Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang memberikan rasa aman dan nyaman ketika keberadaan dirinya berada ditengah-tengah anda. Dimana dengan berada dekat dengannya kita juga merasakan ketertarikan, kalau dirasa-rasa hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian kita, walaupun mungkin secara rasional ada banyak orang lain lebih dari dirinya entah itu lebih cantik, lebih ganteng, lebih wangi dan lebih bersih??? Atau mungkin anda adalah seseorang yang cenderung digemari oleh lawan jenis anda secara berlebihan, misalkan di “tembak” berkali-kali, atau memiliki pemuja tetap padahal anda tahu bahwa anda bukanlah artis, rockstar, model ataupun pemain sinetron, tapi banyak orang-orang yang tergila-gila terhadap anda setelah mengenal anda...???

Kepribadian yang menarik serta sikap baik hati yang dilandasi ketulusan terhadap orang lain pastilah disukai oleh setiap orang, ramah tamah, tata krama yang nampak dan juga perhatian khas serta kharisma yang dihasilkan oleh individu merupakan daya tarik yang ampuh bagi individu dalam menghadapi lingkungan sosial dan juga dalam hal pencarian pasangan. Namun adakah hal lain yang menyebabkan seseorang tertarik terhadap orang lain...???

Pheromone adalah jawabannya, zat Pheromone yang berasal dari dalam tubuh, dihasilkan secara alamiah dan ditujukan kepada spesies yang sama, ya, zat pemikat alami, begitulah tanggapan yang melekat pada zat yang satu ini. Pheromone merupakan senyawa kimia alami yang ditemukan pada setiap serangga, hewan dan manusia. Secara alami zat ini memang dihasilkan oleh tubuh, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Pada manusia konsentrasi pheromone paling tinggi di temukan di daerah bawah pinggang dan juga daerah ketiak, bercampur bersama keringat dan distribusikan oleh udara kepada orang-orang disekitar anda, yang dengan kata lain pheromone terletak pada bau badan alami manusia (odor). Ketika pheromone tersebar diudara dan terhirup oleh lawan jenis maka akan mempengaruhi perilaku seksual dan juga menarik perhatian lawan jenis. Oleh karena itu ketika kita berada disekitar orang yang memiliki konsentrasi pheromone yang tinggi maka Vomeronasal Organ (VNO), merupakan perangkat alami manusia untuk mendeteksi pheromone, yang terletak pada belakang lubang hidung, akan mendeteksi dan memberikan rangsangan kepada otak untuk terpikat atau tertarik kepada si penghasil pheromone.

Pheromone diperkenalkan pertama kali oleh Peter Karlson dan Martin Lüscher pada tahun 1959 dalam penelitiannya mengenai zat kimia alami yang dihasilkan oleh ulat sutra betina dalam menarik perhatian dan simpati lawan jenisnya. Dari titik awal ini maka para ilmuwan mencari apakah ada penggunaan pheromone dalam interaksi sosial manusia, didapati manusia juga memiliki odor natural yang berfungsi sama. Dalam suatu studi terhadap manusia menunjukkan bahwa individu dapat mengasosiasikan isyarat bau badan dengan sistem imun yang berguna untuk memilih pasangan yang tidak memiliki hubungan dekat dengan dirinya. Dengan menggunakan teknik pencitraan otak, pelaku riset asal Swedia menunjukkan bahwa otak pada pria homoseksual dan pria heteroseksual memberikan respon yang berbeda terhadap dua jenis bau badan yang disamarkan dalam membangkitkan aktifitas seksual, dan pada pria homoseksual itu menunjukkan respon yang sama dengan wanita heteroseksual. Studi diperluas dengan menyertakan wanita homoseksual dan hasilnya sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya, wanita homoseksual tidak memberikan respon terhadap bau badan pria, melainkan respon mereka terhadap bau badan wanita serupa dengan pria heteroseksual.

Dari hasil penelitian yang dikembangkan maka dengan mengandalkan kepandaiannya, manusia kini mampu menghadirkan pheromone kedalam bentuk wewangian atau perfume dengan membubuhinya dengan pheromone sintetis yang terbuat dari olahan bahan kimia. Dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan menjadikan setiap pemakainnya seorang yang memiliki daya tarik yang tinggi. Mungkin cinta bukan berasal dari pandangan pertama tetapi dari hendusan bau badan pertama. 

