Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Inside and Outside

They need each other

No black without white

No sister without brother

We have no tomorrow

Without today

Speech is not possible

Without something to say

There are no wise ones

Without the fools

The nature of life

Is expressed in the dual

-Simpkins (Tao in Ten, 2002)

Yin-Yang. Feminim-maskulin. Bumi-langit. Baik-buruk. Hitam-putih. Takdir dari hidup, diekspresikan dengan pasangan. Seperti logo yin-yang, hitam putih yang berdempet, didalam hitam terhadap lingkaran kecil putih, didalam putih terdapat lingkaran kecil hitam. Keduanya memiliki esensi berbeda, namun keduanya berbagi esensi yang sama.

Begitu juga dalam keutuhan seorang manusia. Terdapat ketidaksadaran dan kesadaran. Seorang wanita memiliki ketidaksadaran pria (yang dinamakan animus), dan seorang pria memiliki ketidaksadaran wanita (yang dinamakan anima). Setiap orang yang memiliki kekurangan, pasti memiliki kelebihan lain. Setiap topeng pasti memiliki wajah asli (yang mungkin saja bertolak belakang).

Kesadaran akan adanya ketidaksadaran akan membawa kita kepada ’hidup’. Seperti pepatah mengatakan, ’kita tidak akan menghargai tawa, jika tidak ada tangis’, begitu pula diri manusia, tidaklah lengkap tanpa kesadaran akan adanya ’sisi lain’ yaitu ketidaksadaran manusia.

Ketidaksadaran ini bisa dibawa ke kesadaran dengan beberapa cara, misalnya menganalisa mimpi dan mencari arti melalui mitos.

Oleh: Lora


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Sejauh manakah psikologi mempelajari tingkah laku manusia? Sejauh-jauhnya selama topik yang dibicarakan berhubungan dengan manusia! Bukan saja yang kelihatan, melainkan juga yang tidak kelihatan, yang sering dikenal dengan ’ketidaksadaran’. Ketidaksadaran lebih banyak dibicarakan dalam aliran psikoanalisis.

Freud menganalogikan ketidaksadaran sebagai sebuah gunung es. Puncak gunung es yang dapat kita lihat (kesadaran manusia) sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan gunung es yang tidak terlihat dibawah permukaan air (ketidaksadaran manusia). Ingatlah peristiwa Titanic yang menabrak gunung es, sebetulnya kapal tersebut telah berhasil mengelak dari gunung es yang terlihat, namun bagian bawah kapal ternyata menabrak bongkahan es besar yang tidak terlihat dibawah permukaan air. Begitulah alam ketidaksadaran manusia, unseen, unconscious but big yet powerful.

Now the question will be à how powerful is our unconsciousness? Well, at least it is powerful enough to make you do things you actually do not want to do (refer to Insting Kematian Manusia), powerful enough to manipulate our mind of hating self to hating others (refer to The Shadow), powerful enough to hide our True SELF from us.

Ketidaksadaran adalah kekuatan yang besar dalam diri kita. Kebanyakan didalamnya adalah hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang kita benci, hal-hal tidak menyenangkan yang direpresi, dilupakan. Namun dilain pihak ketidaksadaran juga menyimpan suatu harta karun yang jika ditemukan dapat mengantarkan manusia kepada ’pencerahan’ hidup ketika seorang manusia semakin mendekati Self (dengan kapital S) dan dapat menyeimbangkan conscious-unconscious. Untuk itu, seorang manusia harus mengenali dirinya terlebih dahulu.

Menurut Jung, manusia memiliki collective unconsciousness yaitu sebuah ketidaksadaran kolektif, sebuah ingatan masa lalu yang terbawa sejak kita lahir. Ingatan-ingatan itu berisi primordial image (gambaran2 jadul) yang dinamakan archetype. Sebelum melanjutkan tulisan ini, kita harus mengerti konsep archetype terlebih dahulu. Archetype adalah tema-tema yang ada didalam kehidupan manusia. Tema ini mungkin bisa disejajarkan dengan ide Plato mengenai dunia ide. Archetype bisa berupa The Hero, Mother, The Wise Old Man, Anima, ataupun The Shadow.

