Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Tubuh manusia yang didesain sedemikian rupa oleh Sang Pencipta agar semua fungsi badan yang dimiliki digunakan sesuai dengan 'perannya' masing-masing, ternyata pada prakteknya tidak semulus itu. Peran pria sebagai tombak yang menginspirasi pembuatan colokan listrik dan wanita sebagai landasaan yang menginspirasi stop kontak, tidak menghalangi mereka-mereka yang ingin mengubah hal tersebut. Pria dengan wanita kini menjadi pria dengan pria. "Tombak dengan tombak". Apa yang mendorong kaum adam untuk berpindah haluan sudah lama menjadi tanda tanya bagi saya, sampai akhirnya tanda tanya tersebut berubah menjadi tanda seru saat ditemukannya beberapa penjelasan mengenai hal tersebut.

Asal muasal mengapa pria dapat berubah haluan menjadi gay, ternyata ada lebih dari satu. Bailey et al (dalam Crookss & Baur, 2006) mengemukakan beberapa sudut pandang mengenai mengapa seseorang menjadi homoseksual. Pertama, dari sudut pandang genetis. Ada yang mengatakan bahwa seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang mendukung dirinya memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama lelaki.

Tidak kalah serunya, gay dilihat dari sudut pandang psikoanalisis. Para tokoh yang memiliki sudut pandang psikoanalisis atau dapat disebut kaum Freudian, menyetujui bahwa bayi adalah Polymorphus Perverse, yaitu arah dari seksualitas bayi sama sekali tidak memiliki perbedaan baik laki-laki ataupun perempuan. Bayi mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang 'pantas' dan dianggap 'tidak pantas'. Misalnya bagi bayi laki-laki, secara tidak sadar, bayi tersebut mengarahkan seksualitasnya menuju objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang secara simbolis melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, maka ada kemungkinan bahwa homoseksualitas akan terjadi.

Lain lagi halnya dengan pandangan dari teori belajar. Manusia adalah makhluk seksual, namun manusia bukanlah makhluk heteroseksual atau homoseksual. Jadi, hanya melalui pembelajaran, manusia mengetahui bahwa manusia tersebut akan menjadi homoseksual atau heteroseksual.

Terakhir ada pandangan yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan sekitar, yaitu pengaruh sosiokultural. Contoh yang paling mudah adalah pengaruh dari 'labelling'. Andaikan kita memberikan label kepada teman kita bahwa ia adalah homoseksual, lama kelamaan, meskipun teman kita adalah laki-laki normal, akan berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kemudian dari proses tersebut, ada kemungkinan bahwa teman kita tersebut memiliki kepercayaan diri yang rendah atau mudah terpengaruh kata-kata orang lain, dan jadilah seorang homoseksual.

DSM-IV sudah tidak lagi memasukkan homoseksual sebagai salah satu kategori dari gangguan psikologis seseorang. Apakah mungkin colokan listrik dan stop kontaknya pun berubah bentuk? (Khrisnaresa)

Beberapa hari yang lalu, di acara Empat Mata, mempunyai tema 'Ayahku Pahlawanku' (begitulah kira-kira). Diantara bintang tamu, Empat Mata menampilkan seorang perempuan "bertopeng" laki-laki. Ia bernama Bella.
Bella merasa dirinya perempuan. Setelah melalui proses ala Siti Nurbaya, ia dinikahkan dengan seorang perempuan. Yang membuat cerita ini menarik, si istrinya tahu bahwa ia waria! Bagaimana bisa? Kemudian istrinya meninggal karena menderita kanker rahim. Ketika ditanya apakah ia mencintai istrinya, secara tidak langsung ia menjawab ia tidak cinta karena ia adalah perempuan.
Bella mempunyai seorang anak laki-laki, yang menurut saya hebat. Saya membayangkan beban rasa malu yang ia harus ditanggungnya. Tapi ketika ditanya apakah ia malu, anak itu menjawab tidak. Kita tidak bisa naif. Mungkin pada mulanya anak itu tidak merasa malu, tapi lama kelamaan rasa malu bisa tumbuh akibat ejekan atau hinaan dari teman-temannya. Semoga tidak terjadi.
Yang pasti, Bella benar-benar merasa dirinya perempuan. Sedari dulu ia perempuan, namun pakaian perempuan baru dikenakan beberapa tahun ke belakangan ini.
Apakah Bella seorang homoseksual? Ya. Bagi orang lain, ia laki-laki dan menyukai sesama jenis. Tapi bisa juga tidak. Baginya ia perempuan dan menyukai lawan jenis. Ia menghayati dirinya sebagai perempuan, memaknai dirinya perempuan, hanya saja ia di dalam tubuh laki-laki.
Tubuh bukan semata-mata fisiologis, antara vagina dan penis. Tapi bagaimana tubuh kita menghayati tubuh kita, mempunyai makna bagi kita, dan memberi makna pada dunia. Melalui tubuh, seseorang mengekspresikan dirinya. Bisa dari tingkahnya yang kemayu, centil, lincah, ulet, dilihat dari cara berjalan - ia seolah-olah ingin memberi tahu bahwa ada perempuan di dalam dirinya. Bahkan ketika duduk, ia menopang kakinya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
Tubuh menjadi pusat dirinya berhubungan dengan dunia. Tubuh menunjukkan bahwa dirinya mengada pada dunia. Semua fungsi dari badan seperti bergerak, mengamati, memakai alat seksualitas, adalah suatu cara mengada. Bahwa riwayat seksual seseorang ialah kunci untuk pengertian hidupnya. Ia adalah perempuan, berhubungan dengan laki-laki, dan itulah arti hidupnya.
Tentu saja ini bersifat subjektif. Untuk masuk ke dunia subjektif manusia, orang lain harus melepaskan nilai-nilai yang dianutnya. Bagi saya, ini bukan pekerjaan mudah, karena orang lain pasti sudah melalukan judgement tanpa mencoba tahu dan merasakan bagaimana rasanya menjadi Bella, bagaimana kebingungan yang ia rasakan antara keinginan yang ada di dalam dirinya sementara norma-norma masyarakat menyisihkannya, atau bagaimana bebannya berpura-pura menjadi orang yang tidak ia inginkan.