Sumber:
http://www.sciencedaily.com/releases/2003/03/030317074228.htm
http://www.webmd.com/balance/news/20030319/mens-sweat-may-soothe-womans-soul
http://cas.bellarmine.edu/tietjen/Human%20Nature%20S%201999/what_are_pheromones.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Pheromone

Odllirama

iseng-iseng ikut demo! tapi bukan ama mahasiswa melainkan ama tukang ojek dan temen2 SMA! walhasil, kami mendapat banyak makanan karena meniru orang-orang rendahan yang melakukan penjarahan!
mulai dari tukang ngobat garuk2 bekas-bekas nyipe' gak keruan ampe ke preman terminal..
mulai dari anak mami berseragam SMA, ampe bapak-bapak berseragam SMA (kagak lulus-lulus)
mulai dari timer, tukang parkir, ampe supir angkot,
mulai dari pecundang jalanan masa depan gak jelas ampe satu keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang sudah remaja..
sibuk menjarah!

dan semua gue saksikan habis termakan lalapan api Supermarket Yogya di Klender, Jakarta Timur.

Indonesia berdarah!
Indonesia yang biadab!

tapi apalah arti Indonesia pada pikiran segerombolan anak-anak SMA yang kurang kerjaan..??
setau kami sekolah diliburkan..
setau kami jakarta kerusuhan..
setau kami, ada penjarahan..
dan karena sekolah dihentikan pukul 10 WIB, kami punya kesempatan keliling2 jakarta timur melihat kesibukan rakyat..
entah sebuah pesta, entah sebuah perayaan..
entah fenomena kesurupan kolektif, atau sekedar reaksi balik..
buat kami yang kenyang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKN serta Penataran P4,
buat kami yang kenyang pendidikan agama dan rohani sejak SD sampai SMA,
Kejadian itu sama sekali tidak kami lihat dari sudut pandang moral mengenai salah dan benar!

Hampir setahun kemudian gue lulus, namun GAGAL UMPTN!
Masuk salah satu Universitas Swasta di Depok waktu itu hanya formalitas..
sekadar sebuah status supaya dibilang pemuda terdidik..
pemuda terpelajar..
MAHASISWA!
ngerasain yang namanya OSPEK
percayalah ketika gue ngomong bahwa: OSPEK--PSAU disini sama sekali gak manusiawi..
sama sekali gak menunjukkan wajah akademisi, perilaku terdidik..
dan kesan-kesan sains pun berganti dengan warna-warna permabokan, pemalakan dan lain sebagainya.
entah gimana caranya gue survive.
punya muke nyolot ternyata ada gak enaknya juga! heheh..

pelan tapi pasti, gue males ngapa-ngapain!
males kuliah..
gue dah tau seluk beluk perjudian dan permabokan ini kampus dan dah mulai bosen!
3 bulan duduk di bangku kuliah gue cabut!
uang kuliah gak gue bayar, tapi gue gunakan untuk macem-macem yang gak beres..
walau 1/10-nya gue gunakan juga untuk daptar bimbel..
namun itu juga cuman sekedar menghilangkan rasa bersalah dalam hati..
yah sedikit-sedikit gue masih bisa ngerasa sesuatu lah!

gantian gue berada di posisi mereka yang biasa disebut 'wong cilik' itu..
nganggur gak ada kerjaan, jadi timer, tukang parkir dan lain sebagainya!
apapun lah.. yang jelas gue bilang ke rumah bahwa gue kuliah,
dan setelah ketahuan bahwa gue dah gak kuliah, gue bilang bahwa gue bimbel!

bla bla bla... and so on.. and so on..
intinya melalui keberuntungan, entah kenapa gue lulus UMPTN!

gak ding.. gue bo'ong..
gue tau kenapa gue lulus, dan apa penghayatan gue waktu itu..
tapi kalo gue tulis disini, jatoh2nya jadi curhat colongan!


Maksud gue adalah bahwa informasi di atas sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran bagaimana mahasiswa UI kemudian dipandang dari kacamata gue yang ngalamin keseharian sedemikian rupa dan mempunyai nilai-nilai sedemikian rupa!
semacam stereotype terhadap kutu buku mengenai sekumpulan anak mami berkacamata yang taunya cuman baca, tulis, ujian bagus dan lain sebagainya.
sebuah stereotype yang gue punyain..
gue yang ngerasa kaya udah jagoan!
gue yang ngerasa above anything else!

Psikologi Universitas Indonesia.
for your information, gue tertarik masuk sini gara-gara guru Bimbel gue..
bernama Sintong, guru senior, seorang yang sepertinya bisa memahami jalan pikir gue, jago memotivasi, jago menghibur!
tapi diantara semua yang dia ajarkan kepada gue, dia jago membuat gue diem!
dia jago bikin gue ato mancing gue untuk mikir!
sepertinya bukan gue aja, tapi anak-anak muda lain respek sama dia..
dia jago memperlakukan orang lain, membuat lawan bicaranya merasa dihargai sekaligus mempraktekan wibawa dan kharisma, memberi sinyal bahwa dia juga gak bisa dimacem-macemin..
melalui sebuah proses yang panjang mulai dari sebulan sebelum UMPTN ampe semester satu berakhir, gue masih sering ngobrol dan dinasehatin olehnya.