Jung menyadari ketidaksadarannya berisi archetype ketika pada suatu hari ia sedang mengalami kegundahan didalam hati, ia merenung dan didalam renungannya ada seorang bijak yang memberikan nasihat kepada dirinya, ia menamakan orang tersebut Filemon. Ia merasa Filemon bukanlah dirinya, walaupun jelas sekali bahwa Filemon memberikan nasihat melalui dirinya didalam kesadaran maupun ketidaksadarannya. Kemudian Jung menyadari bahwa orang-tua-yang-bijak ini adalah ingatan kolektif dirinya (ketidaksadaran archetype) mengenai sebuah tema The Wise Old Man. Mungkin kita juga menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dulu ketika saya mengalami stress yang cukup mendalam, mencoba mencurahkan isi hati pada seorang pecandu berpendidikan rendah, and what a surprise, she could gave me the best answer I could ever thought that time! Dalam peristiwa ini, teman saya itu mengeluarkan tema Wise Old Man dari ketidaksadarannya. Sampai-sampai ia berkata, ’ga nyangka juga bisa keluar dari mulut orang yang suka ineks haha.’

We all have those qualities! Suatu kualitas keseimbangan. Seandainya saja kita mencoba untuk lebih aware akan keberadaannya, kita bisa menemukan harta dalam diri. Persona vs Shadow (’kebaikan’ vs ’keburukan’). Anima vs Animus (feminin vs maskulin).

Ternyata keseimbangan ini juga ditemukan didalam literatur dan cerita-cerita masa lalu. Misalnya saja konsep utama dalam Tao yang menggambarkan keseimbangan, Yin Yang. Atau cerita Mahabarata yang mengisahkan pertempuran kebaikan dan kejahatan yang tak pernah berakhir. Begitu pula lah manusia. Mencoba mengerti ketidaksadarannya sebagai salah satu cara menyeimbangkan hidup. Mengenal dan mengerti adanya ‘the opposite’ dari setiap sisi, menjadikan seseorang lebih menghargai kehidupannya. ^^ Sederhananya, ’kita tidak akan pernah menghargai hadirnya seseorang dalam hidup ini jika kita belum pernah merasakan perpisahan’. Kita tidak akan mengenal diri secara utuh jika kita tidak mengenali ketidaksadaran kita.

“We all have the qualities of balance. Awareness of both sides can deliver us to what is called The True Self. Sharpen your consciousness and travel to the unlimited world of YourSelf, OurSelf – for we share the same heritance!”

Oleh: Lora dari berbagai sumber


Believe in God is like believing the lame government.

They both have the 'authority' to make us 'obey', but what they do? Is it worth our faith?

Let's say I do believe in Harvey Dent :p But in fact --in the end-- he could not fulfill his promise, he even be the criminal himself!

Many would say, it is different with God. He is EXTRA. His good beyond our thinking. He brings the most justice, that there will be no imbalance. But what we see? Evil, illness, suffer, catastrophe, bad parents, war in the name of religion, terrorist, disable-person, hunger, tears.

We see the TRUTH around us, when actually God, or the government, promised to care (pasal 34 UUD; and all the promises God made to love his 'children').

The politician asks us to believe that they will give the best, a 'change' for a better country, better living. God asks us to believe for the day of judgment when He gives us an eternal luxury life, peace and joy.

The truth is around. The fact is watching us (should we watch them). Gloomy world with imbalance justice!

Will you speak in the name of nationality when the 'elderly' don't even care? Will you VOTE them in the next election?

In other side, after we see lots sadness around, will you 'vote' God to be the governor in your heart?

I won't.

And for that --think long-- 'Whom should I vote for the election 2009 ya?' . Hahaha.

*The post is just my personal view (Lora)


Personality, atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepribadian, adalah suatu konsep yang mungkin sama tua-nya dengan bahasa manusia. Trait (atau sifat dalam bahasa Indonesia) memiliki 2 asumsi besar (Matthews, Deary & Whiteman, 2003) yaitu bahwa sifat itu stabil seiring dengan waktu dan yang kedua, sifat dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku.

Kita sering mempercayai sifat seseorang sebagai ’true nature’, sesuatu yang terberi. Ingatkah Anda jika menghadapi teman yang seringkali marah-marah, dan Anda mencoba berkepala dingin menghadapainya dengan menghibur diri, ”Yah maklum deh, udah dari sananya dia memang suka marah-marah.” Dalam contoh ini, sifat dilihat sebagai sesuatu yang merupakan komponen tingkah laku yang dibawa dari lahir, sama misalnya seperti belang pada harimau Sumatera. ”Sudah dari sananya”.