Sumber utama tulisan ini adalah dari situs American Psychological Association (http://www.apa.org/topics/orientation.html#mentalillness), buku Our Sexuality karya Crooks & Baur dan ingatan penulis tentang film Kinsey.

Seksualitas memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah orientasi seksual –dalam orientasi seksual ini kita menemukan konsep homoseksual dan heteroseksual. Orientasi seksual adalah ketertarikan yang bersifat abadi (enduring) secara emosional, romantis, dan afeksional kepada manusia lain. Orientasi seksual bersifat kontinum –memiliki jenjang-jenjang dari satu ekstrim ke ekstrim lain— yaitu dari exclusive heterosexuality (hanya menyukai lawan jenis), sampai ke exclusive homosexuality (hanya menyukai sesama jenis). Tepat ditengah kontinum, terdapat orientasi biseksual.

Orang yang pertama kali menemukan konsep kontinum ini adalah Alfred Kinsey. Dia membuatnya ke dalam skala Kinsey, dimana angka 0 artinya exclusive heterosexual dan 6 adalah exclusive homosexual dan 3 adalah equally homosexual and heterosexual alias biseksual (dimana dalam film Kinsey digambarkan bahwa saat Kinsey pertama kali menceritakan skala ini pada murid prianya, sang murid pria mengatakan bahwa ia homoseksual dan Kinsey lalu menyadari dia biseksual, lalu mereka berciuman dan kalau tidak salah berhubungan seks).

Orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual, karena orientasi seksual adalah perasaan dan konsep diri, bukan perbuatan. Seseorang mungkin saja tidak melakukan kegiatan seksual yang sesuai dengan orientasi seksualnya (atau sama sekali tidak melakukan hubungan seks). Orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kognitif dan biologis. Artinya, bagaimana seseorang dibesarkan (termasuk pengalaman-pengalaman seseorang yang bersifat seksual), pola pikir orang tersebut dan struktur genetis dan hormonal yang didapat sejak seseorang berada di dalam kandungan mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Orientasi seksual seseorang pada umumnya muncul pada awal masa remaja.

Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang, APA (American Psychological Association) menyimpulkan bahwa manusia TIDAK BISA MEMILIH orientasi seksual mereka (apakah mereka straight alias heteroseksual, gay alias homoseksual, atau biseksual).

Komponen Seksualitas Lain Di Samping Orientasi Seksual
Biological Sex: Struktur seks biologis, yaitu alat kelamin (penis atau vagina).
Gender Identity: Perasaan seseorang apakah ia seorang pria atau wanita –karena bisa saja seseorang yang memiliki penis sebenarnya merasa bahwa ia adalah seorang wanita.
Social Gender Role: peran yang diberikan (dan diharapkan) oleh budaya mengenai perilaku apa yang dianggap maskulin dan perilaku apa yang dianggap feminin. Misal, di kebudayaan Amazon, wanita mengerjakan semua pekerjaan, bahkan yang bersifat maskulin (misal, membangun rumah dan menjaga daerah mereka) karena para pria tinggal di hutan dan hanya datang pada musim kawin.
nb: Gay adalah sebutan bagi seorang homoseksual, baik dia seorang pria yang menyukai pria lain, maupun wanita yang menyukai wanita lain. sedangkan lesbian adalah sebutan hanya bagi wanita homoseksual.