Awal-awal masuk psiko, berkenalan dengan dosen-dosen.. Hoooaaahhmmm..
kegiatan mabim, gak boleh makan di kantin, outbound..
semua menjemukan kecuali satu..
pengumuman oleh seseorang yang bertampang ramah, berkaca mata..
Diumumkan sebagai Pudek III kita..
Budi Hartono..
harus gue akui dia sangat ramah..
dan dia menyinggung sebuah topik, bahwa fakultas psikologi mempunyai kebiasaan.
satu fakultas diajak kemping, api unggunan, kambing gulingan.

Kemping? kayak apa sih? palingan gitu2 aje! pengen tau gue kaya apa anak-anak psikologi bikin kemping!"
-kata si sotoy dan si so' jago yang mulai bicara sembari dengan sombong mengenang-ngenang pengalaman kemping dan hiking yang pernah dia alamin waktu SMA!


tapi tergiur juga oleh kambingnya sih..
bahkan kambing guling adalah satu-satunya berita baik hari ini!
karena dikemudian hari gue dengar ternyata kempingnya tidak disukai..
banyak gosip bahwa hal itu merupakan ospek terselubung.
banyak senior ngomong hal-hal yang jelek tentang itu..
dan gue menemukan bentuk pertama dari apa yang namanya politik..
golongan anu dan golongan itu..
busuk-busukan..
pembedaan-pembedaan..
motif-motif..
kepentingan..
dan bahkan di kegiatan PJ--acara kebaktian jum'at yang diselenggarakan oleh POSA bagi mahasiswe protestan saat itu (gue berani bilang karena gue ikut!), gue belajar atau disarankan untuk membenci sesuatu, waspada terhadap sesuatu!
bahwa 'kaum kita' diserang..
diremehkan..
diasingkan, dilanggar hak-haknya.

ke-sotoy'an dan sok jago gue berteriak:
"halah.. mau berapa orang ngeroyok gue hayu' dah!"
dan dengan demikian gue diselamatkan oleh dua suara itu dari ancaman sesuatu yang laten! sesuatu yang berbahaya..
dan sepanjang pengetahuan gue, walau banyakan mudarat dari manfaat, pada saat itu gue ditolong oleh ke-sotoy-an dan ke-so' jagoan'yang gue punyai!


walau begitu kita gak pernah dilarang kemping sih..
kita gak pernah ditakut-takutin mengenai ospek terselubung, diprovokasi oleh isu-isu bullying yang akan dilakukan.. di cemarkan oleh isu-isu bahwa itu adalah acara hedon, maksiat dan lain sebagainya.
(kalaupun iya, gue yang waktu itu bahkan mungkin malah tertantang dan ikutan!)

seiring mabim yang aneh dan menjemukan itu, dimulailah kuliah..

Bagus Takwin adalah orang yang pertama kali ngebentak gue..
dia marah luar biasa..
gue gak tau juga mo gimana waktu itu (malu juga diliatin ama satu kelas!)
"yah kau terima sajalah.. minta maap kalo bisa!", teringat saran yang paling sering keluar dari mulut pak sintong.

saat itu song4camp.. sebuah acara unik yang dilakukan untuk menggelar pengumpulan dana PsyCamp!
beneran unik, gue takjub sama cara mereka galang dana dengan ngerangkul konsep tanatos-nya si Sigmund Freud!!

Disitulah gue diamuk untuk kedua kalinya
Alex Sihar'94 nama tuh makhluk..
dia bentak gue waktu gue perform song4camp!
rencananya mencoba mengadaptasi puisi seperti seniman-seniman di kereta api..
gue teriak, "TAPI SEMUANYA TIDAK PERDULI!!"
dia bales teriak, "APAAAAA! MEMANGNYA KNAPA??!"
gue bingung.. (perasaan kalo di kereta gak ada skenario macam gini dah..)
kesel, takut, malu, campur aduk..
sebagai maba tahun 2000, gue hanya siap ngelawan satu dua tahun di atas!
tapi kalo 'senior macan kampus' begitu mah.. mikir-mikir..
takut, terbirit-birit, tunggang langgang..
setelah cabut dan menguasai diri sebentar, dengan berkaca-kaca gue dateng ke Alex dan minta maap!

saat itu, MEMALUKAN!
tapi disini mungkin adalah titik dimana gue berkaca bahwa apa yang gue percayai mengenai apa yang gue bisa tidaklah sekokoh yang gue kira!