Namun sifat dan kepribadian ini tidak serta merta eksklusif terlihat dalam tingkah laku manusia saja loh, hewan pun memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Sebelumnya saya pernah mendengar dari ’Kelompok Pecinta Binatang’(yang ini saya baca dari Forum Jual Beli Fauna di Kaskus),

”Jangan mengadopsi anjing karena lucu-nya saja, ingat bahwa anjing juga memiliki kepribadian masing-masing yang harus dikenali. Jangan sampai kita mencintai anjing ketika puppy karena lucu, kemudian mengabaikan mereka ketika mereka dewasa hanya karena kepribadiannya yang ’buruk’”.

Saya tidak pernah bisa mengerti kalimat tersebut sampai kesempatan kemarin saya memelihara beberapa kelinci. Selama ini total 6 kelinci yang telah saya pelihara (saat ini tinggal dua). Kelinci pertama saya bernama Poo, seekor kelinci Australia berwarna hitam. Ia sangat pintar, dalam dua hari ia sudah bisa litter dropping (pup dan pee pada tempatnya) dengan baik, jika dipanggil dari berbagai arah ia akan mendatangi kita (ia sudah dapat mengenali namanya sendiri), bahkan ia sengaja merendahkan kepalanya meminta untuk dielus, Poo adalah seekor kelinci yang suka disayang dan digendong, ia tidak pernah menolak. Sayangnya ia tidak bertahan lama. Poo meninggal dalam perjuangannya menghadapi penyakit diare yang ia derita.

Berdasarkan pengalaman memelihara Poo, saya pikir semua kelinci sama pintar dan baik seperti dia, namun betapa kecewanya saya ketika saya memelihara Embot Oren, Embot Coklat, Embot Putih, dan KoalaLa Bobotai sekarang ini. Mereka semua sangat bertentangan dengan Poo. Embot Oren tidak mendatangi ketika dipanggil, Embot Coklat sama sekali tidak suka digendong/disayang, KoalaLa Bobotai yang pup dan pee dimana-mana sampai badannya bau banget(sehingga namana Bobotai, Bau Bau Tai haha), dan embot putih yang akan saya ceritakan berikut.

Embot Putih adalah kelinci yang paling lama saya pelihara, sehingga saya paling mengenal dirinya. Dia adalah kelinci PALING BERSIH yang pernah saya temui, selalu membersihkan badannya, sama sekali tidak berbau, menolak makanan yang bau, litter dropping pada tempatnya, bahkan terkadang ia tercium wangi (dalam artian bukannya bau tak sedap, Embot Putih malah memiliki bau badannya sendiri yang bisa dibilang untuk ukuran binatang, wangi)!! Kasihan sekali dirinya harus share kandang dengan KoalaLa Bobotai yang sangat bau pesing, dan jorok. Embot putih jarang mau diganggu kalau lagi beraktifitas (lari2, dsb), namun jika ia sedang istirahat/tiduran kita bisa mengelus, menggendong, bahkan bisa meniduri dia saking miripnya dengan bantal karena gepeng dan berbulu haha. How cute.
When we admit to adopt animal, we have to accept them and say ’I love you just the way you are’. ^^ Walaupun sering kesal karena Bobotai bau, saking baunya sampai mengira dia adalah kukang yang menyamar jadi bunny haha, tapi tetap saja ‘I love her just the way she is’.

Sama seperti manusia, hewan juga memiliki sifat dan kepribadian. Baik yang (selama ini menurut pandangan sosial) ’baik’, maupun ’buruk’. Pada dasarnya mereka adalah makhluk hidup yang juga ingin dicinta apapun tingkah laku yang muncul dari dirinya.

Pengenalan akan sifat dan kepribadian binatang bisa membuat kita lebih menghargai makhluk hidup (human/non-human). Berbeda binatang dan sifatnya, berbeda pula cara kita menghadapi dirinya. Sehingga kita bisa menerima dan mencintai makhluk lain, bukan karena atribut yang menempel dan sementara (sekedar lucu, timbal balik, jelek, atau apapun) tapi lebih jauh lagi karena melihat mereka sebagai pribadi yang utuh.


“We share the same earth. We breathe the same air. Respect and love is the key to keep the balance among beings.”