Kemarin ini, saya menghadiri pernikahan seorang teman yang menyatukan dua kebudayaan yang berbeda: Jawa dan Sunda. Dalam sebuah pernikahan adat Jawa yang dihadiri oleh keluarga Sunda, terdapat beberapa perbedaan seperti cara berperilaku, cara bertutur kata, cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan lainnya. Yang Sunda merasa tersinggung dengan sikap Jawa yang tidak berbasa basi, yang Jawa merasa aneh dengan Sunda yang terlalu banyak berbasa basi. Yang Jawa duduk tegap dan berbicara dengan bahasa yang dijaga, yang Sunda duduk santai sambil melontarkan gurauan ke orang tua. Yang Jawa memakai baju muslim, yang Sunda memakai kebaya dan celana jeans. Yang Jawa mengutamakan bibit, bebet, dan bobot, yang Sunda mengutamakan latar belakang materi seseorang. Kata orang Jawa, yang penting cinta dan kasih dari pasangan. Kata orang Sunda, materi itu penting karena perempuan butuh jaminan hidup dan tidak bisa naif hanya bermodalkan cinta.

Kemudian mereka saling mengumpat, "Dasar Jawa!" dan "Dasar Sunda!"
Hanya dua kebudayaan yang menghuni pulau yang sama saja, sudah ada pertengkaran kecil yang membawa nama budaya. Lalu apa kabar Indonesia yang konon katanya punya banyak kebudayaan? Saya teringat dengan beberapa isu etnis yang menjadi topik utama di media, salah satunya Sampit.

Etnik-etnik yang terpisah secara geografis dan sosial-budaya yang berbeda, mempunyai cara dalam mengembangkan pengalaman psikologis masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan identitas etnik masing-masing. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, pulau Jawa yang terdiri dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Solo, dan lainnya) dan Sunda (Priangan, Banten, Cirebon, dan lainnya) serta kelompok kecil seperti Madura dan Betawi saja sudah menimbulkan percekcokan.

Selalu ada prasangka yang diyakini benar dalam menilai orang lain. Ini disebut dengan stereotype. Dimulai dari gambaran seseorang tentang orang lain (personifikasi). Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki sejumlah orang disebut stereotype. Ini adalah konsepsi yang diakui bersama, yaitu ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengubah stereotype tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena ini sifatnya turun temurun dan mengakar di pikiran individu. Dan individu sadar akan hal itu, namun ia menyakini apa yang dipikirkannya itu benar. Apalagi jika orang lain berperilaku seperti stereotype yang ia akui, maka ia merasa dikuatkan. Hanya karena perilaku satu orang, ia menyamaratakan kepada golongannya.

Ambil contoh kasus besar yang sudah ada pertumpahan darah seperti kasus Sampit antara Madura dengan Dayak.

Proses saling sangka ini menghambat akulturasi bangsa, yang konon disebut Bhinneka Tunggal Ika (bagi saya, ini konon, karena sekarang sepertinya sudah diragukan keberadaannya). Pemerintahan Indonesia ketika orde baru meneriakkan semangat sama-rata-sama-rasa demi persatuan dan kesatuan. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun pasca reformasi, rupanya slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya isapan jempol belaka karena untuk sebuah kebijakan penyeragaman oleh negara, sebuah sistem kehidupan masyarakat sengaja dipaksa dan diatur. Bahkan untuk penyeragaman, harus ada penduduk yang menjadi korban, dibantai dan kepalanya diarak keliling kota Sampit. Apalagi terkait kasus dengan Madura-Dayak, beberapa sumber mencetuskan bahwa awal mula konflik ini karena transmigrasi yang waktu itu dicanangkan oleh pemerintah agar adanya penyamarataan pembangunan di semua pulau.
Sebenarnya konflik etnis sudah ada dari era pemerintahan sebelumnya namun di era reformasi kecenderungan konfliknya lebih meningkat. Setiap konflik etnik pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Ini adalah strategi utama yang diterapkan bagi rezim otoriter. Pada era reformasi, konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasil pembangunan.