(kalo dipikir-pikir lagi, dipermalukan dua kali di depan umum..! bwahahahaha..)

tapi song4camp berjalan dengan lancar..
dana terkumpul..! kuliah berjalan terus.

dua hari kemudian, ketika gue beranjak pulang dengan beberapa teman keluar lapangan parkir gedung A berniat menyeberang, sebuah mobil tiba-tiba ngerem..
supir dan orang2 didalamnya bertanya: 'mo ikut nengokin edpans gak?' (belakangan gue ketahui bahwa mereka adalah kang peot, jambrong, dan mumu--alumni dan senior2 psikologi)
gue nanya, "kemana bang?"
mereka jawab, "Cijalu, Purwakarta"
gue nengok temen2 lain, menitipkan jakun dan barang2 bawaan gue dan berkata "ayok.."
disitulah gue berkenalan dengan panitia PsyCamp
berkenalan dengan gerombolan senior..
berkenalan dengan edpans..
anak-anak cowo psikologi yang kalo versi anak-anak teknik: anak-anak manja..

dan disitulah gue berkenalan dengan PsyCamp..
dengan pergaulannya sama masyarakat dusun..
perhatiannya terhadap petani dan pekebun..
persentuhannya dengan orang-orang sederhana..
interaksinya dengan orang-orang lurus..
orang-orang tanpa pretensi..
orang-orang tanpa kepentingan..
orang-orang yang tulus..
penduduk desa yang ramah..
warga dusun yang santun..
yang taunya kerja, pulang, sholat, cek giliran ronda, istirahat..
makan seadanya..
jarang ngeluh..
dan banyak bersyukur..

ck ck ck..
ternyata ini lah PsyCamp..

dan gue tertegun..

--to be continued

**********************************************************************************
"jangan pernah lupakan bahwa PsyCamp adalah mengenai masyarakat disekitarnya, sama sekali bukan hanya soal kemping!"

-longor.siha


Una Passione da sempre by Polveredifata

Premis utama dalam melakukan analisa tulisan tangan adalah mengenali tulisan sebagai hasil dari pikiran sadar dan bawah sadar manusia yang menggambarkan karakter dasar seseorang. Freud dan Jung, pilar-pilar utama psikodinamika –aliran psikologi yang mengajukan pemahaman akan kesadaran dan ketidaksadaran manusia, menyebutkan bahwa, secara tidak langsung, pikiran bawah sadar kita akan diproyeksikan ke dalam berbagai hal. Tulisan tangan yang merupakan hasil koordinasi gerak motorik halus dan pikiran merupakan salah satu bentuk proyeksi yang menarik untuk dicermati. Bisa dibilang, dengan pemahaman tersebut, analisa terhadap tulisan tangan dapat menghasilkan pemahaman yang memadai akan karakter dasar seseorang.

Selain itu, analisa tulisan tangan dikatakan mampu meramalkan vitalitas seseorang saat menulis, kondisi emosional, dan kecepatan berpikirnya. Menurut penuturan McNichol dalam sebuah artikel di Psychology Today, ada sebuah kasus di mana seorang ahli grafoanalisa dapat menganalisa penyakit jantung yang diderita kliennya berdasarkan kecenderungan si klien untuk menuliskan huruf ’H’ secara terputus. Ahli grafoanalisa tersebut beranggapan bahwa, secara tidak sadar, huruf h (untuk h = heart = jantung) menimbulkan kecemasan tersendiri bagi si klien. Dengan kata lain, fungsi analisa tulisan tangan lebih luas dari ”sekedar” melihat gambaran karakter dasar seseorang.

Dalam melakukan analisa tulisan tangan, dibutuhkan sampel ideal atas tulisan tangan kita. Biasanya, seorang ahli grafoanalisa ataupun ahli analisa tulisan tangan akan meminta sampel tulisan tangan kita di atas sehelai kertas kosong tidak bergaris. Ia kemudian akan meminta kita untuk menulis sekitar 100 kata (target minimal tulisan 10 baris). Beberapa ahli memilih bolpoin sebagai alat tulis baku dalam mendapatkan sampel, tapi ada juga yang mengunggulkan penggunaan pensil. Tulisan kita kemudian akan diamati dengan cermat untuk mengenali karakter dasar, emosi, dan perasaan kita di samping mengamati bagaimana kita menghayati hubungan interpersonal.