[Poto kelinci berdasarkan urutan muncul: Embot Coklat, Embot Oren, Embot Putih, dan KoalaLa BoboTai (yang paling lucu dan paling bau hehe) ^^]


Oleh: Lora


Sumber:

Matthews, G., Deary, I.J., Whiteman, M.c. (2003). Personality Traits 2nd Edition. Electronic: Cambridge University Press





Dua tahun lalu dunia dikejutkan oleh ‘kenyataan yang tidak mengeenakkan’ oleh mantan wakil presiden Amerika Serikat yang juga seorang ilmuwan bernama Al Gore. Ia mengatakan bahwa bumi sekarang sedang menderita ’penyakit’ yang disebut pemanasan global (atau nge’trend dengan sebutan global warming).

Kampanye global warming ini bisa dikatakan sangat berhasil karena semenjak film dan buku ’An Inconvenient Truth’ beredar, semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga bumi dari eksploitasi manusia.

Istilah global warming memang baru nge-boom akhir-akhir ini, begitu juga dengan gerakan ’stop global warming’ yang menjamur, namun ternyata keprihatinan terhadap lingkungan hidup telah lama dikumandangkan oleh para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu, salah satunya adalah psikologi.

Tahun 1992 misalnya, Theodore Roszak dalam bukunya The Voice of Earth memperkenalkan gerakan ecopsychology,
”At its deepest level, psychology is the search for sanity. And sanity at its deepest level is the health of the soul. In this respect, psychology, whatever techniques it may use, is necessarily a philosophical pursuit…at some point, the healthy animals we once were..lost that primal sanity and grew up to become the bad mothers and fathers who made all the bad institutions.
Within the framework of an echopsychology, we raise the question: how did a psyche that was once symbiotically rooted in the planetary ecosystem produce the environmental crisis we now confront?

Mengapa manusia seakan mengambil jarak dengan lingkungan? Menganggap hubungan dengan bumi bersifat eksploitatif dan bukan mutualis?

Freud adalah salah satu kontributor yang memberikan pandangan modern terhadap hal ini. Freud mengatakan bahwa alam adalah seperti ketidaksadaran id yang dimiliki manusia – liar, sulit dijinakkan, perlu dibimbing, dikendalikan, sehingga sumber dayanya terus menerus tersedia bagi kita, dan jangan biarkan ia (id / alam) yang menaklukkan kita. Pandangan ini sangatlah memprihatinkan. Dalam bukunya Civilization and Its Discontent, Freud menambahkan:
”Tugas dari sebuah peradaban adalah ’kita’ melawan alam. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari ilusi bahwa sebenarnya bumi telah kalah!”

Pandangan lain juga dikemukakan Freud mengenai hubungan manusia-alam (kayanya bagi Freud, belum afdol klo belum ada esek-esek-nya haha). Dalam perspectifnya ini, hubungan dengan alam disejajarkan dengan hubungan sexual manusia,
”Man asserts and initiates, thrusts out, explores and embraces ’Mother Nature’ while the earth receives, responds, and (re)produce.

Sekejam itukah manusia? Seburuk itukah hubungan manusia dengan alam?

Ya. Suka tidak suka memang itulah yang selama ini ras manusia, kita, lakukan terhadap bumi. Kita menggunakan defense mechanism sebagai pembenaran dan menyelimuti nafsu egoistik terhadap bumi dengan topeng menjijikan, serta menyembunyikan kenyataan dari diri kita sendiri (bahwa bumi sedang sekarat), semata-mata hanya untuk meredakan kecemasan kita.