Dalam kasus Madura-Dayak, rupanya penduduk Madura lebih unggul satu langkah daripada orang Dayak di sektor informal sehingga menggusur penduduk asli keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya mereka tidak unggul - seperti kriteria Nietzsche bahwa seseorang yang unggul harus memiliki kecerdasan, kekuatan, dan kebanggaan - karena dalam kecerdasan, mereka sama-sama rendah. Rupanya orang Madura yang dahulu menjadi pekerja kasar dan menderita, kini bisa lebih sukses. Ini hampir serupa dengan filsuf yang dikagumi Nietzsche – Schopenhauer – yang mempunyai pandangan ‘Orang bijak menarik hikmah dari kepedihan, bukan dari kesenangan.’ Jika Indonesia melihat ini sebagai permasalahan, tetapi tidak bagi Nietzsche karena menurutnya memang seperti itulah kehidupan yang tidak menentang kodrat alam. Di dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Permasalahan Madura-Dayak bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara, tetapi melalui darah dan baja.

Bahkan, mungkin sebelum konflik terjadi, Nietzsche sudah tidak setuju dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika karena menurutnya slogan ini hanya untuk orang-orang yang ingin bersaing, meskipun meminta perlindungan diatas haknya. Dan slogan ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang agung. Selain itu, kritiknya mengenai kesetaraan adalah konsep ciptaan manusia yang palsu dan ujung-ujungnya merusak itu benar karena pasca reformasi banyak bermunculan konflik etnis seperti Ambon dan Poso.

Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka pertahankan. Mengikuti teori Nietzsche, jika orang Dayak sungguh-sungguh hendak menjadi pencipta, haruslah lebih dahulu menunjukkan keberaniannya untuk memusnahkan nilai-nilai lama. Seseorang harus terlebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempersetankan segala nilai yang sudah mantap karena nilai-nilai lama hanya akan menghalangi untuk mencipta.

Tapi, itu menurut pandangan Nietzsche. Jangan salah mengartikan untuk menghalalkan yang namanya peperangan. Entah setuju atau tidak, ini bisa dijadikan pengetahuan.
Semoga Bhinneka Tunggal Ika masih tetap ada.

Pada sebuah perjalanan di suatu sore yang indah, di dalam mobil yang menembus hujan gerimis dibawah sinar temaram langit yang berwarna lembayung, menuju timur jauh kota Jakarta... saya terpikirkan sebuah konsep terkait dengan psikologi konsumen. Sebenarnya konsep tersebut baru terpikirkan akhir-akhir ini dikala saya menaiki mobil yang sama saat dalam perjalanan pulang dari kampus, tapi tak dinyana lagi kejadian pada sore itulah yang menjadi pemicu dari terpikirkannya konsep ini. Konsep tersebut adalah hubungan antara psikologi konsumen dengan lagu sebagai sebuah produk industri. Mungkin saya telah menemukan rahasia bagaimana membuat sebuah lagu menjadi laku. Mungkin sebaliknya, temuan saya ini (seperti banyak temuan saya yang lain) sudah ditemukan bertahun-tahun yang lalu dan sudah secara sadar digunakan dalam industri musik. Mungkin bahkan buah pikiran saya ini salah. Tapi bagi saya pengungkapan (dan mungkin pendiskusian) konsep ini patut untuk dilakukan. Dan sebelum saya mengungkapkannya, tentu saya perlu menceritakan kembali kejadian di sore hari itu.

Seperti yang banyak teman saya ketahui, saya sangat menikmati aktivitas mengendarai mobil di malam hari. Saya menikmati sensasi melihat titik yang jauh didepan mata kian mendekat, berada pada titik terdekat dan akhirnya lari menjauh ke arah belakang setelah melewati kaca samping kursi pengemudi –khususnya jika sensasi tersebut dipayungi oleh pemandangan indah langit yang hitam yang dibercaki sinar lampu neon. Maka, jika ada seseorang yang mengajak saya melakukan sebuah kegiatan yang berhubungan dengan mobil dan malam hari, saya dengan mudah akan menyambut ajakan tersebut. Tak terkecuali pada sore hari itu, saat seorang teman memberikan saya kesempatan untuk melihat rumahnya di Jakarta Timur. Bertiga dengan pacar teman saya tersebut, kami pun berangkat dari Depok.

Disepanjang perjalanan, tentunya sesuai dengan Peraturan Internasional mengenai Pengemudi dan Penumpang (yang mayoritas teman saya tidak menghormati peraturan ini), lagu yang didengarkan adalah lagu-lagu pilihan pengemudi. Saya pun memutar CD hasil burn yang berisi lagu-lagu yang berasal dari laptop. Pada satu bagian dari CD tersebut, terdapat sebuah daerah yang bernama Dewa 19-Ahmad Band Combo, yaitu tempat di mana beberapa lagu lama dari grup band Dewa 19 (saat Ari Lasso masih bergabung) dan Ahmad Band bergantian mengisi ruang suara jika CD dimainkan. Saya dan pacar teman saya (yang, sebagai catatan, juga masuk dalam daftar teman saya) melakukan perbincangan yang membandingkan antara Dewa 19 kini dan dulu. Dan pada saat itulah pemicu pemikiran saya terlontar.