Misalnya, pengaturan margin tulisan yang kita lakukan dilihat sebagai bentuk proyeksi dari orientasi pandangan kita akan masa lalu dan masa yang akan datang. Tulisan yang cenderung merapat ke sisi kiri kertas merupakan ciri orang yang larut dalam masa lalu, sementara dekatnya tulisan kita ke sisi kanan kertas adalah penanda kesiapan kita menghadapi masa depan. Selain itu, tinggi rendahnya harga diri kita tergambarkan dalam bentuk, ukuran, dan penempatan huruf kapital dalam tulisan. Kemiringan tulisan pun merupakan salah satu aspek tulisan yang mendapat perhatian guna melihat pola hubungan sosial dengan orang lain (hubungan interpersonal). Apabila tulisan kita cenderung miring ke kanan (derajat kemiringan lebih dari 2˚ bila diukur dengan busur derajat), itu merupakan gambaran bahwa keinginan kita untuk dekat dengan orang lain cukup tinggi. Sebaliknya, bila tulisan kita cenderung miring ke kiri, kita termasuk orang yang secara konsisten menjaga jarak dengan orang lain.

Fungsi analisa tulisan tangan untuk mengenali karakter dasar seseorang inilah yang biasanya dikaitkan dengan psikologi. Aplikasi analisa tulisan tangan dalam psikologi memang dapat ditemukan. Ada psikolog yang menggunakan teknik analisa tulisan tangan untuk mengenali kepribadian dasar kliennya. Namun, perlu dipahami bahwa analisa tulisan tangan sendiri datang dari grafologi, yang mencermati aspek khusus tingkah laku manusia dalam bentuk coretan tangan. Posisi grafologi sendiri tidak berada dalam psikologi. Ia lebih dikenal sebagai parapsikologi. Secara umum, parapsikologi dapat diartikan ”seperti psikologi, tapi sebenarnya bukan.” Karenanya, jangan kecewa jika suatu saat Anda bertemu dengan mahasiswa atau sarjana psikologi (bahkan psikolog sekalipun) dan mereka tidak dapat memenuhi keingintahuan Anda tentang makna dibalik tulisan tangan Anda.

Bagaimana bila Anda sendiri yang mencoba untuk menyelami makna tulisan tangan Anda? (Melita Tarisa)

Catatan :

Setahu saya, di Jakarta, ada sebuah program khusus (semacam kursus) yang ditawarkan bagi Anda yang tertarik untuk mengambil sertifikasi sebagai ahli analisa tulisan tangan. Anda bisa menghubungi Aastikya Clinic (contact person : Karmen Kantaatmadja) via sms/telp. (081511661558) atau email (kkantaatmadja@yahoo.com).

.




Inside and Outside

They need each other

No black without white

No sister without brother

We have no tomorrow

Without today

Speech is not possible

Without something to say

There are no wise ones

Without the fools

The nature of life

Is expressed in the dual

-Simpkins (Tao in Ten, 2002)

Yin-Yang. Feminim-maskulin. Bumi-langit. Baik-buruk. Hitam-putih. Takdir dari hidup, diekspresikan dengan pasangan. Seperti logo yin-yang, hitam putih yang berdempet, didalam hitam terhadap lingkaran kecil putih, didalam putih terdapat lingkaran kecil hitam. Keduanya memiliki esensi berbeda, namun keduanya berbagi esensi yang sama.

Begitu juga dalam keutuhan seorang manusia. Terdapat ketidaksadaran dan kesadaran. Seorang wanita memiliki ketidaksadaran pria (yang dinamakan animus), dan seorang pria memiliki ketidaksadaran wanita (yang dinamakan anima). Setiap orang yang memiliki kekurangan, pasti memiliki kelebihan lain. Setiap topeng pasti memiliki wajah asli (yang mungkin saja bertolak belakang).

Kesadaran akan adanya ketidaksadaran akan membawa kita kepada ’hidup’. Seperti pepatah mengatakan, ’kita tidak akan menghargai tawa, jika tidak ada tangis’, begitu pula diri manusia, tidaklah lengkap tanpa kesadaran akan adanya ’sisi lain’ yaitu ketidaksadaran manusia.

Ketidaksadaran ini bisa dibawa ke kesadaran dengan beberapa cara, misalnya menganalisa mimpi dan mencari arti melalui mitos.

Oleh: Lora


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Sejauh manakah psikologi mempelajari tingkah laku manusia? Sejauh-jauhnya selama topik yang dibicarakan berhubungan dengan manusia! Bukan saja yang kelihatan, melainkan juga yang tidak kelihatan, yang sering dikenal dengan ’ketidaksadaran’. Ketidaksadaran lebih banyak dibicarakan dalam aliran psikoanalisis.