Kita melakukan:
  1. Denial, ketika tingkah laku tidak-bersahabat terhadap lingkungan muncul (kita membenarkan tindakan kita dengan cara sarkasme, avoidance, ataupun humor), misalnya ’toh ada yang bersihin klo gue buang sampah sembarangan, lagipula gue bayar uang kebersihan!’
  2. Rasionalisasi, ketika konsumsi berlebihan kita meyakinkan diri, misalnya dengan mengatakan bahwa ’kota besar memang membutuhkan konsumsi energi yang besar, jakarta panass wajar dunk AC gue terus nyala.’
  3. Supresi untuk menghilangkan kesadaran dan rasa bersalah kita mengenai pembuangan karbon dioksida (Aku jadi ingat ketika dulu aku masih remaja dan mengingatkan orang tuaku bahwa pembuangan mobil kami – Panther Diesel – waktu itu sangatlah kotor, mereka serta merta lansung memarahi aku tanpa rasa bersalah dan tanpa kesadaran bahwa we actually are responsible).
  4. Displacement kebiasaan untuk mendaur ulang dibandingkan dengan mengurangi konsumsi (yang memang lebih sulit), misalnya ’tidak masalah menggunakan kertas, karena pada akhirnya akan didaur ulang kok – padahal hanya mencoba mencari mudahnya saja’
  5. Proyeksi dengan mengatakan apa yang dianggap baik oleh pemerintah, developer, dsb (padahal kegiatan merusak bumi, yang menguntungkan untuk kita), juga baik bagi kita, ’pemerintah masih memperbolehkan penggunaan stereoform kok’
  6. Sublimasi dengan memberikan donasi jor-jor an, menulis tulisan indah ’stop global warming’, dsb tanpa benar-benar mengubah gaya hidup dan tingkah laku kita terhadap alam!

Dan masih banyak lagi pembenaran diri yang kita lakukan ketika menyakiti bumi! Wah-wah, ternyata kesemuanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari!

Bumi yang kita lihat sekarang adalah layar proyeksi besar dari ketidaksadaran manusia yang eksploitatif dan ’jahat’ (Lihat tulisan sebelumnya yang berjudul ’Why Prejudice’ mengenai ketidaksadaran manusia dan tingkah laku unfavorable). Untuk mengubah kenyataan ini, nampaknya manusia harus terlebih dahulu berdamai dengan ketidaksadarannya sendiri. Berusaha menjadi lebih reflektif dan lebih peka terhadap tingkah laku kita.

Memang bukanlah hal yang mudah, karena defense mechanism diatas telah terbentuk bertahun-tahun dalam diri setiap manusia, bahkan beribu-ribu tahun jika membicarakan hubungan ras manusia-alam. Sebelum semuanya terlambat, perubahan harus dilakukan sekarang! So?


”Open your eyes. Barely see our dying Mother Earth. Change our attitude, and let’s start a brand new healthy relationship with her.”

(Lora)

Sumber:
Roszak, Theodore. (1992). The Voice of Earth. New York: Simon & Schuster
Sneep, John. (2007). Ecopsychology: An Introduction and Christian Critique. Journal of Psychology and Christianity 26; 2:166-175
(Gambar diambil dari www.solcomhouse.com)



Pernahkah Anda merasa berada dalam suatu kebiasaan yang terus menerus Anda ulang? Walaupun dalam hati Anda, Anda mengetahui bahwa hal tersebut salah dan tidak baik bagi hidup Anda? Anda berusaha keluar dari kebiasaan Anda, namun berulang kali jatuh pada lubang yang sama dan seakan berada di lingkaran setan yang tidak bisa Anda hentikan siklusnya.

Dunia mengetahui konsep evolusi pertama kali ketika Darwin mempublikasikan bukunya yang berjudul
On the Origin of Species (1859). Darwin mengatakan bahwa setiap makhluk hidup berjuang untuk memperoleh posisinya di bumi kita ini melalui proses survival of the fittest, dimana makhluk yang paling tepat akan bertahan hidup.

Kemudian dunia kembali digemparkan oleh Freud yang mengatakan bahwa manusia bukan hanya memiliki insting untuk hidup (yang dalam bahasa Freud ’
eros’), namun juga memiliki insting untuk mati (’thanatos’). Benarkah demikian? Kalau begitu insting kematian sangatlah bertolak belakang dari prinsip bertahan hidup yang biasanya dimiliki oleh hewan dari species manapun! Bahkan lebih lanjut Freud mengatakan bahwa insting kematian ini memiliki dorongan yang lebih kuat dibandingkan dengan insting untuk hidup.

Apa buktinya? Yang jelas terlihat adalah kasus bunuh diri. Sisanya adalah bukti bahwa manusia sering melakukan tindakan yang sifatnya self-destructive, dengan kata lain menyakiti diri sendiri dengan cara mengulang tingkah laku yang mendatangkan ’harm’ bagi diri. Seringkali mencoba untuk keluar, namun tetap terjatuh pada kesalahan yang sama. Dan sering sekali mengeluh tentang hal tersebut!

