Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Beberapa hari yang lalu, di acara Empat Mata, mempunyai tema 'Ayahku Pahlawanku' (begitulah kira-kira). Diantara bintang tamu, Empat Mata menampilkan seorang perempuan "bertopeng" laki-laki. Ia bernama Bella.
Bella merasa dirinya perempuan. Setelah melalui proses ala Siti Nurbaya, ia dinikahkan dengan seorang perempuan. Yang membuat cerita ini menarik, si istrinya tahu bahwa ia waria! Bagaimana bisa? Kemudian istrinya meninggal karena menderita kanker rahim. Ketika ditanya apakah ia mencintai istrinya, secara tidak langsung ia menjawab ia tidak cinta karena ia adalah perempuan.
Bella mempunyai seorang anak laki-laki, yang menurut saya hebat. Saya membayangkan beban rasa malu yang ia harus ditanggungnya. Tapi ketika ditanya apakah ia malu, anak itu menjawab tidak. Kita tidak bisa naif. Mungkin pada mulanya anak itu tidak merasa malu, tapi lama kelamaan rasa malu bisa tumbuh akibat ejekan atau hinaan dari teman-temannya. Semoga tidak terjadi.
Yang pasti, Bella benar-benar merasa dirinya perempuan. Sedari dulu ia perempuan, namun pakaian perempuan baru dikenakan beberapa tahun ke belakangan ini.
Apakah Bella seorang homoseksual? Ya. Bagi orang lain, ia laki-laki dan menyukai sesama jenis. Tapi bisa juga tidak. Baginya ia perempuan dan menyukai lawan jenis. Ia menghayati dirinya sebagai perempuan, memaknai dirinya perempuan, hanya saja ia di dalam tubuh laki-laki.
Tubuh bukan semata-mata fisiologis, antara vagina dan penis. Tapi bagaimana tubuh kita menghayati tubuh kita, mempunyai makna bagi kita, dan memberi makna pada dunia. Melalui tubuh, seseorang mengekspresikan dirinya. Bisa dari tingkahnya yang kemayu, centil, lincah, ulet, dilihat dari cara berjalan - ia seolah-olah ingin memberi tahu bahwa ada perempuan di dalam dirinya. Bahkan ketika duduk, ia menopang kakinya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
Tubuh menjadi pusat dirinya berhubungan dengan dunia. Tubuh menunjukkan bahwa dirinya mengada pada dunia. Semua fungsi dari badan seperti bergerak, mengamati, memakai alat seksualitas, adalah suatu cara mengada. Bahwa riwayat seksual seseorang ialah kunci untuk pengertian hidupnya. Ia adalah perempuan, berhubungan dengan laki-laki, dan itulah arti hidupnya.
Tentu saja ini bersifat subjektif. Untuk masuk ke dunia subjektif manusia, orang lain harus melepaskan nilai-nilai yang dianutnya. Bagi saya, ini bukan pekerjaan mudah, karena orang lain pasti sudah melalukan judgement tanpa mencoba tahu dan merasakan bagaimana rasanya menjadi Bella, bagaimana kebingungan yang ia rasakan antara keinginan yang ada di dalam dirinya sementara norma-norma masyarakat menyisihkannya, atau bagaimana bebannya berpura-pura menjadi orang yang tidak ia inginkan.

1 komentar

  1. Anonim  

    Barangkali "Kisah Nyata" berikut berguna bagi rekan rekan -->> Kisah Nyata ?

Posting Komentar

User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)