Freud menganalogikan ketidaksadaran sebagai sebuah gunung es. Puncak gunung es yang dapat kita lihat (kesadaran manusia) sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan gunung es yang tidak terlihat dibawah permukaan air (ketidaksadaran manusia). Ingatlah peristiwa Titanic yang menabrak gunung es, sebetulnya kapal tersebut telah berhasil mengelak dari gunung es yang terlihat, namun bagian bawah kapal ternyata menabrak bongkahan es besar yang tidak terlihat dibawah permukaan air. Begitulah alam ketidaksadaran manusia, unseen, unconscious but big yet powerful.

Now the question will be à how powerful is our unconsciousness? Well, at least it is powerful enough to make you do things you actually do not want to do (refer to Insting Kematian Manusia), powerful enough to manipulate our mind of hating self to hating others (refer to The Shadow), powerful enough to hide our True SELF from us.

Ketidaksadaran adalah kekuatan yang besar dalam diri kita. Kebanyakan didalamnya adalah hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang kita benci, hal-hal tidak menyenangkan yang direpresi, dilupakan. Namun dilain pihak ketidaksadaran juga menyimpan suatu harta karun yang jika ditemukan dapat mengantarkan manusia kepada ’pencerahan’ hidup ketika seorang manusia semakin mendekati Self (dengan kapital S) dan dapat menyeimbangkan conscious-unconscious. Untuk itu, seorang manusia harus mengenali dirinya terlebih dahulu.

Menurut Jung, manusia memiliki collective unconsciousness yaitu sebuah ketidaksadaran kolektif, sebuah ingatan masa lalu yang terbawa sejak kita lahir. Ingatan-ingatan itu berisi primordial image (gambaran2 jadul) yang dinamakan archetype. Sebelum melanjutkan tulisan ini, kita harus mengerti konsep archetype terlebih dahulu. Archetype adalah tema-tema yang ada didalam kehidupan manusia. Tema ini mungkin bisa disejajarkan dengan ide Plato mengenai dunia ide. Archetype bisa berupa The Hero, Mother, The Wise Old Man, Anima, ataupun The Shadow.

Jung menyadari ketidaksadarannya berisi archetype ketika pada suatu hari ia sedang mengalami kegundahan didalam hati, ia merenung dan didalam renungannya ada seorang bijak yang memberikan nasihat kepada dirinya, ia menamakan orang tersebut Filemon. Ia merasa Filemon bukanlah dirinya, walaupun jelas sekali bahwa Filemon memberikan nasihat melalui dirinya didalam kesadaran maupun ketidaksadarannya. Kemudian Jung menyadari bahwa orang-tua-yang-bijak ini adalah ingatan kolektif dirinya (ketidaksadaran archetype) mengenai sebuah tema The Wise Old Man. Mungkin kita juga menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dulu ketika saya mengalami stress yang cukup mendalam, mencoba mencurahkan isi hati pada seorang pecandu berpendidikan rendah, and what a surprise, she could gave me the best answer I could ever thought that time! Dalam peristiwa ini, teman saya itu mengeluarkan tema Wise Old Man dari ketidaksadarannya. Sampai-sampai ia berkata, ’ga nyangka juga bisa keluar dari mulut orang yang suka ineks haha.’

We all have those qualities! Suatu kualitas keseimbangan. Seandainya saja kita mencoba untuk lebih aware akan keberadaannya, kita bisa menemukan harta dalam diri. Persona vs Shadow (’kebaikan’ vs ’keburukan’). Anima vs Animus (feminin vs maskulin).

Ternyata keseimbangan ini juga ditemukan didalam literatur dan cerita-cerita masa lalu. Misalnya saja konsep utama dalam Tao yang menggambarkan keseimbangan, Yin Yang. Atau cerita Mahabarata yang mengisahkan pertempuran kebaikan dan kejahatan yang tak pernah berakhir. Begitu pula lah manusia. Mencoba mengerti ketidaksadarannya sebagai salah satu cara menyeimbangkan hidup. Mengenal dan mengerti adanya ‘the opposite’ dari setiap sisi, menjadikan seseorang lebih menghargai kehidupannya. ^^ Sederhananya, ’kita tidak akan pernah menghargai hadirnya seseorang dalam hidup ini jika kita belum pernah merasakan perpisahan’. Kita tidak akan mengenal diri secara utuh jika kita tidak mengenali ketidaksadaran kita.

“We all have the qualities of balance. Awareness of both sides can deliver us to what is called The True Self. Sharpen your consciousness and travel to the unlimited world of YourSelf, OurSelf – for we share the same heritance!”

Oleh: Lora dari berbagai sumber


Believe in God is like believing the lame government.