Saya memiliki teman yang tidak bisa mengontrol pola makannya. Ia sering mengeluh ketidaknyamanan dirinya ketika mengkonsumsi banyak makanan, ’terlalu begah’ katanya. Namun dengan segala keluhannya itu, ia tetap tidak bisa mengontrol pola makannya. Tetap menikmati dalam memakan dan selalu mengeluh seusainya. Kenyataan tentang pola makan ini bukan hanya dialami oleh mereka yang kelebihan berat badan (obesitas), bahkan saya pun tidak bisa mengontrol pola makan, hehe, walaupun tubuh saya tidaklah gemuk.

Lain cerita, saya memiliki teman lain selalu mengeluhkan mengenai hubungannya dengan wanita. Ia terus menerus mengencani wanita cantik yang hanya berorientasi pada uang yang ia miliki. Saya sempat tenang ketika ia berhasil mengakhiri hubungannya dengan wanita ’matre’ pertama, namun kemudian ia kembali menjalani hubungan yang sama dengan wanita cantik lainnya yang hanya menginginkan materi darinya. Berulang kali saya mencoba menyadarkan dia, bahkan ia pun menyadari hal yang sama. Namun tetap saja tidak bisa keluar dari hubungan ’materialistik’ tersebut dan terus menerus mengeluhkan hubungannya setiap berkesempatan meneleponku. Mungkin hal serupa terjadi pada mereka yang terus menerus mempertahankan hubungan abusive dengan justifikasi cinta.

Contoh-contoh ekstrim diatas mungkin tidak dialami oleh Anda, namun salah satu dari tingkah-laku-mengarahpada-penghancuran-diri ini Anda miliki (diambil dari suite101.com):
  1. Emotional eating, or eating too much or too little
  2. Drinking too much or alcoholism
  3. Unsafe, unprotected promiscuity
  4. Drug addiction
  5. Working all the time, workaholic
  6. Constant misery, complaining, or sour attitude - a common form of repeating the past
  7. Chronically choosing the wrong man or woman
  8. Picking the same type of friends (bad ones)
  9. Chronic negativity or pessimism
  10. Trying to "make" others love us - another common form of repeating the past
  11. Constant financial struggles
  12. Persistent struggles with illness or disease
Tambahan hal sehari-hari yang bisa kita temui: perilaku agresi terus menerus (seperti marah) pada akhirnya pun membawa diri kita pada self-destructive, begitu juga dengan gosip yang bisa saja berujung pada prasangka terhadap orang lain yang akhirnya bisa menggerogoti diri Anda sampai menumbuhkan kebencian berakar dihati Anda.

Intinya setiap perilaku yang Anda ketahui buruk jika terus dilakukan, namun terus Anda lakukan, dan tingkah laku itu bisa membawa Anda ‘menghancurkan’ diri Anda sendiri, adalah
Repetition Compulsion. Mungkin selama ini belum Anda sadari, tapi tingkah laku itu perlahan-lahan mengikis kebahagiaan Anda, sampai akhirnya kesehatan dan kehidupan Anda.

Insting ini dimiliki setiap manusia.

Bagaimana cara menghentikannya?

Pertama, kita harus mengetahui bahwa pada dasarnya kita memiliki ketidak-sadaran yang mendorong kita untuk melakukan tingkah laku destructive yang sama secara terus menerus. Cara untuk menghentikannya adalah membawa ketidak-sadaran itu ke kesadaran dengan cara
self-awareness. Kenalilah diri Anda, apa yang Anda inginkan, apa yang Anda butuhkan. Jujurlah terhadap diri sendiri mengenai tingkah laku yang walaupun Anda tolak berada dalam diri Anda, namun sebenarnya Anda miliki. Setelah itu atasilah pikiran-pikiran dan perasaan Anda itu. Cari masalahnya, selesaikan masalahnya, lalu seyogyanya Anda dapat hentikan repetition compulsion ini.

Misalnya pada teman saya yang selalu jatuh cinta pada orang yang salah: kenalilah kebutuhan (kebutuhan untuk dicinta, kebutuhan untuk mendapatkan wanita cantik), mengapa? (karena ketakutan sendiri, atau tidak dicintai oleh orang lain), yang dirasakan ketika diperdaya (kesal karena tidak ada cinta, yang ada hanyalah ’pembelian cinta’ dengan materi), solusi masalah (mencari wanita yang tepat yang bisa mencinta dan bukan sekedar ’dibeli’ dengan uang).