Teman saya menyatakan tidak pernah menyukai band Dewa 19. Saya dan pacar teman saya memandangi manusia yang baru melontarkan pernyataan tersebut, yang tiba-tiba berubah menjadi mahluk yang unik. “Loe nggak pernah suka lagu-lagu Dewa 19?”, saya bertanya. Teman saya menggeleng. “Bahkan lagu-lagu Dewa 19 yang lama?”, saya memastikan teman saya mengerti bahwa saya membuat sebuah garis batas yang memisahkan grup band tersebut antara yang dulu dan yang sekarang. Sekali lagi jawabannya tidak. “Kenapa?”, saya menanyakan alasan ketidaksukaannya. “Habis gue ga suka pandangannya Ahmad Dhani.” Saya terpana. Lalu kami membahas pandangan Ahmad Dhani yang ‘tradisional’ yang –berdasarkan pada data tidak valid dari infotainment dan pemaknaan tidak berdasar kami pada lirik-lirik lagu ciptaan Dhani— memegang prinsip bahwa suami masih memegang kuasa otoriter terhadap istri dan memandang wanita sebagai ‘pelengkap’ pria (seperti dalam sebuah liriknya, ‘Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam’). Pembicaraan berlanjut ke topik lain dan kami pun melupakannya.

Sampai suatu pikiran menimpa saya akhir-akhir ini, “kalau begitu, teman saya tersebut tidak pernah membeli album Dewa 19. Yang artinya, Dewa 19 menjadi satu royalti-album lebih miskin. Mereka tidak mendapatkan uang teman saya... hanya karena perbedaan pandangan?” Rupanya pandangan bisa mempengaruhi kemungkinan anda mendapatkan uang. Dan saat itulah saya melihat lagu dan lirik sebagai sebuah produk yang (sebagai sebuah produk) tentunya tunduk pada hukum-hukum psikologi konsumen.

Jadi jika diuraikan seperti ini, Konsumen (menurut Hawkins pada tahun 1983) adalah sebuah unit pengambil keputusan yang memproses informasi, mengolah informasi tersebut dalam rangka situasi yang ada, dan mengambil tindakan yang diharapkan akan mencapai kepuasan dan menunjang gaya hidup.

Maksudnya, Hawkins melihat bahwa manusia membeli produk yang menunjang gaya hidupnya, misalnya, jika gaya hidup seseorang adalah “sehat jasmani” dia akan membeli produk yang menunjang hal tersebut, seperti alat olah raga, yoghurt, kasur ortopedic dan produk lain yang akan menunjang kesehatan dirinya, karena ia memiliki gaya hidup sehat. Nah, sesuai dengan gaya hidupnya tersebut, orang tersebut akan memproses informasi dari semua produk yang ada di dekat dirinya (yang bisa ia beli) lalu mengolahnya dengan mencocokkan dengan gaya hidupnya (serta mencocokkan dengan isi dompetnya). Setelah itu, orang tersebut akan membeli produk tersebut, selain karena produk tersebut menunjang gaya hidupnya, juga sebagai pernyataan pada dunia mengenai gaya hidupnya (misal, orang yang selalu membeli yoghurt secara tak langsung membuat pernyataan ‘saya peduli pada kesehatan pencernaan saya.’).

Yang terjadi pada teman saya adalah praktek kebalikan dari teori Hawkins tersebut. Gaya hidupnya adalah “modern, dimana wanita dan pria memiliki derajat yang sama. Dia memproses informasi bahwa lirik dan pandangan seorang pemusik tidak sesuai dengan gaya hidupnya tersebut. Sehingga, ia tidak membeli albumnya karena dengan mendengar liriknya, ia merasa gaya hidupnya disalahi dan jika ia membeli albumnya, ia (mungkin secara tak sadar) takut dianggap mendukung pandangan pemusik tersebut.

Gaya hidup (seperti yang telah dibuktikan di atas) memang memiliki aspek sebagai motivator. Gaya hidup seseorang akan membuat seseorang membeli atau tidak suatu barang, karena ia mempersepsi barang tersebut sebagai pendukung self image dan manifestasi konsep dirinya atau tidak. Selain itu, gaya hidup bersifat disadari atau tidak. Sehingga untuk mempengaruhinya tidak selalu harus distimulus secara verbal (bahkan kadang pengakuan bahwa suatu produk mendukung gaya hidup tertentu akan terkesan ‘norak’ dan membuat seorang calon konsumen jadi malu membelinya).