They both have the 'authority' to make us 'obey', but what they do? Is it worth our faith?

Let's say I do believe in Harvey Dent :p But in fact --in the end-- he could not fulfill his promise, he even be the criminal himself!

Many would say, it is different with God. He is EXTRA. His good beyond our thinking. He brings the most justice, that there will be no imbalance. But what we see? Evil, illness, suffer, catastrophe, bad parents, war in the name of religion, terrorist, disable-person, hunger, tears.

We see the TRUTH around us, when actually God, or the government, promised to care (pasal 34 UUD; and all the promises God made to love his 'children').

The politician asks us to believe that they will give the best, a 'change' for a better country, better living. God asks us to believe for the day of judgment when He gives us an eternal luxury life, peace and joy.

The truth is around. The fact is watching us (should we watch them). Gloomy world with imbalance justice!

Will you speak in the name of nationality when the 'elderly' don't even care? Will you VOTE them in the next election?

In other side, after we see lots sadness around, will you 'vote' God to be the governor in your heart?

I won't.

And for that --think long-- 'Whom should I vote for the election 2009 ya?' . Hahaha.

*The post is just my personal view (Lora)


Personality, atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepribadian, adalah suatu konsep yang mungkin sama tua-nya dengan bahasa manusia. Trait (atau sifat dalam bahasa Indonesia) memiliki 2 asumsi besar (Matthews, Deary & Whiteman, 2003) yaitu bahwa sifat itu stabil seiring dengan waktu dan yang kedua, sifat dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku.

Kita sering mempercayai sifat seseorang sebagai ’true nature’, sesuatu yang terberi. Ingatkah Anda jika menghadapi teman yang seringkali marah-marah, dan Anda mencoba berkepala dingin menghadapainya dengan menghibur diri, ”Yah maklum deh, udah dari sananya dia memang suka marah-marah.” Dalam contoh ini, sifat dilihat sebagai sesuatu yang merupakan komponen tingkah laku yang dibawa dari lahir, sama misalnya seperti belang pada harimau Sumatera. ”Sudah dari sananya”.

Namun sifat dan kepribadian ini tidak serta merta eksklusif terlihat dalam tingkah laku manusia saja loh, hewan pun memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Sebelumnya saya pernah mendengar dari ’Kelompok Pecinta Binatang’(yang ini saya baca dari Forum Jual Beli Fauna di Kaskus),

”Jangan mengadopsi anjing karena lucu-nya saja, ingat bahwa anjing juga memiliki kepribadian masing-masing yang harus dikenali. Jangan sampai kita mencintai anjing ketika puppy karena lucu, kemudian mengabaikan mereka ketika mereka dewasa hanya karena kepribadiannya yang ’buruk’”.

Saya tidak pernah bisa mengerti kalimat tersebut sampai kesempatan kemarin saya memelihara beberapa kelinci. Selama ini total 6 kelinci yang telah saya pelihara (saat ini tinggal dua). Kelinci pertama saya bernama Poo, seekor kelinci Australia berwarna hitam. Ia sangat pintar, dalam dua hari ia sudah bisa litter dropping (pup dan pee pada tempatnya) dengan baik, jika dipanggil dari berbagai arah ia akan mendatangi kita (ia sudah dapat mengenali namanya sendiri), bahkan ia sengaja merendahkan kepalanya meminta untuk dielus, Poo adalah seekor kelinci yang suka disayang dan digendong, ia tidak pernah menolak. Sayangnya ia tidak bertahan lama. Poo meninggal dalam perjuangannya menghadapi penyakit diare yang ia derita.

Berdasarkan pengalaman memelihara Poo, saya pikir semua kelinci sama pintar dan baik seperti dia, namun betapa kecewanya saya ketika saya memelihara Embot Oren, Embot Coklat, Embot Putih, dan KoalaLa Bobotai sekarang ini. Mereka semua sangat bertentangan dengan Poo. Embot Oren tidak mendatangi ketika dipanggil, Embot Coklat sama sekali tidak suka digendong/disayang, KoalaLa Bobotai yang pup dan pee dimana-mana sampai badannya bau banget(sehingga namana Bobotai, Bau Bau Tai haha), dan embot putih yang akan saya ceritakan berikut.

