerintah tnyata juga ga tau apa-apa ttg keilmuan psikologi.

    Dan justru yg bikin pasal-2 itu org2 dr psikologi sendiri..ya HIMPSI = Himpunan Psikologi Indonesia kan, dan mereka lah yg justru menguulkan membuat pasal-pasal itu jadi ada. Pasal yang mengharuskan seseorang menempuh jalur profesi yg mahalnya selangit hanya utk menggunakan alat tes..aih..ironic koq dari kaujm kita sendiri yg nyusahin yah..heheh...

    Pantesan org Indo jadinya krg Pro, krn dipersulit ama kaumnya sendiri dalam hal ini secara ga langsung bangsa sendiri dah 'minteri" sekaligus mempersulit "genre-muda" nya! Ironic kawand!!!

  3. Khrisnaresa Adytia  

    iya itu juga menjadi hal yang gue sayangkan.. tapi ada pendapat yang mengatakan emang kalo mau mendiagnosa dll itu, 4 tahun kuliah belum dianggap cukup.. zaman dulu aja kan kuliah psikologi 6 tahun terus langsung dapet gelar psikolog.. skr karena sistemnya dipisah, makanya aga2 kentang jadi sarjana psikologi..

  4. Agee  

    Nah...sebenernya kalo gw pribadi sech, lebih setuju utk kul 6 taun aja, semua sistem pendidikan psy di luar (red:aboard) ky gitu, then yg kul Psy bs jd lsg "Psi", ga "mentah" genee nah..kalo mau jadi master baru S2, itu gw setuju bgd. Knp??? Krn berkaitan dg kehidupan perekonomian Indonesia, sgt disayangkan toh kalo punya modal bagus tapi terhenti just becoz money problem...waduh-waduh jadi pgn jd mentri pendidikan, biar bener-2 bisa nyiptain "real" pendidikan murah..heheh. Jadinya tar kualitas SDM Indo keren dan terus maju...Amin.

    O ya all my dearest friends, ternyata eh ternyata...praktik pemeriksaan psikologi yg lebih diperhalus dg "Tes Potential Academic", dilakukan oleh sarjana psikologi pendidikan yg dulu dikenal dg nama "Bimbingan -Konseling"...waw..how ironic yah friends...trs knp HIMPSI tdk mengatur hal tsebut yah???

  5. Agee  

    Lupa ngasi tambahan info itu yg TPA diatas, itu di sekolah-2.

  6. Anonim  

    iya nih,,,saya sebagai mahasiswa psikologi terasa nanggung, padahal katanya jaman dulu, kuliah psikologi s1 lulusannya udah dianggep psikolog meskipun kuliahnya lebih dari 4 tahun, tp ga papa, malah lebih keren dan ga mahal..

    kalo sekarang mau jadi psikolog harus s2.. dan itu biayanya puluhan jutaaaaaaaaaaaaaaaaaa....

    doakan saya moga bisa s2 di luar negri.. amiiiinnnnnn
    heee

  7. Agee  

    ehm,...betul sekali, tapi ambil positive nya kuliah kita ga semahal kedokteran hehehe...

    setidaknya dg berbekal s.psi, masih bisa gawe di industri jadi staff HRD hehehe...

    or

    jadi terapis ABK...and I think that's great can help most amazing man in this world "CHILD" with "gift" of'course...I Loved Them ^_^

    Thx Psychology..u teach me alot about every unique things....hehe

  8. Nia Janiar  

    Tadinya pengen kuliah s-1 langsung kelar, kaga usah pake s-2an segala. Jaelah, terjebak. Tahu gitu masuk SE (maksudnya apa, apa maksudnya?)

    Enggak deng.

    Teteup nyesel gak masuk sastra.

  9. Anonim  

    Jika kita mau m'buka mata lebih lebar.. Lahan seorang S.Psi ga sesempit yg telah dperdèbatkan sblmnya. Qt ga cman bisa jd tester&skorer ataupun HRD doank. Msh byk hal2 dluar sana yg butuh sentuhan psikologi (ex: terapis autis, panti asuhan/jompo, guru TK, design2 ergonomika, trainer, dll). Smangat bro! slama msh byk manusia d muka bumi ini, psikologi msh tetap dibutuhkan! Walaupun S1 sekalipun.

Posting Komentar

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)