Kita telah melihat bagaimana lirik lagu seseorang dapat mencegah seseorang untuk menjadi lebih kaya dari kondisinya saat ini. Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini? Tentunya, dalam kaitannya dengan musik dan lirik, adalah cara untuk membuat lirik lagu yang bisa memaksimalkan potensi kekayaan pembuatnya. Caranya? Tentu dengan memanfaatkan gaya hidup (dan aspek kepribadian lainnya). Bisa kita simpulkan seperti ini, lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu sesuai dengan diri dari individu-individu dalam masyarakat. Lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu yang akan diidentifikasikan oleh masyarakat sebagai ‘dekat’ dengan dirinya, yang akan dipersepsi sebagai gambaran hidupnya (walau pun saya akui kesimpulan ini belum valid karena belum berdasarkan data real dari masyarakat. Tapi saya siap membuat penelitiannya jika ada yang mau mensponsori, hahaha...).

Lalu sesuai dengan pengetahuan di atas, apa tips untuk membuat lagu yang laku? Tentu dengan membuka mata. Lihatlah isu-isu sosial yang sedang hangat. Gaya apa yang sedang memasuki trend, lalu buat lagu yang dapat mengikuti arus tersebut. Sebagai contoh, bukannya tak mungkin lagu yang memiliki lirik “lelaki buaya darat, busyeh...” menjadi sangat terkenal karena saat itu sedang hangat isu poligami.

Tapi ada sebuah masalah lagi, lagu (dan lirik) adalah sebuah seni yang merupakan luapan emosi dan tak dapat semudah itu difabrikasi. Seperti yang diucapkan mas Adoy, personil band Cozy Street Corner saat mengisi workshop Penulisan Komposisi Musik (di mana ini adalah hasil persepsi saya, bukan kutipan langsung): dalam membuat lagu, tuangkan apa yang benar-benar ingin kita sampaikan, sehingga pemilihan nada, irama dan lirik didorong oleh perasaan yang kita rasakan dan apa yang ingin kita sampaikan... jika kita mau membuat sesuatu yang sebenarnya tak ingin kita sampaikan, sebaiknya jangan.

Lalu, bagaimana cara agar kita bisa membuat lirik lagu yang sesuai dengan selera, gaya hidup dan pandangan masyarakat tanpa membuatnya menjadi sebuah fabrikasi tanpa sokongan emosi? Mungkin jawaban saya bisa menjawabnya: berbaurlah dengan masyarakat, lihat apa yang mereka lihat, sehingga apa yang mereka rasakan menjadi apa yang kita rasakan. Lalu buatlah lirik lagu dari apa yang kini telah menjadi perasaan bersama tersebut.

Tapi, mari kembali ke sebuah fakta penting, saya bukanlah seorang artis, hehe...

Nb: tapi lirik bukan variabel-mandiri yang menjadi satu-satunya penentu lakunya sebuah lagu atau tidak. Masih ada variabel lain seperti teknik dan packaging. Selain itu, tidaklah mudah membuat sebuah lirik yang disukai oleh SEMUA orang yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu ada yang namanya pemangsaan pasar (bukannya memangsa manusia yang ada di pasar, tapi memilah-milah pasar sesuai dengan pangsa-pangsa tertentu).

- dibuat di bawah siraman yang bertubi-tubi, dari speaker yang dipasang sedikit terlalu keras, lagu Melky Goeslaw yang sangat tidak sesuai dengan gaya hidup saya. (Dion)

Semenjak menemukan fakta bahwa mie instan bisa membuat ‘goblok’ (dengan rata-rata konsumsi mie instan saya 3-4 kali seminggu dengan kebiasaan menghabiskan 2 bungkus sekali makan; karena 1 bungkus mie instan dapat dihabiskan dengan 3-4 kali mendekatkan garpu ke piring), saya menjadi orang yang cukup memperhatikan makanan yang masuk ke dalam mulut saya. Dari awalnya didorong oleh paranoia, kebiasaan memperhatikan kandungan makanan yang saya konsumsi menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Karena saya jadi benar-benar dapat merasakan manfaat dari segala nutrisi yang ada di dalam makanan yang saya makan –tentu dengan sedikit bantuan sugesti, wishful thinking dan self-fulfilling prophecy. Saya dapat berbicara panjang lebar tentang makanan; yang membuat date saya selalu berantakan kalau saya mengajak seorang perempuan ke tempat makan. Tapi, karena forum ini adalah tempat yang tepat, mungkin apa yang akan saya jabarkan tidak akan berakhir pada kebosanan pihak yang saya ‘ceramahi’ (anda), tetapi dapat menjadi masukan informasi yang penting. Ini adalah beberapa hasil temuan saya mengenai manfaat dari beberapa jenis makanan.