Memang sangatlah mudah untuk mengatakan solusi, namun bagaimanapun juga perubahan yang menyakitkan dan mungkin bisa jadi perjalanan panjang ini akan berbuah hal yang manis bagi Anda:
Well-being. Keutuhan hidup yang Anda jalani, dan senyum manis pada setiap hari Anda..



”Now, it is your decision to CHANGE. Or just simply stay where you are, destructing yourself slowly by doing these repetition compulsions. You choose!”

(Lora)
(gambar diambil dari http://www.xoospace.com/myspace/graphics/19100.jpg)



Mari bermain permainan “membongkar kepribadian teman anda”. Cara memainkan permainan ini adalah dengan melihat lingkungan hidup teman anda. Coba tengok kamar tidur atau meja kerja teman anda, dan silakan membuat kesimpulan mengenai kepribadiannya. Jangan takut salah, karena psikolog Samuel Gosling menemukan bahwa ternyata manusia mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menebak kepribadian orang lain berdasarkan hal-hal yang berada di sekitar orang tersebut. Yang anda butuhkan adalah sedikit latihan (cocokkan tebakan anda dengan kepribadian sebenarnya teman anda, dengan mengkonfirmasi padanya atau pada rekan sejawatnya), dan anda bisa menjadi Sherlock Holmes bagi diri anda sendiri.

Ada dua set dari kumpulan pertanda yang dapat anda jadikan sebagai bahan anda untuk menyimpulkan kepribadian orang. Set yang pertama adalah “identity claims” atau hal-hal yang secara sadar digunakan seseorang sebagai simbol yang menggambarkan dirinya. Sebagai contoh, jika anda suka orang yang pintar, perhatikan taraf kesulitan dari buku-buku koleksi yang ada di kamarnya. Jika anda mencari orang yang lembut, perhatikan jika ada pernak-pernik lucu di meja kerjanya. Jika anda ingin berdekatan dengan orang yang suka bergaul, perhatikan apakah dia menempelkan foto-foto dirinya yang sedang bermain bersama teman-temannya di folder foto facebook-nya atau lihat apakah ada banyak barang-barang pribadi yang dia letakkan di tempat umum (misal, di dalam loker sekolah).

Seperangkat bukti kedua adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah “behavioral residues”, yaitu tanda-tanda kepribadian seseorang yang ditinggalkan secara tak sadar. Kotak CD yang berserakan bisa mengungkapkan selera musik orang tersebut (serta tingkat kerapian si empunya CD). Pemilihan warna-warna yang mendominasi tempat hidup seseorang juga dapat menjadi alat untuk membongkar kepribadian. Selain dari tingkat kecerahan warna (makin cerah, makin ceria), banyaknya variasi warna yang digunakan juga memberi arti tersendiri (jika penampilan seseorang didominasi oleh misalnya, warna pink, kita bisa menebak bahwa dia sedikit bersifat obsesif).

Selain tebakan yang bersifat umum di atas, ada juga tebakan yang lebih didasarkan pada sifat orang tersebut. Concientiousness (kemandirian dalam mengambil keputusan) dapat dilihat dari kondisi ruangan yang bersih dan terorganisir. Openness (kemampuan untuk beradaptasi dengan pengalaman, cara pandang, dan kebiasaan baru) dapat dideteksi melalui pernak-pernik yang unik atau banyaknya buku-buku yang ada di dekat orang tersebut.

Masih membicarakan mengenai menebak sifat seseorang, sifat disiplin dan dapat diandalkan bisa dilihat dari hadirnya ruangan (atau meja kerja) yang bersih dan rapi. Anda juga dapat menebak stabilitas emosi seseorang dari tingkat ke-feminin-an lingkungan teman anda.

Bagaimana? Cukup mudah, bukan? Tata letak, banyaknya barang pribadi, sampai genre dari CD yang ditemukan di meja kerja, kamar, dan profile myspace teman anda memberikan petunjuk mengenai kepribadian teman anda. Silakan anda saling menebak kepribadian dengan teman anda! Kegiatan itu akan menjadi sebuah kegiatan yang cukup menyenangkan dan menambah keakraban. Atau, jika besok-besok ada seseorang yang mengajak anda kencan, anda bisa mengecek dulu kecocokan kepribadiannya dengan kepribadian anda sebelum melangkah lebih jauh. Judge a book by it’s cover! But judge it carefully. (Dion)

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)