Embot Putih adalah kelinci yang paling lama saya pelihara, sehingga saya paling mengenal dirinya. Dia adalah kelinci PALING BERSIH yang pernah saya temui, selalu membersihkan badannya, sama sekali tidak berbau, menolak makanan yang bau, litter dropping pada tempatnya, bahkan terkadang ia tercium wangi (dalam artian bukannya bau tak sedap, Embot Putih malah memiliki bau badannya sendiri yang bisa dibilang untuk ukuran binatang, wangi)!! Kasihan sekali dirinya harus share kandang dengan KoalaLa Bobotai yang sangat bau pesing, dan jorok. Embot putih jarang mau diganggu kalau lagi beraktifitas (lari2, dsb), namun jika ia sedang istirahat/tiduran kita bisa mengelus, menggendong, bahkan bisa meniduri dia saking miripnya dengan bantal karena gepeng dan berbulu haha. How cute.
When we admit to adopt animal, we have to accept them and say ’I love you just the way you are’. ^^ Walaupun sering kesal karena Bobotai bau, saking baunya sampai mengira dia adalah kukang yang menyamar jadi bunny haha, tapi tetap saja ‘I love her just the way she is’.

Sama seperti manusia, hewan juga memiliki sifat dan kepribadian. Baik yang (selama ini menurut pandangan sosial) ’baik’, maupun ’buruk’. Pada dasarnya mereka adalah makhluk hidup yang juga ingin dicinta apapun tingkah laku yang muncul dari dirinya.

Pengenalan akan sifat dan kepribadian binatang bisa membuat kita lebih menghargai makhluk hidup (human/non-human). Berbeda binatang dan sifatnya, berbeda pula cara kita menghadapi dirinya. Sehingga kita bisa menerima dan mencintai makhluk lain, bukan karena atribut yang menempel dan sementara (sekedar lucu, timbal balik, jelek, atau apapun) tapi lebih jauh lagi karena melihat mereka sebagai pribadi yang utuh.


“We share the same earth. We breathe the same air. Respect and love is the key to keep the balance among beings.”


[Poto kelinci berdasarkan urutan muncul: Embot Coklat, Embot Oren, Embot Putih, dan KoalaLa BoboTai (yang paling lucu dan paling bau hehe) ^^]


Oleh: Lora


Sumber:

Matthews, G., Deary, I.J., Whiteman, M.c. (2003). Personality Traits 2nd Edition. Electronic: Cambridge University Press




User Tracking Widget

usability studies by userfly

Psi! Goblog

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags

^Lora^ (15) abu ghraib (1) anak (1) analisa (2) analitis (1) asal mula (1) Atheist (1) bahagia (2) bedah film (2) belajar (1) Binatang (1) budaya populer (1) bunuh diri (1) calling (1) career (1) carl rogers (1) cinta (1) Dalai Lama (1) daniel h. pink (1) dewasa (1) ebook (1) edukasi (1) eksistensial (2) eksperimen (3) ekspresi (1) empati (2) erotomania (1) etiologi (1) filosofi (2) Freud (3) ganteng (1) gardner (1) Gay (4) Gender (1) grand indonesia (1) graphologi (1) Green Psychology (1) grimace project (1) hamil (1) happiness (1) heroism (1) hidup (1) homoseksual (4) hubungan romantis (1) identifying (1) indonesia (1) industri dan organisasi (1) insting (1) jerawat (1) job (1) Jung (1) Juno (1) kamar (1) karir (4) Kebahagiaan (3) kelompok (1) Kematian (1) kepahlawanan (1) kepercayaan diri (1) Kepribadian (5) kesetiaan (1) Khrisnamusti (1) kognitif (5) komitmen (1) konformitas (1) Krisis identitas (1) Kung fu Panda (1) listen to yourself (3) lucifer effect (1) makanan (3) meja kerja (1) mind reading (2) Mitos (1) Music dum-dedumtumtum (1) nasionalisme (1) orang tua (1) orgasme (1) otak kanan (1) otak kiri (1) pacaran (1) panggilan (1) Peace (2) pekerjaan (4) pembunuh berantai (1) pemilu (1) pendidikan seks (3) perempuan (1) perkembangan teknologi (1) pheromone (1) Philip Zimbardo (1) poligami (1) Prejudice (1) presiden (1) profil (1) proses (1) Psikoanalisis (4) psikologi (24) psikologi lingkungan (1) psikologi pendidikan (1) psikologi seksual (1) psikologi transpersonal (1) psikopat (4) psikopatologis (3) psikosis (3) psycamp (1) Realita (1) remaja (3) review buku (2) review film (2) revolusi (1) sejarah (1) seks (2) self-help (1) selligman (1) sintesa (1) sintesis (1) Sosial (4) sosiopat (2) spiritual (3) stalking (1) stereotipe (1) steve jobs (1) stres (1) subjective well-being (1) Tao (2) teknologi (1) Tidur siang (1) tinggi (1) Tips (1) totlol (1) tulisan (1) video (1) vygotsky (1) wajah (1) wanita (1)