Es krim dapat menimbulkan perasaan tentram (comfort). Ini adalah temuan Brian Wansink Ph.D., peneliti ilmu marketing dari Illinois University. Temuan ini tidak memiliki dasar biologis. Melalui penelitian pada 1605 pria dan wanita di AS, es krim adalah jawaban yang paling banyak keluar dari pertanyaan “makanan apa yang menurut anda memberikan perasaan nyaman/tentram pada diri anda?”. Wansink menyatakan bahwa perasaan tersebut timbul karena es krim membangkitkan kembali kenangan seseorang tentang masa kecilnya (ingat adegan kalahnya kekejaman Anton Ego di film Ratatouille?). Wansink juga menyatakan bahwa makanan juga berhubungan dengan kepribadian seseorang. Maka, pria lebih suka makan, misalnya, steak karena makanan yang bentuknya daging yang untuk memakannya perlu dicacah-cacah tersebut berkaitan dengan gambaran tradisional mengenai ke-macho-an. Sedangkan wanita lebih suka makanan yang lembut dan manis (contoh, --what else?— coklat) karena mereka mengidentifikasikan kelembutan dan kemanisan dengan diri mereka (yang mana sama sekali bukanlah tidak tepat). Jadi, walau tak ada dasar biologisnya, pengetahuan ini boleh, lah dipakai dalam strategi date anda (ajak pasangan anda untuk makan makanan yang sesuai dengan kepribadiannya untuk menyenangkannya), hehe...

Berpaling ke penelitian yang “memiliki dasar biologis”, saat ini telah ditemukan bahwa blueberry memiliki banyak manfaat, diantaranya mencegah kanker dan penyakit jantung. Kuncinya terdapat dalam kandungan yang bernama phytonutrients, zat yang memberi warna gelap pada blueberry. Pada blueberry, phytonutrients yang terkandung bernama anthocyanin yang berperan sebagai anti-oksidan. Proses penuaan, polusi dan kegiatan kita sehari-hari membuat menumpuknya oksidan (radikal bebas yang akan menempel dengan sel dan merusak membran serta materi genetis sel) dalam tubuh yang bisa menyebabkan kanker atau penyakit lain yang berhubungan dengan ketuaan. Phytonutrient mencegah hal ini dengan cara mengorbankan diri sehingga oksidan tidak menempel pada sel, tapi pada dirinya yang kemudian akan ikut terbuang bersama kotoran tubuh; sehingga kanker dan penyakit yang berhubungan dengan ketuaan dapat dicegah. Oksidan juga dapat menyerang sel syaraf dan anti oksidan phytonutrient anthocyanin juga mengatasi masalah ini.

Manfaat lain blueberry adalah meningkatkan kapasitas ingatan jangka pendek (short term memory yang kita perlukan untuk memastikan hafalan tetap ada di otak sembari menunggu dimasukkan ke gudang ingatan yang lebih permanen), kemampuan mempelajari ruang (spatial learning yang anda butuhkan saat menghafal jalan), serta meningkatkan kemampuan motorik. Belum selesai sampai di situ, blueberry juga mengandung unsur kimia mangan yang merupakan anti peradangan. Bebas radang juga menyebabkan lancarnya aliran darah, yang akan menjaga asupan energi untuk fungsi mental (mengingat, memecahkan masalah dan lain-lain), menjaga mood tetap senang serta mencegah pengerasan dinding arteri (sehingga mencegah penyakit jantung). Berkaitan dengan penyakit jantung, buah blueberry juga menjaga zat nitrit oksida yang membuat dinding arteri tetap relax (dimana kondisi ini juga mencegah penyakit jantung).

Temuan mengenai manfaat blueberry ini dipersembahkan oleh James Joseph dari Tufts University dan Dorothea J. Klimis dari Maine University, keduanya ilmuan nutrisi. Sebenarnya, penelitian ini memiliki obyek selain blueberry, yaitu buah-buahan dan sayuran lain. Tapi, kadar anti oksidan blueberry memang paling tinggi. Sehingga, jika anda tidak dapat menemukan blueberry, anda bisa mendapatkan manfaat anti oksidan dari buah dan sayur lain. Sedikit informasi tambahan, blueberry yang kecil dan tumbuh liar rupanya lebih baik daripada blueberry yang besar-besar (yang sengaja ditanam) karena kadar nutrisinya lebih padat. Memang ditemukan bahwa buah yang kecil sebenarnya mengandung lebih banyak kadar nutrisi. Karena, buah berbentuk kecil karena telah melewati kehidupan yang sulit, sehingga ia memasok lebih banyak nutrisi agar keselamatannya lebih terjamin (kandungan nutrisi yang lebih banyak karena kondisi hidup yang penuh stress juga ditemukan dalam banyak buah –sehingga besar belum berarti baik—dan tanaman lain –misal, teh hijau dan coklat hitam lebih baik daripada teh dan coklat biasa yang hidupnya “senang”).

Gandum whole grain, brokoli, kacang, tiram, bayam dan makanan yang kaya magnesium lain menurunkan tekanan darah sehingga mencegah stroke, khususnya pada perokok.

Kentang, roti dan makanan berkarbohidrat tapi rendah lemak lain (nasi, jagung, singkong dan lain-lain) adalah kunci agar belajar anda dapat optimal. Rahasianya terdapat pada glukosa yang dikandung bahan-bahan makanan pokok di atas. Glukosa adalah bahan bakar dari otak, dan ditemukan bahwa kegiatan belajar menurunkan kadar glukosa di otak. Dengan mengasup kembali otak yang kurang bahan bakar, kita akan dapat kembali belajar dengan optimal (kekurangan glukosa menyebabkan turunnya kemampuan otak dalam mengingat materi pelajaran serta membuat perhatian kita mudah terpecah). Sedikit tambahan, jika anda dapat memilih diantara makanan pokok diatas, ada baiknya anda memilih kentang, karena penelitian terakhir menemukan bahwa kentang juga mengandung vitamin C, vitamin B6, vitamin B9 dan anti-oksidan asam folic.

Paul Gold Ph.D. dan Donna Korol Ph.D. dari Bringhamton University dan Carol Manning Ph.D. dari University of Virginia adalah mereka yang menyumbangkan pengetahuan di atas. Tapi, sampai saat ini dosis glukosa yang tepat belum ditemukan, karena glukosa yang terlalu banyak justru mengurangi kerja otak. Sehingga, kalau makan, jangan berlebihan! Hal ini juga mematahkan pendapat bahwa coklat baik untuk meningkatkan kemampuan belajar. Secara prinsip sudah tepat, tetapi dosis glukosa dalam coklat yang terlalu banyak, seperti yang telah disebutkan, akan menghambat kerja otak (ditambah kandungan lemak dalam coklat ikut menghambat kerja glukosa).

Selain itu, ada berita buruk lain bagi coklat. Setelah fungsinya untuk menambah ketahanan belajar dipatahkan, fungsi coklat untuk menyehatkan pembuluh darah (sehingga aliran darah menjadi lancar sehingga menyehatkan jantung) juga mulai diserang. Pasalnya, kandungan lemak, gula dan kalori yang terdapat di dalam coklat juga ternyata tidak baik untuk kesehatan. Selain itu, zat yang menyehatkan pembuluh darah tersebut (flavanoid) ternyata hanya ditemukan di coklat hitam. Coklat putih dan coklat susu (milk chocolate) ternyata tidak mengandung flavanoid. Sedihnya lagi, bahkan dalam pembuatan coklat hitam, flavanoid sering kali hilang terbuang atau sengaja dibuang oleh produsen karena rasanya pahit (atau yang lebih jahat lagi, ternyata ada coklat hitam palsu yang sebenarnya adalah coklat biasa yang dengan proses pemasakan dibuat sehingga warnanya lebih hitam). Tapi, kembali ke temuan pertama dari tulisan ini, kalau anda memberikan coklat untuk menyenangkan wanita pujaan anda –karena coklat sesuai dengan kepribadian wanita—, maka strategi tersebut sah-sah saja, hahaha... (Dion)

Mendapatkan informasi mengenai dari mana asal suatu bunyi melalui indra pendengaran adalah hal yang sehari-hari kita lakukan tanpa disadari. Saat mengemudi mobil, apabila ada orang yang membunyikan klakson di belakang kita, otomatis kita akan menengok ke kaca spion. Bila tiba-tiba teman kita memanggil dari arah sebelah kanan kita, sudah menjadi refleks bahwa kita akan serta merta menengok ke kanan. Perlu diketahui, ternyata fungsi indra pendengaran kita tidak hanya memberitahu kita mengenai lokasi dari asal bunyi tersebut berasal.
Cobalah untuk memejamkan mata, kenakan earphone pada kedua telinga anda, dan seketika anda akan berada di tempat yang belum pernah anda kunjungi.


Indra pendengaran kita telah membawa kita mencukur rambut kita.

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)